Akibat revolusi industri yang terjadi sekarang ini, dimana kita sekarang telah memasuki industry 4.0, maka dalam beberapa tahun mendatang akan bisa terjadi pergeseran pekerjaan secara besar-besaran. Salah satunya dapat terjadi pada perusahaan-perusahaan ojek-online seperti gojek atau grab yang baru tumbuh dan meraksasa. Namun boleh jadi dalam beberapa tahun mendatang, keberadaan mereka akan tergantikan dengan adanya ojek tanpa driver menyusul kesuksesan taksi tanpa sopir. Di sinilah, kita semua harus dapat belajar, bahwasannya revolusi produksi, termasuk juga di dalamnya revolusi industri, seharusnya bisa dikendalikan, sehingga hal tersebut tidak sampai menghancurkan lingkungan, tidak merusak tananan sosial, dan juga tidak sampai menjajah bangsa lain. Melimpahnya produksi dan berkurangnya kebutuhan tenaga manusia, seharusnya digunakan manusia untuk melakukan hal-hal lain yang lebih bermakna. Mereka bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa diwakilkan ke mesin, robot atau komputer, semisal lebih banyak ibadah, menghafal Qur’an, berdakwah, rekreasi dengan keluarga, mengasuh anak, hingga merawat orang tua. Manusia mendapat tugas utama…
Di masa lalu, mesin uap juga telah menggeser jutaan buruh. Penerangan listrik menggeser jutaan petugas penyala obor penerangan jalan. Sentra Telepon Otomatis menggeser jutaan petugas switching Telkom. Maka kini, tiga komponen penting dalam industri 4.0 yaitu IoT, BigData, dan AI, nantinya diprediksi akan menggeser jutaan sekretaris, sopir, penerjemah, satpam, bahkan guru! Maka orang lalu ada yang bertanya, di mana peran Islam dalam kondisi seperti ini? Apakah revolusi sejenis ini ada contohnya di masa lalu dimana Islam membuktikan mampu mengendalikannya? Tentu saja, sejarah peradaban Islam pernah mengalami revolusi yang mempengaruhi produksi dan juga menggeser sejumlah profesi. Revolusi apakah itu? Revolusi itu adalah revolusi pertanian. Āḥmad ibn Dawūd Dīnawarī (828-896) menulis Kitâb al-nabât dan mendeskripsikan sedikitnya 637 tanaman sejak “lahir” hingga matinya, juga mengkaji aplikasi astronomi dan meteorologi untuk pertanian, seperti posisi matahari, angin, hujan, petir, sungai, mata air. Dia juga mengkaji geografi dalam konteks pertanian, seperti tentang batuan, pasir dan tipe-tipe…
Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah revolusi industri 4.0 beserta segala yang menyertainya, yakni “disruptif”, “ekonomi digital”, hingga “VUCA”, yakni keadaan penuh gejolak (Volatility), tidak pasti (Uncertainty), rumit (Complexity), dan serba kabur (Ambiguity). Namun apa itu revolusi industri 4.0 ? Sejarah zaman industri baru sekitar 2 abad yang lalu. Namun dunia industri sudah mengalami empat kali revolusi. Revolusi pertama tahun 1784 ketika ditemukan mesin uap, yang lalu secara luas menggantikan tenaga manusia atau hewan di pabrik-pabrik, pertambangan atau alat transportasi. Revolusi kedua terjadi pada tahun 1870, yaitu ketika tenaga listrik mulai digunakan secara massif yang bertujuan untuk membagi pekerjaan manufaktur dalam ban berjalan. Revolusi ketiga terjadi tahun 1969, setelah semi konduktor dapat membuat perlengkapan elektronik menjadi murah. Dan kini, revolusi industri keempat sedang terjadi pada saat sekarang, yang ditandai oleh tiga teknologi kunci, yaitu: Internet of things (IoT), BigData, dan juga Kecerdaasan Buatan/Artificial Intelegence (AI). IoT dapat menghubungkan semakin banyak…
