1
Author

administrator

Browsing

بسم الله الرحمن الرحيم Al Qur’an pun menyebut umur 40 tahun dengan tegas untuk menjadi perhatian manusia. “Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS Al-Ahqaf 15) Ayat ini mengisyaratkan, di saat 40 tahun, hendaknya manusia mulai meningkatkan syukurnya kepada Allah dan orang tuanya. Dan di umur 40 ini, manusia hendaknya sudah benar-benar mengetahui segala nikmat Allah yang ada padanya dan mensyukurinya. Umur 40 juga dianggap sebagai titik tolak dan pembaharuan tobat atas dosa-dosa dan kufur nikmat yang dilakukan manusia. Umur 40 juga disebut sebagai fase futuh. Tahap ini adalah tahap dimana seseorang mengalami kecerahan batin…

Tingkat terbawah dalam ilmu itu adalah *”paham”.* Ini wilayah kejernihan logika berfikir dan kerendahan hati. Ilmu tidak membutakannya, malah menjadikannya kaya. Tingkat ke dua terbawah adalah *”kurang paham”.* Orang kurang paham akan terus belajar sampai dia paham …, dia akan terus bertanya untuk mendapatkan simpul2 pemahaman yang benar …! Naik setingkat lagi adalah mereka yang *salah paham.* Salah paham itu biasanya karena emosi dikedepankan, sehingga dia tidak sempat berfikir jernih. Dan ketika mereka akhirnya paham, mereka biasanya meminta maaf atas kesalah-pahamannya. Jika tidak, dia akan naik ke tingkat tertinggi dari ilmu. Nah, tingkat tertinggi dari ilmu itu adalah *gagal paham.* Gagal paham ini biasanya lebih karena *kesombongan.* Karena merasa berilmu, dia sudah tidak mau lagi menerima ilmu dari orang lain. Tidak mau lagi menerima masukan dari siapapun (baik itu nasehat dll ), atau pilih-pilih hanya mau menerima ilmu (nasehat) dari yang dia suka saja …, bukan ilmu yg disampaikan, tapi…

SIAPA JODOH KITA DI SYURGA? DALAM ayat Al Qur’an maupun hadits nabawi disebutkan bahwasanya pria yang shalih di surga kelak akan didampingi/beristrikan para bidadari (huurul ‘ ain), lalu bagaimana dengan para wanita yang masuk surga? Perlu diketahui bahwa keadaan wanita di dunia, tidak lepas dari enam keadaan: Dia meninggal sebelum menikah. Dia meninggal setelah ditalak suaminya dan dia belum sempat menikah lagi sampai meninggal. Dia sudah menikah, hanya saja suaminya tidak masuk bersamanya ke dalam surga, wal’iyadzu billah. Dia meninggal setelah menikah baik suaminya menikah lagi sepeninggalnya maupun tidak (yakni jika dia meninggal terlebih dahulu sebelum suaminya). Suaminya meninggal terlebih dahulu, kemudian dia tidak menikah lagi sampai meninggal. Suaminya meninggal terlebih dahulu, lalu dia menikah lagi setelahnya. Berikut penjelasan keadaan mereka masing-masing di dalam surga: – Perlu diketahui bahwa keadaan laki-laki di dunia, juga sama dengan keadaan wanita di dunia: Di antara mereka ada yang meninggal sebelum menikah, di antara…

Tidaklah harus sama untuk saling bisa mencintai, justru karena sebab beda itulah maka perlu untuk bersama. Yang penting tujuan kita adalah untuk Allah, maka semua akan indah dan sempurna Sebagaimana tak perlu selalu terlihat juga untuk bisa dikenal. Sampai ketika masanya yang tak terlihat bisa jadi justru lebih bernilai dari yang tampak. Sebab ia lebih murni, lebih mantap, lebih siap Begitulah ibarat mutiara yang tersimpan, kilaunya tak dipaksa, ia bertumbuh tanpa ada yang tahu. Tunas pun bila diatas tanah tak akan bisa kokoh akarnya, itupun sebelum dimakan oleh ayam Mereka yang tersembunyi dalam keramaian, tak diketahui baik datang ataupun pulangnya. Tapi doa-doa mereka yang menjadi kunci berkah langit. Sujud tangis mereka jadi ampunan Allah bagi ummatnya Mereka diluar dan jauh dari panggung, tapi bisa jadi amal salihnya lebih banyak dari yang berbicara diatas panggung. Sebab mereka terbebas dari riya, puja puji manusia. Lepas dari anggapan-anggapan manusia…

