Umroh.com – Sudah semestinya kita semakin taat dan bertakwa dalam menjalani puasa Ramadhan. Karena itulah kita juga harus menjauhi apa yang Allah larang selama bulan itu berlangsung. Bulan ramadhan yakni bulan yang sudah selayaknya diisi dengan amal kebaikan, yakni kegiatan atau amalan yang baik yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah SAW. Karena itulah kita wajib mengetahui apa saja yang dilarang oleh Allah SWT selama bulan puasa Ramadhan berlangsung. Baca juga: Inilah Pengertian Puasa Ramadhan yang Perlu Diketahui Hal-hal yang Dilarang Selama Puasa Ramadhan Umroh.com merangkum, ada berbagai macam hal yang sudah seharusnya kita jauhkan selama menjalani puasa Ramadhan. Berikut larangan-larangan tersebut! 1. Bersetubuh di Jam Puasa Kaum muslimin laki laki dan perempuan sudah pasti batal puasanya apabila bersetubuh di waktu siang hari pada bulan Ramadhan, maka wajib atasnya untuk mengganti puasanya di hari lain dan wajib membayar kaffarah atau denda yakni dengan cara memerdekakan seorang budak wanita yang beriman. Apabila…
Umroh.com – Puasa dapat diartikan sebagai menahan diri dari sesuatu. Sementara puasa Ramadhan adalah menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa serta diikuti dengan niat dan dilakukan sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Puasa juga menahan diri dari rasa lapar dan dahaga serta dari perbuatan-perbuatan buruk maupun hal yang dapat membatalkan puasa. Adapun pelaksanaan puasa Ramadhan adalah upaya dalam menunaikan ibadah. Baca juga: Hukum Puasa Sya’ban Sebelum Bulan Ramadhan Puasa Menurut Ajaran Agama Islam Umroh.com merangkum, dalam Islam, puasa juga dikenal dengan shaum yang merupakan ibadah wajib umat Islam ketika bulan Ramadhan dan sunnah ketika dilakukan di luar bulan Ramadhan, kecuali di Hari yang Dilarang Puasa yaitu dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dan di tiga hari tasrik. Adapun definisi dari puasa menurut islam adalah menahan diri dari dua syahwat (yaitu perut dan kemaluan) serta dari segala yang memasuki tenggorokan termasuk obat-obatan dan lain sebagainya. Puasa…
Umroh.com – Saat Lebaran, kita semua melaksanakan halal bi halal. Tradisi bermaaf-maafan ini seolah menjadi hal yang wajib dilakukan oleh orang Indonesia. Baik yang masih muda ataupun yang sudah tua saling datang untuk bermaaf-maafan. Lalu bagaimana sih sejarang halal bi halal itu sendiri? Berikut penjelasannya. Dilihat dari namanya mungkin sempat terpikir kalau halal bi halal berasal dari Arab, namun ternyata pencetusnya adalah ulama terkemuka Indonesia. Baca juga: Hukum Puasa Sya’ban Sebelum Memasuki Ramadhan Sejarah Halal bi Halal di Indonesia Bagi kamu masyarakat millennials yang baru tau, penggagas istilah ‘halal bi halal’ adalah KH Abdul Wahab Chasbullah. Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, lalu pada tahun 1948 Indonesia kerap dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik pun bertengkar, tak mau duduk dalam satu forum. Pemberontakan juga terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun. Hingga pada tahun 1948 dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah untuk datang ke Istana Negara…