════════ Berkata Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu: Tidaklah seorang hamba diberi kenikmatan yang lebih besar setelah keislaman, selain sahabat yang sholih. Maka apabila kalian mendapati teman yang sholih, peganglah ia erat-erat” ══════════ Berkata Imam Syafi’i: ” Apabila kalian memiliki teman – yg membantumu dalam ketaatan- maka genggam erat tangannya, karena mendapatkan seorang sahabat itu sulit sedangkan berpisah darinya itu mudah” ══════════ Berkata Al Hasan Al Bashri:” Sahabat2 kami lebih kami cintai daripada keluarga dan anak2 kami, karena keluarga kami mengingatkan kami pada dunia, sedangkan sahabat2 kami mengingatkan kami pada akhirat. Dan sebagian sifat mereka adalah : itsar (mendahulukan orang lain dalam perkara dunia) ══════════ Berkata Luqman Al hakim pada anaknya:” Wahai anak ku hendaknya yang pertama engkau usahakan setelah keimanan kepada Allah adalah mencari sahabat yang jujur. Karena ia ibarat pohon, bila engkau duduk berteduh di bawahnya, ia akan meneduhimu, bila engkau mengambil buahnya dia akan mengenyangkanmu, dan bila ia…
Pernahkah para orang tua mengalami hal dimana ketika kita kedatangan tamu penting dirumah dan kita mencoba untuk menerima tamu tersebut dengan baik tanpa adanya gangguan apapun? Namun, pada saat yang sama sering kali putera/puteri kita justru meminta perhatian yang lebih. Ia selalu mengajak berbicara pada saat kita sedang serius melayani tamu tersebut untuk berbicara. Apa yang kita lakukan ketika menghadapi masalah tersebut? Apakah kita mendahulukan keinginan anak kemudian memohon izin kepada tamu, atau sebaliknya mendahulukan kepentingan tamu dan meminta anak untuk berhenti dari ocehannya? Bagi orang tua, jika boleh memilih, mereka pastinya lebih menginginkan seorang anak yang mudah diatur, diarahkan, dan juga selalu taat atas semua perintah tanpa perlu teriakan dan bentakan. Sebagian orang tua yang lain justru malah mengkhawatirkan kondiri anaknya yang terlalu menurut dan taat. Mereka menginginkan anak yang sedikit aktif, kreatif, nakal dan usil agar mempunyai pengalaman hidup lebih banyak untuk dipelajari dan diperlukan dalam kehidupannya kelak.…
Ilmu adalah pengetahuan yang bebas nilai (value-free), sedangkan tsaqâfah adalah pengetahuan yang mengandung nilai (value-bound). Namun, patut dicatat, bahwa karakter bebas-nilai pada ilmu hanya ada pada dataran epistemologinya. Dalam dataran aksiologi, yaitu studi mengenai bagaimana menerapkan suatu pengetahuan, karakter ilmu tidaklah netral, tetapi bergantung pada pandangan hidup penggunanya. Internet sebagai contohnya, dapat dimanfaatkan sebagai sarana dakwah, tetapi juga dapat digunakan sebagai sarana penyebaran pornografi. Dengan memahami dasar klasifikasi yang telah diterangkan sebelumnya (bisa dilihat di part 1), kita akan dapat memahami mengapa ada beberapa pengecualian untuk beberapa cabang pengetahuan ketika diklasifikasikan, apakah masuk kategori ilmu atau tsaqâfah. Ada pengetahuan yang aslinya merupakan tsaqâfah, karena tidak eksperimental, namun kemudian digolongkan sebagai ilmu, karena tidak terkait dengan pandangan hidup dan bersifat universal. Contohnya saja seperti misalnya ilmu hisab (astronomi), perdagangan, pelayaran (al-milâhah), dan kerajinan tangan atau keahlian produksi barang (ash-shinâ’ât). Mengenai astronomi, dalam sejarah Islam diketahui banyak dilakukan…
Ilmu, adalah sebuah pengetahuan (knowledge, ma‘rifah) yang diperoleh melalui metode pengamatan (observation), percobaan (experiment), dan juga penarikan kesimpulan dari fakta-fakta empiris (inference). Contohnya adalah ilmu fisika, kimia, dan ilmu-ilmu eksperimental lainnya. Adapun tsaqâfah adalah sebuah pengetahuan yang diperoleh melalui metode pemberitahuan (al-ikhbâr), penyampaian transmisional (ar-talaqqi), dan penyimpulan dari pemikiran (istinbâth). Contohnya adalah sejarah, bahasa, hukum, filsafat, dan segala pengetahuan non-eksperimental lainnya. Dalam khazanah pengetahuan kontemporer, istilah ilmu dalam klasifikasi di atas, begitu identic dengan ilmu-ilmu alam (natural sciences), yang sering disingkat ‘sains’ atau dalam Bahasa Indonesia juga lazim disebut IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), sedangkan tsaqâfah kurang lebih identik dengan ilmu-ilmu sosial (social sciences) atau yang dalam Bahasa Indonesia juga lazim dikenal dengan istilah IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Sebagian intelektual, seperti Jujun S. Suriasumantri (Kompas, 27/4/1983), mengklasifikasikan pengetahuan menjadi dua cabang besar, yaitu ilmu (science), (yang mencakup ilmu-ilmu alam dan sosial), dan humaniora (humanities). Humaniora, menurut Elwood (1975)…