Ingat kisah Yusuf dan Zulaikha? Tatkala Zulaikha membuat supertrap untuk menjebak Yusuf berbuat maksiat dalam sebuah settingan khalwat. “Wahamma biha..” kata Yusuf. Yusuf pun awalnya berkeinginan yang sama, sebelum datangnya tanda-tanda dari Allah agar segera berpaling (QS.Yusuf: 20) Dia alaihissalam yang diciptakan Allah dengan garis nasab terindah, dari mahluk-mahluk luhur nan mulia; Ibrahim, Ishaq, lalu Yaqub, pun qadarullah sempat tertawan oleh dahsyatnya godaan kaum hawa. Nah, bagaimana dengan kita, saya, atau anda yang bukan keturunan siapa-siapa? yakinkah kuat menghadapi godaan Zulaikha-Zulaikha kekinian, sementara kita cuma remah-remah emping kondangan? Makanya, kalo Dilan bilang menahan rindu itu berat, apa kabar dengan menahan syahwat? Sebutkan hal-hal terberat yang pernah kau kerjakan, mungkin semuanya akan terasa enteng jika perbandingannya adalah memalingkan pandangan dari apa yang Allah haramkan. Di kampus, di kantor, hingga di jalan-jalan begitu sulit gadhul bashar dipraktekkan. Melirik ke kiri ada gambar wanita dengan senyum menggoda di papan iklan henpon. Henponnya kecil,…

Dalam sebuah ceramahnya menarik sekali apa yang disampaikan ustadz Adi Hidayat tentang mendidik anak dalam tumbuh kembang. Kita bisa melihat dari penggunaan bahasa Alquran yang digunakan ternyata setiap periode usia berbeda. Beliau menyampaikan ketika Lukman mendidik anaknya memanggil dengan narasi ” ya bunayya ” panggilan itu dikenal sebagai panggilan sayang, panggilan manja, untuk anak usia prabaligh. Dalam bahasa Arab narasi ya bunayya adalah narasi tadlil. يُدَلِّلُ طِفْلَهُ” : يُدَلِّعُهُ، يُغَنِّجُهُ، يُعامِلُهُ مُعامَلَةً فيها الكَثيرُ مِنَ اللُّطْفِ وَالتَّرْفيهِ. Intinya panggilan lembut dan manja. Dari sini dipahami bahwa Alquran mengajarkan orang tua memanggil harus yang nyaman didengar anak, panggilan sayang penuh kelembutan, tidak menggunakan kata-kata kasar, bentakan dan tidak ahsan. Pelajaran yang pertama kali diberikan Lukman kepada anak adalah membangun pondasi aqidah Islam. Setelah panggilan sayang itu Lukman menggunakan kata larangan dalam perkara keimanan. Nasehat terbaik yang dilakukan oleh Lukmanul Hakim menggunakan kata larangan laa ” jangan ” وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ…

(untuk bagian sebelumnya, dapat dilihat di link berikut: https://www.umroh.com/blog/antara-islam-indonesia-part-2/) Jika kita cermati bahwa adat (kebiasaan) dan budaya itu masuk pada perbuatan manusia (af’al al-insan), karena itu adat dan budaya juga masuk dalam hukum yang lima itu. Sehingga hukum adat (kebiasaan) itu harus dirinci satu persatu. Tidak bisa dipukul rata. Bagaimana hukum menghormati orang lain (katanya, saling menghormati adalah adat orang Indonesia)? Hukum menghormati orang lain dalam Islam adalah wajib. Jadi, adat seperti ini adalah kewajiban, menurut Islam. Bagaimana hukum membantu orang lain yang sedang membangun rumah atau yang sedang mengadakan walimatul ursy (katanya, saling membantu adalah adat dan budaya orang Indonesia)? Hukum membantu orang lain dalam Islam adalah sunnah. Jadi, adat seperti ini sangat dianjurkan oleh Islam. Bagaimana hukum menutup aurat dengan menggunakan sarung bagi lelaki (katanya, sarung adalah pakaian khas Indonesia)? Jawabnya adalah mubah. Menutup aurat itu hukumnya wajib, sedangkan pilihan apakah sarung atau celana, ini mubah. Kita boleh pakai…