Umroh.com – Tawadhu adalah rendah hati atau tidak sombong. Jadi, arti dari tawadhu adalah ketundukan seseorang pada kebenaran dan menerima kebenaran itu dari siapapun yang mengatakannya tanpa terkecuali. Berikut ini ada beberapa contoh tawadhu yang bisa dijadikan panutan! Adapun lawan dari sifat tawadhu adalah takabur yang berarti sombong. Orang yang bersikap takabur adalah orang yang merasa dirinya paling baik dibandingkan orang lain. Baca juga: Membuat Hidup Makin Berkah, Ini Manfaat Tawadhu Pengertian Tawadhu Umroh.com, merangkum, tawadhu adalah sifat yang mulia, namun sedikit saja orang yang memilikinya. Karena biasanya, seseorang yang memiliki gelar dan ilmu yang tinggi, mereka akan menjadi seseorang yang sombong dan angkuh. Maka dari itu mari kita pahami apa itu tawadhu. Tawadhuadalah rendah hati atau tidak sombong. Jadi, tawadhu adalah ketundukan kepada kebenaran dan menerimanya dari siapa pun datangnya, baik dalam keadaan suka maupun tidak suka. Lawan dari sifat tawadhu adalah takabur. Sifat takabur adalah sifat yang dibenci…
Umroh.com – Mendengar kata ‘haram’ mungkin membuatmu berpikiran hal yang negatif. Namun ternyata kata haram memiliki dua akar kata yang berbeda. Apa sih perbedannya? Dan kenapa disebut sebagai tanah haram? Simak di sini! Asal Kata Haram Pertama, Kata haram [حرام] diturunkan dari kata haruma – yahrumu [حَرُمَ – يَـحْرُمُ] yang berarti terlarang atau terlarang untuk dilakukan (al-mamnu’ min fi’lih). (al-Mu’jam al-Wasith). Lalu yang kedua, kata haram ditarik dari kata al-ihtiram, yang berarti kehormatan (al-Mahabah). Baca juga: Terungkap, Ini Kedudukan Ka’bah Menurut Bangsa Arab Dalam al-Misbah al-Munir dinyatakan bahwa kata al-Hurmah (haram) artinya sesuatu yang tidak boleh dilanggar. Sedang kata al-Hurmah juga diartikan al-Mahabah (kehormatan). Diturunkan dari kata al-Ihtiram. Seperti kata al-Furqah dari al-Iftiraq. (al-Misbah al-Munir, 2/357). Meski asal katanya berbeda, namun sebenarnya memiliki keterkaitan. Adapun sesuatu yang terlarang disebut haram, karena jika dilakukan berarti melanggar kehormatan orang yang melarang. Sebagaimana Allah melarang banyak hal dalam syariatnya, adapun salah satunya adalah dalam…
Umroh.com – Allah SWT memerintahkan manusia untuk menutup aurat, baik bagi laki-laki ataupun perempuan. Bahkan ada yang mengatakan kalau pakaian merupakan cerminan diri bagi seseorang. Seperti orang yang berpakaian rapi merupakan orang yang juga rapi dalam segala hal. Lalu bagaimana nasihat rasulullah dalam berapakaian itu sendiri? Begini penjelasannya. Ada yang menyatakan kalau pakaian merupakan ekspresi jiwa sehingga cukup banyak orang yang berpakaian unik bahkan menunjukkan ciri khasnya. Pakaian adalah salah satu nikmat dari Allah Ta’ala. Allah jadikan manusia memiliki pakaian yang dapat memberikan banyak kebaikan untuk sesame manusia. Allah Ta’ala berfirman: يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan” (QS. Al A’raf: 32). Baca juga: 3 Hal Penting di Balik Pakaian Ihram Menurut Ibnu Abbas Sebagaimana yang sudah Allah perintah, kita bisa menujukan keindahan diri kita kepada orang lain hanya dengan mahram kita. Selebihnya, kita diperintahkan…
