Umroh.com — Nabi Sulaiman dalah nabi yang ke delapan belas setelah ayahnya Nabi Daud AS. Ketika Nabi Daud meninggal, Nabi Sulaiman menggantikannya baik sebagai raja yang mewarisi tahtanya dan juga sebagai Nabi yang menyiarkan risalah kenabiannya untuk disampaikan kepada umatnya. Sejak remaja, Sulaiman telah dianugerahi kelebihan yang tak ada orang lain miliki di dunia ini. Ia tidak hanya diberi intelektualitas saja, pada umur 11 tahun Sulaiman memiliki ketajaman otak, kepandaian berpikir, serta ketelitian dalam mengambil suatu keputusan. Baca juga: Kisah Nabi Sulaiman dan Mukjizatnya Ketika kita membuka lembaran-lembaran sejarah kehidupan Nabi Sulaiman yang diungkap oleh Al-Qur’an, maka kita akan mengetahui bahwa kita berada di masa keemasan Bani Israil, yaitu masa Nabi mereka dan penguasa mereka Sulaiman. Sulaiman tidak merasa puas dengan apa yang telah diwarisinya dari Daud. Ambisinya mendorongnya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar. source: freepik.com Umroh.com merangkum, Nabi Sulaiman juga terkenal dengan beberapa mukjizat yang ada pada diri…
Umroh.com — Nabi Muhammad SAW merupakan nabi terakhir, karena Setelah nabi Muhammad SAW tidak ada lagi nabi yang tercipta. Nabi Muhammad SAW adalah panutan atau teladan bagi umat Islam. Tak heran jika kisah semasa hidup beliau mulai dari lahir sampai dengan wafat nya selalu menjadi topik menarik untuk diceritakan dan didengar. Nabi Muhammad saw adalah seorang yang senantiasa dijaga oleh Allah swt dari segala bentuk perbuatan dosa dan maksiat. Allah tidak akan membiarkan Nabi Muhammad saw berbuat dosa ataupun maksiat karena Allah swt selalu menuntun dan menjaganya. Baca juga: Ini Golongan Mulia Menurut Rasulullah, Apakah Anda Salah Satunya? Umroh.com merangkum, Nabi Muhammad SAW memiliki akhlak yang sangat mulia, tidak hanya pandai dalam beribadah, baik itu yang wajib maupun sunnah. Sebagai Nabi dan Rasul Allah Beliau juga mampu mengatur kedua matanya dari pandangan maksiat. Sesekali Nabi mengingatkan kepada umatnya agar senantiasa menjaga mata dengan cara Ghodul Bashar. Dengan kata lain, kita…
Bagi seorang muslim tentunya sudah tidak asing lagi mendengar nama Nabi Muhammad SAW, karena Nabi Muhammad SAW adalah Nabi terakhir bagi umat muslim dan tentunya banyak sekali akhlak yang patut kita tiru dan perbuatan yang Nabi Muhammad ajarkan kepada umatnya. Sesungguhnya didalam diri Nabi Muhammad SAW terdapat banyak budi pekerti yang luhur, sehingga sebagai pengikutnya Nabi Muhammad SAW kita harus bisa terus meneladani dan juga menerapkan apa-apa yang dicontohnya oleh Nabi Muhammad SAW. Terdapat satu riwayat yang dapat dijadikan contoh untuk kita semua terutama dalam kehidupan kita sehari-hari tentang bagaimana menghargai sebuah pemberian dari seseorang, walau mungkin dapat dikatakan bahwa pemberian dari seseorang tersebut tidak mengenakan untuk kita. Baca juga: Bisa Dicontoh, Ini Cara Rasulullah Memberantas Kemiskinan Umroh.com merangkum, suatu hari hiduplah seorang lelaki yang miskin, walaupun beliau miskin tetapi beliau tidak pelit dan beliau suka berbagi, hingga akhirnya lelaki miskin ini pergilah ke Rasulullah SAW untuk membelikannya buah anggur,…