(untuk bagian sebelumnya, dapat dilihat di link berikut: https://www.umroh.com/blog/antara-islam-indonesia-part-1/) Dengan pemahaman yang baik tentang definisi Islam dan Indonesia, maka kita akan dengan mudah memberikan jawaban yang obyektif tentang pertanyaan ini. Untuk menjawab dengan obyektif, pertanyaan tersebut akan sedikit dimodifikasi terlebih dahulu: “Kita lahir di Indonesia itu kebetulan (takdir) atau pilihan? Dan kita memeluk Islam itu kebetulan atau pilihan?”. Pertanyaan pertama: “Kita lahir di Indonesia itu kebetulan (takdir) atau pilihan?” Jawaban dari pertanyaan ini sangat jelas, bahwa kita lahir di Indonesia adalah takdir (kebetulan), bukan suatu pilihan. Bagi orang yang mengidolakan barat, seandainya disuruh milih, pasti dia ingin dilahirkan di Amerika atau Inggris dan diberi nama Michael atau George, namun apa daya, ia lahir di Indonesia dan diberi nama Siti Musdah atau Paijo, dan lain-lain. Jadi, kita lahir di Indonesia dan menjadi bagian dari bangsa Indonesia adalah suatu yang kebetulan atau takdir, bukan suatu pilihan. Sementara untuk tinggal…

KITA INI ORANG ISLAM YANG KEBETULAN HIDUP DI INDONESIA, ATAUKAH ORANG INDONESIA YANG KEBETULAN BERAGAMA ISLAM? Oleh DR. Choirul Anam Beberapa dekade yang lalu, seorang tokoh nasional yang sekarang sudah wafat, pernah melontarkan satu pertanyaan menggelitik, “Kita ini, sebetulnya orang Islam yang kebetulan hidup di Indonesia, ataukah orang Indonesia yang kebetulan beragama Islam?” Pertanyaan ini sepintas bukan sesuatu yang serius, tetapi jika dibaca pelan-pelan dengan cermat, maka termuat dua paradigma yang sangat bertolak belakang secara fundamental. Lalu menurutnya, jawaban yang benar adalah jawaban yang dibangun dengan paradigma, bahwa kita adalah “orang Indonesia yang kebetulan beragama Islam”. Menurutnya, paradigma ini memandang Islam bukan Arab, melainkan nilai-nilai dan ajaran-ajaran universal, seperti: kemanusiaan, keadilan, kemaslahatan, kerahmatan, kesetaraan, dan persaudaraan yang dilandasi wahyu ketuhanan dan tauhid. Kemudian, ia melanjutkan bahwa untuk menjadi Muslim, seseorang tidak harus menggunakan identitas Arab atau melebur seperti orang Arab, mulai dari cara berbicara yang kearab-araban,…

~Utang orang tua banyak pada anak-anak~ Tidak jarang, kita memarahi mereka saat kita lelah…. Kita membentak mereka padahal mereka belum benar-benar paham kesalahan yang mereka lakukan. Kita membuat mereka menangis karena kita ingin lebih dimengerti dan didengarkan. Tetapi, seburuk apapun kita memperlakukan mereka, segalak apapun kita kepada mereka, semarah apapun kita pernah membentak mereka… Mereka akan tetap mendatangi kita dengan senyum kecilnya Menghibur kita dengan tawa kecilnya… Menggenggam tangan kita dengan tangan kecilnya…. Seolah semuanya baik-baik saja, seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Mereka selalu punya banyak cinta untuk kita, meski seringkali kita tak membalas cinta mereka dengan cukup. Kita bilang kita bekerja keras demi kebahagiaan mereka, tetapi kenyataannya merekalah yg justru membahagiakan kita dalam lelah di sisa waktu dan tenaga kita. Kita merasa bahwa kita bisa menghibur kesedihan mereka atau menghapus air mata dari pipi-pipi kecil mereka, tetapi… Sebenarnya kitalah yg selalu mereka bahagiakan. Merekalah yg selalu berhasil membuang…