1
Sejarah Islam Serba-serbi Ramadhan

Asal Mula Sejarah Idul Fitri Dan Tradisinya

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr
Advertisements
webinar umroh.com

Umroh.com – Berakhirnya Ramadhan membawa kemenangan baru. Kehadiran Hari Fitri menjadi awal keberkahan bagi fitrah kaum muslim. Hari raya idul fitri adalah hari raya yang Allah SWT syariatkan untuk umat Islam agar mereka bergembira dengan limpahan nikmat dan ampunan Allah SWT setelah mereka menjalankan shaum Ramadhan dan qiyam (sholat tarawih dan witir) selama sebulan penuh. Pada hari raya ini Allah SWT mensyariatkan sholat idul fitri. Dibalik anjuran yang Allah perintahkan, ada sejarah Idul Fitri harus kita ketahui.

Sejarah Idul Fitri

Tahun ke-2 Hijriah, puasa Ramadhan untuk pertama kalinya dijalani umat Islam, sekaligus untuk pertama kalinya pula Idul Fitri dirayakan. Momentum perdana ini bertepatan dengan peristiwa Badar, di mana kaum muslimin untuk pertama kalinya juga meraih kemenangan perang skala besar.

Peristiwa Badar, Husein Haikal dalam ‘Hayatu Muhammad’, mengatakan bahwa sejak awal Nabi Muhammad SAW tidak pernah menginginkan peperangan, “kami tidak diperintahkan untuk itu”. Aksi monopoli pasar dan blokade aktifitas dagang oleh kaum Quraisy Mekah terhadap muslim Madinah lah yang memicu konfrontasi itu tumbuh berkembang.

Pada hari ke-8 Ramadhan, pasukan Abu Jahal keluar Mekah, ditambah kafilah Abu Sufyan dari Syam membawa pasukan jumlah besar, sekitar 1000 tentara dengan kelengkapan peralatan perang. Dari arah Madinah, Nabi membawa 300 shahabat menyambut tantangan itu menuju Badar.

Dalam ‘Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources‘ karya Martin Lings, disebutkan bahwa di tempat inilah pada pagi 17 Ramadhan kedua pasukan ini saling berhadapan. Nabi tampil di depan mengatur barisan, didampingi Hamzah, Umar, Ali, dan ‘Ubaidah. 300 lawan 1000, tentu ini akan menjadi perang yang tidak mudah. Abu Bakar bisa menangkap ekspresi kecemasan itu dari raut wajah dan degup jantung para shahabat.

Tak ada yang mampu menepis gelombang kecemasan itu. Hingga turun ayat Al Quran yang menenangkan, yaitu tentang kekuatan moril yang tumbuh dari teguhnya iman (al-Anfal: 12, 17, 65, 66)

Husein Haekal memberikan tafsir kontekstual sebagai ilustrasi membacai kembali kesan historis mengenai Perang Badar ini: “Debu dan pasir halus membubung dan beterbangan memenuhi udara. Berkat iman yang teguh keadaan muslimin bertambah kuat. Di hadapan mereka kini terbuka tabir ruang dan waktu, sebagai bantuan Tuhan kepada mereka dengan para malaikat yang memberikan berita gembira, yang membuat iman mereka bertambah teguh, sehingga bila salah seorang dari mereka mengangkat pedang dan mengayunkannya ke musuh, seolah-olah tangan mereka digerakkan dengan tenaga Tuhan.”

Pihak muslimin hanya butuh beberapa jam dan selesai sedikit lewat tengah hari mengakhiri perang, ringkas Karen Amstrong dalam karya antropologisnya ‘Muhammad: Biography of the Prophet‘. Dilihat dari jumlah pasukan yang timpang, sungguh ini kemenangan yang menakjubkan.

webinar umroh.com

Efek moral dari kemenangan Badar ini pun terasa cukup besar, sehingga Nabi dan kaum muslimin yang selama ini menjadi sasaran cemoohan, berbalik mendapat kepercayaan diri dan kehormatan dari berbagai kalangan.

Perayaan Idul Fitri sejatinya, asal-muasalnya tidak hanya lahir dari latar historis kemenangan Badar. Dalam ‘Ensiklopedi Islam‘ disebutkan, bahwa jauh sebelum ajaran Islam turun, masyarakat Arab sudah memiliki dua hari raya, yakni Nairuz dan Mahrajan, keduanya berasal dari zaman Persia Kuno. Biasanya, mereka merayakan kedua hari raya itu dengan menggelar pesta pora.

Seiring turunnya kewajiban menunaikan ibadah puasa Ramadhan pada tahun ke-2 Hijriah itulah, turun kemudian hadis Nabi, “Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha.”

Di Idul Fitri pertama inilah kaum muslimin merayakan dua kemenangan perdana, yaitu pencapaian ritual puasa Ramadhan dan keberhasilan di Perang Badar. Narasi antar kedua peristiwa ini menjadi relasi yang tak terpisahkan dalam memaknai kemenangan; dari perspektif spiritual, juga sosial

Sebelum datangnya  Hari Raya Idul Fitri, umat Islam diwajibkan menunaikan zakat fitrah. Tepat pada 1 Syawal, kaum Muslim disunahkan melaksanakan shalat Id, baik di lapangan terbuka maupun di masjid, sebanyak dua rakaat dan kemudian dilanjutkan dengan khutbah.

Hingga kini, Idul Fitri telah dilakukan kaum Muslimin sebanyak lebih dari 1.432 kali.  Di setiap wilayah atau daerah, umat Islam memiliki tradisi masing-masing untuk merayakan dan  mengisi hari raya itu.  Bahkan, di setiap daerah dan Negara, umat Islam memiliki istilah sendiri untuk menyebut Idul Fitri.

Ibadah dan Tradisi Idul Fitri

Pada tanggal 1 Syawal mulai akhir bulan puasa Ramadan, dan Idul Fitri. Pagi-pagi selalu dilakukan Salat Idul fitri. doa Id disunnahkan di lapangan atau bahkan jalan raya (terutama di kota-kota besar) ketika daerah ibadah tidak cukup untuk menampung jamaah.

Id dilakukan sebelum berdoa imam mengingatkan siapa saja yang belum membayar persepuluhan, karena jika id doa saja selesai membayar zakat zakat ada hukum amal. Hukum Idul Fitri Salat adalah sunnah mu’akkad. Pada malam sebelum dan setelah pesta, Muslim disunnahkan takbir gemuruh.

Takbir mulai bergema setelah Syawal dimulai. Selain doa sunnah Idul Fitri, umat Islam juga harus membayar persepuluhan sebanyak 2,5 kilogram makanan pokok. Tujuan dari persepuluhan itu sendiri adalah untuk memberikan kebahagiaan kepada yang membutuhkan.

Kemudian, khotbah diberikan setelah shalat Idul Fitri berlangsung, dan dilanjutkan dengan doa. Setelah itu, umat Islam di Indonesia memiliki tradisi saling menyapa, kadang-kadang beberapa orang akan berziarah mengunjungi kuburan.