Menjalani pernikahan adalah ujian panjang. Ada saja kondisi tidak ideal yang menimbulkan petaka dan airmata. Sebab, tidak ada teori eksak tentang bagaimana memperlakukan pasangan dengan ideal. Karakter, latar belakang pendidikan, budaya dan pemahaman mempengaruhinya. Kaena itu, hubungan pernikahan memerlukan rasa pengertian yang mendalam antara suami-istri. Beberapa tips untuk menjaga hubungan itu: 1. Suami bukan Penguasa Meskipun Islam menjadikan suami sebagai pemimpin rumah tangga, tapi bukan kepemimpinan diktator atau tiran. Suami harus melayani istri dengan baik. Nabi SAW pernah bersabda: “Sebaik-baik kalian ialah orang yang paling baik perilakunya terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik dari kalian dalam memperlakukan istri”. (HR At Tirmizi dan dishahihkan oleh Al Albani). 2. Istri adalah Partner Suami bukan satu-satunya yang berhak mengambil keputusan, demikian pula sebaliknya. Sebaiknya, buatlah keputusan bersama untuk keluarga. Keharmonisan rumah tangga akan terwujud jika keputusan yang diambil tidak sepihak dan semua anggota keluarga menjadi bagian dari pengambilan keputusan tersebut.…
Para ibu harus mengetahui, bahwa diri mereka sejatinya adalah mutiara ummat. Sama seperti kerang ketika akan melahirkan sebuah mutiara yang indah dan bersinar, akan banyak kotoran yang memasuki cangkangnya. Kotoran-kotaran tersebut justru ia ubah menjadi sesuatu yang mengagumkan. Demikian juga hakikatnya diri seorang ibu, dia merupakan madrasah pertama untuk anak-anaknya sebagai generasi penerus. Dia bisa melahirkan sebuah generasi emas dan juga membanggakan, walau pun harus menghadapi berbagai macam cobaan dan halangan serta rintangan yang ada. Hal ini akan terwujud tentunya dengan mengatasi beberapa penghalang yang ada. Penghalang-penghalang yang ada untuk dapat membuat seorang ibu melahirkan sebuah generasi emas adalah: -Syndrom Trap in a Comfort Zone (Bertahan di Zona Nyaman), yaitu terbiasa diri ini mengikuti perasaan bukan Fakta. Lebih mengikuti “KATANYA” bukan “DEFINISINYA” (Kebenaran) -Tidak mau susah. Memang kebanyakan orang tidak mau susah, tetapi terkadang kesusahan adalah justru hal yang harus dihadapi serta bisa dilalu untuk dapat mencapai sebuah hasil yang…
Pada dasarnya fitrah manusia itu cenderung bersyariat Islam, sebagaimana yang Allah firmankan. “Hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah tersebut. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah tersebut. (Itulah) agama yang lurus, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (Q.S. ar-Rum: 30). Rasulullah bersabda “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah lalu kedua orang tuanyalah yg menjadikannya sebagai seorang yahudi, nasrani & majusi (penyembah api). Apabila kedua orang tuanya muslim, maka anaknya pun akan menjadi muslim. Setiap bayi yg dilahirkan dipukul oleh syetan pada kedua pinggangnya, kecuali Maryam & anaknya (Isa)”. [HR. Muslim No.4807]. Banyak ayat-ayat dan hadits-hadits yang menyatakan bahwa secara fitrahnya manusia dilahirkan untuk bersyariat Islam. Sudah sewajarnyalah bila dikatakan agama Islam merupakan agama fitrah. sangatlah tidak relevan dan bahkan keliru bila ada yang menuduh bahwa syariat Islam tidak sesuai dengan fitrah manusia dan melanggar HAM serta tidak sesuai untuk…