Cerita tentang “Istighfar” dan juga sebuah kisah dari kehidupan Imam Ahmad Bin Hanbal (164-241 H), seorang ulama Islam dan salah seorang teolog yang ternama dalam sejarah Islam. Imam Ahmad juga dianggap sebagai pendiri mazhab Hanbali dan dianggap sebagai salah satu teolog Sunni paling terkenal, sering disebut sebagai “Sheikh ul-Islam” atau “Imam Ahl al-Sunnah”. Dimasa akhir hidup beliau bercerita “satu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tahu kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak”. Padahal tidak ada janji sama orang dan tidak ada hajat. Baca juga: Bukti Kepedulian Rasulullah kepada Seseorang yang Masih Melajang, Begini Ceritanya Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashrah. Beliau bercerita, “Begitu tiba disana waktu Isya’, saya ikut shalat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat.” Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, Imam Ahmad ingin tidur di masjid, tiba-tiba Marbot masjid datang menemui imam Ahmad sambil bertanya,…
Kemiskinan dari zaman Rasulullah hingga zaman modern kini semakin merajalela. Suatu konflik dalam bidang perekonomian ini sebagai masalah utama salah satunya pada zaman Rasulullah. Upaya penanganan kemiskinan harus pula dipahami sebagai persoalan universal dan harus dilakukan secara menyeluruh. Islam mengajarkan bahwa penanganan masalah kemiskinan bukanlah sebagai tugas individu dan suatu kelompok, tetapi menjadi tanggung jawab kolektif. Islam sangat menekankan sisi persaudaraan sesama Muslim dalam memperkuat keutuhan masyarakatnya, terutama dalam bidang ekonomi. Ikatan akidah islamiyah mengikat seluruh umatnya dalam tali persaudaraan, gotong royong dan saling membantudalam kebaikan dan taqwa, seperti persaudaraan yang diikat antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Baca juga: Wajib Tahu, Ini Kisah Telaga Nabi yang Ada di Akhirat Umroh.com merangkum, ketika kaum Muhajirin berhijrah dari Mekah ke Madinah, mereka menghadapi problematika sosial dan ekonomi, berkaitan dengan kelangsungan hidup, mata pencaharian dan tempat tinggal. Kaum Muhajirin tidak memiliki modal, sebab seluruh harta mereka sudah ditinggalkan. Mereka juga tidak memiliki…
Tsa’labah bin Haathib Al-Anshar biasa disapa Tsa’labah adalah salah satu sahabat Rasulullah yang hidup di bawah garis kemiskinan sehingga tidak memiliki pekerjaan ataupun penghasilan yang tetap. Beliau sangat rajin mengerjakan semua waktu shalat dilaksanakan di masjid secara berjamaah. Tetapi ada satu kebiasaan Tsa’labah yang mengundang tanya Rasulullah, yaitu selalu bergegas pulang setelah selesai melaksanakan shalat. Berbeda dengan sahabat lainnya yang masih meluangkan waktu untuk berdzikir serta bermunajat kepada Allah. Hingga suatu kesempatan, ketika bergegas hendak meninggalkan masjid, Rasulullah memanggilnya. Baca juga: Selain Kisah Tsa’labah, Ini Kisah Nabi Sulaiman dan Mukjizatnya yang Bisa Jadi Panutan Setelah Tsa’labah menghadap, Rasulullah bertanya kepadanya. “Wahai Tsa’labah, mengapa kamu buru-buru ketika selesai shalat berjamaah?” Tsa’labah pun menjawab, “Sesungguhnya saat ini di rumah ada seorang yang menungguku ya Rasul. Dia menungguku untuk bergantian memakai baju untuk melaksanakan shalat. Saya hanya memiliki sehelai kain untuk dipakai secara bergantian. Ketika saya shalat, maka istriku akan bersembunyi hingga saya…
Bagi seorang muslim tentunya sudah tidak asing mendengar nama Bilal, Bilal bin Rabah sendiri adalah seorang muazim Rasulullah SAW, dia memiliki kisah yang sangat menarik tentang sebuah perjuangannya dalam mempertahakan aqidah yang dia yakini. Tentunya kisah Bilal ini tidak akan pernah membosankan, walau terus menerus diulang-ulang sepanjang zaman dan kisahnya pun akan membuat orang penasaran. Umroh.com merangkum, Bilal lahir di sebuah daerah yang bernama As-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak yang berkulit hitam yang tinggal di kota Mekkah. Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekkah) sebagai budak milik keluarga bani Abduddar. Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, yang orang tersebut merupakan tokoh penting kaum kafir. Baca juga: 6 Adab saat Mendengar Adzan Ketika Rasulullah SAW mendatangi kota Mekkah, maka kota Mekkah pun diterangi oleh cahaya agama baru dan Rasul yang agung, Rasulullah SAW pun mulai mengumandangakan seruan kalimat tauhid. Bilal merupakan…