Umroh.com – Umat muslim dianjurkan untuk melakukan puasa sunnah seperti puasa senin dan kamis, puasa daud atau puasa Ayyamul Bidh. Untuk kamu yang belum tau, puasa Ayyamul Bidh adalah puasa sunah yang dilakukan di setiap pertengahan bulan Hijriah berdasar kalender Qomariah. Lalu apa sih manfaat puasa ayyamul bidh itu sendiri? Berikut penjelasannya. Puasa sunah yang kerap disebut puasa putih ini dilakukan selama tiga hari setiap tanggal 13-15 Hijriah. Terkecuali 13 Dzulhijjah karena merupakan hari tasyrik. Baca juga: Asal-usul Puasa Ayyamul Bidh yang Dianjurkan Setiap Bulan Asal Mula Puasa Ayyamul Bidh Adapun asal mula puasa sunnah ini merujuk pada kisah Nabi Adam AS. Berdasarkan riwayat Ibnu Abbas, tubuh Nabi Adam AS terbakar matahari hingga hitam dan gosong sewaktu diturunkan ke bumi karena matahari. Lalu Allah SWT menurunkan wahyu dan memerintahkan Nabi Adam untuk berpuasa selama tiga hari, yakni tanggal 13-15. Setelah berpuasa selama tiga hari, seluruh badan Nabi Adam AS kembali…
Umroh.com – Puasa Ayyamul Bidh merupakan puasa tiga hari pada setiap bulan Qamariyyah. Puasa ini merupakan puasa sunnah yang memiliki pahala yang besar. Adapun puasanya berturut-turut pada tanggal 13, 14, 15 setap bulannya. Tak perlu khawatir, ini asal-usul puasa ayyamul bidh yang wajib diketahui. Siapapun yang berpuasa tiga hari ayyamul bidh, maka ia sama dengan puasa selama satu bulan. Lalu apabila ia melakukannya setiap bulan, maka setara dengan puasa setahun penuh. Hal tersebut terkandung dalam riwayat berikut: وَإِنَّ بِحَسْبِكَ أَنْ تَصُومَ كُلَّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فإن لك بِكُلِّ حَسَنَةٍ عَشْرَ أَمْثَالِهَا فإن ذلك صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ Artinya: “Sungguh, cukup bagimu berpuasa selama tiga hari dalam setiap bulan, sebab kamu akan menerima sepuluh kali lipat pada setiap kebaikan yang Kaulakukan. Karena itu, maka puasa ayyamul bidh sama dengan berpuasa setahun penuh,” (HR Bukhari-Muslim) Baca juga: Hukum Puasa Sya’ban Sebelum Memasuki Bulan Ramadhan Asal-usul Puasa Ayyamul Bidh Umroh.com merangkum, asal mula nama…
Umroh.com – Sebelum bulan penuh kemuliaan dan ampunan yakni bulan Ramadhan, umat muslim terlebih dahulu merasakan bulan Sya’ban. Ada satu hal keutamaan dari bulan Sya’ban yakni persiapan menjelang puasa wajib di bulan Ramadhan. Lalu apa sih hukum puasa sya’ban yang sebenarnya? Berikut penjelasan selengkapnya. Di bulan Sya’ban pula kita disunnahkan untuk berpuasa sunnah Sya’ban. Di bulan Sya’ban, umat muslim dianjurkan untuk berpuasa di hari apapun, bebas sesuai kemampuan. Baca juga: Ini Hukum Puasa Daud Bagi yang Jarang Diketahui! Keutamaan Bulan Sya’ban Umroh.com merangkum, adapun keutamaan lain dari bulan Sya’ban adalah sebagaimana dikisahkan hadits-hadits berikut ini! Dari Usamah bin Zaid, beliau berkata, “Katakanlah wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa selama sebulan dari bulan-bulannya selain di bulan Sya’ban” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam.…
Umroh.com – Seorang muslim pasti ingin memiliki amal jariyah yang merupakan amalan yang akan terus mengalir pahalanya meski orang yang melakukan amalan tersebut sudah meninggal dunia. Amalan jariyah ini akan terus menghasilkan pahala kepadanya meski sudah di liang lahat. Lalu ada berapa macam amal jariyah yang perlu diketahui dan dilakukan? Berikut penjelasannya. Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, (3) anak shalih yang selalu didoakan orang tuanya.” (HR. Muslim, no. 1631) Lalu dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang didapati oleh orang yang beriman dari amalan dan kebaikan yang ia lakukan setelah ia mati…