Melempar jumrah adalah salah satu dari beberapa rangkaian ibadah dan lempar jumrah pun harus dilakukan oleh jamaah haji. Hukum jumrah pun adalah wajib dan harus dilaksanakan karena bila tidak dilaksanakan dan tidak melakukan lempar jumrah maka jamaah akan dikenakan dam ibadah haji, yang dimaksud dengan dam adalah membayar denda dengan menggunakan uang. Pada umumnya melempar jumrah yakni para jamaah seperti lempari semacam tiang besar (jumrah) dengan batu-batu kecil, karena tiangnya yang berukuran besar dan lokasi jumrah ini pun banyak yang menyebutnya sebagai tembok atau tugu. Sebenarnya melempar jumrah bukanlah perkara melempar batu dan mengenai tugu tersebut melainkan sebagai simbolisasi umat islam yang melakukan ibadah haji dalam melawan setan. Baca juga: Sunnah Haji yang Bisa Dilakukan Jamaah Haji Adapun tiang yang berada dilokasi lempar jumrah adalah sebagai tempat penada bahwa setan muncul ditempat tersebut yang lantas dilempar kerikil oleh Nabi Ibrahim AS. Dilokasi pun terdapat tiga tugu untuk melempar jumrah yakni…
Allah adalah Tuhan yang Maha Esa pemiliki semesta alam ini. Sudah sepantasnya kita sebagai umatNya memuliakan keagungannya. Allah selalu memudahkan kehidupan umatnya yang beriman. Sebaliknya Allah akan mempersulit kehidupan setiap umat yang tidak patuh atas ajaranNya. Di sampingNya memberikan kemudahan kita sebagai umat muslim yang beriman harus memberikan timbal balik dengan mengagungkan Allah melafalkan segala bentuk kemuliaannya, salah satunya mengucapkan Asmaul Usnah. Baca juga: Terungkap, Ini Fakta Sebenarnya saat Firaun Menyebut Dirinya Tuhan Mengenal Sosok yang Ditunjuk Sebagai Wali Allah Dalam ilmu tasawuf, ketaqwaan individu tidak bisa dilihat secara dzahir semata. Siapa sangka sosok yang popular ahli maksiat berubah menjadi wali Allah. Dia adalah Bisyr bin Harits, lahir di dekat kota Merv sekitar tahun 150 Hijriah/767 Masehi dan wafat di kota Baghdad tahun 227 H/841 M. source: freepik.com Bisyr dikenal sebagai pemuda kaya raya hedonis dan gemar melakukan maksiat. Sisa hidupnya, ia menekuni kehidupan asketis setelah bertemu dengan seorang Sufi.…
Beribadah haji atau umroh pasti melakukan sa’i. Sa’i adalah berlari-lari kecil di antara kedua bukit, sebanyak tujuh kali (bolak-balik) dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah dan sebaliknya. Melakukan hat tersebut menjadi salah satu dari rukun haji dan umrah, yakni melaksanakan Sa’i. Ketika melintasi Bathnul Waadi, yaitu kawasan yang terletak di antara Bukit Shafa dan Marwah (saat ini ditandai dengan lampu neon berwarna hijau), para jamaah pria disunahkan untuk berlari-lari kecil, sedangkan untuk jamaah wanita berjalan cepat. Ibadah Sa’i boleh dilakukan dalam keadaan tidak berwudhu dan oleh wanita yang datang haid atau nifas. Baca juga: Hal-hal yang Wajib Dipersiapkan Sebelum Umroh, Ini Daftarnya! Sejarah Bukit Shafa dan Marwah Umroh.com merangkum, bukit Shafa dan Marwah adalah dua buah bukit yang terletak dekat dengan Ka’bah (Baitullah). Bukit Shafa dan Marwah yang berjarak sekitar 450 meter. Jauh sebelum perintah ibadah haji dilaksanakan, Bukit Shafa dan Marwah telah menjadi saksi sejarah perjuangan seorang ibu dalam…
