Zakat Maal dikeluarkan ketika harta telah mencapai nisab. Nisab merupakan batasan minimal yang ditetapkan agama pada harta untuk menentukan kewajiban zakatnya. Umroh.com merangkum, nisab berlaku bagi harta tersimpan dan tidak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok seseorang. Misalnya kebutuhan pangan, sandang, papan, atau kebutuhan transportasi dan alat yang digunakan untuk bekerja. Nisab berlaku bagi harta yang telah tersimpan selama satu tahun (haul), dihitung sejak hari kepemilikan Nisab. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidak ada zakat atas harta, kecuali yang telah melampaui satu haul (satu tahun)” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Baca juga: Inilah 7 Orang yang Wajib Mendapat Zakat Maal Tetapi persyaratan haul tidak berlaku bagi harta pertanian dan harta temuan. Harta pertanian atau hasil panen harus dikeluarkan saat panen. Sedangkan harta temuan harus dikeluarkan zakatnya ketika ditemukan. Cara Menghitung Zakat Maal untuk Harta Emas Nisab untuk emas adalah 20 Dinar. Satu Dinar Islam senilai 4,25 gram emas. Dengan demikian, Nisab…
Selain menyajikan pemandangan kota futuristik dengan fasilitas kelas dunia, ternyata Uni Emirat Arab juga menjadi destinasi menarik bagi pecinta sejarah. Di balik perkembangan pesat negara tersebut, mereka mendokumentasikan sejarah perkembangannya dari masa ke masa dengan sangat apik dan menarik. Tak heran, ada beragam bangunan di Uni Emirat Arab yang berfungsi sebagai museum. Mulai dari museum benda-benda bersejarah, hingga museum teknologi yang akan memprediksi Uni Emirat Arab di masa depan. Museum di Uni Emirat Arab Museum Dubai Umroh.com merangkum, museum ini terletak di dalam benteng tua, Museum Dubai membuat kita bisa melihat sejarah Dubai dari tahun ke tahun. Museum Dubai memang terletak di dalam sebuah bangunan yang bernama Benteng Al Fahidi. Dahulu, bangunan tertua di Dubai ini difungsikan sebagai pertahanan kota. Bahkan, benteng Al Fahidi ini dulu juga digunakan sebagai penjara dan gudang senjata. Baca juga: 2 Masjid Terindah di India yang Wajib Dikunjungi Kini, Benteng Al Fahidi difungsikan sebagai Museum…
Sultan bergelar Sang Halilintar ini sangat dihormati oleh warganya. Ia naik tahta setelah sang ayah, Sultan Murad, tutup usia. Ketika ia menjabat sebagai pemimpin kerajaan Ottoman, ia berhasil menundukkan Bulgaria, Bosnia, Slanik, Albania, dan Balkan. Pemimpin yang Disegani Berbagai penaklukan itu membuat namanya kian besar, hingga membuat pemimpin-pemimpin di Eropa segan terhadapnya. Dia adalah Sultan Bayazid I. Sultan yang dikenal perkasa dan membuat 120 ribu tentara Hungaria tak berkutik saat Perang Salib. Baca juga: Bikin Mewek! Begini Kisah Ummu Ibrahim Al Haasyimiyyah Kala itu, Raja George IV memerintahkan para tentara untuk mengusir kaum muslim dari Eropa. Namun rencana itu gagal dan menorehkan nama Sultan Bayazid I sebagai pemimpin muslim yang perkasa. Kisah Sultan Bayazid dan Sang Hakim Namun Sultan Bayazid I pernah tidak berkutik ketika seorang Hakim menolak kesaksiannya. Saat itu, Sultan Bayazid I mendatangi pengadilan untuk memberi kesaksian pada suatu perkara. Di sana, Sultan Bayazid menghadap Syamsuddin Fanari, hakim…
Keshalihan seorang anak berawal dari ibunya. Seorang ibu yang sholeh dan beriman kepada Allah akan mencetak anak-anak sholeh dengan iman yang kuat. Seperti kisah seorang ibu yang bernama Ummu Ibrahim Al Haasyimiyyah. Teladan tentang kesholehan seorang ibu yang ditularkan kepada sang anak bisa kita simak dalam kisah Ummu Ibrahim. Seorang wanita yang sholeh dan sangat beriman kepada Allah. Keimanannya berhasil memotivasi sang anak, Ibrahim, untuk ikut serta beriman dan menjalankan perintah Allah. Baca juga: Perlu Dipahami, Ternyata Begini Kedudukan Seorang Ibu Sebuah Panggilan Berjihad untuk Warga Basrah Umroh.com merangkum, Abdul Wahid bin Zayd Al Bashri, murid Hasan Al Basri yang tinggal di Basrah, suatu hari mengumumkan bahwa ada sebuah kota Islam yang diserang. Pemimpin kota ini kemudian mendorong warganya ikut berjuang dan melawan. Kala itu ada seorang wanita sholehah di Basrah bernama Ummu Ibrahim Al Hashimiyah. Dan ia hadir mendengar seruan Abdul Wahid bin Zayd. Di dalam pidatonya, Abdul Wahid bin…
Shuhaib bin Sinan berasal dari keluarga terhormat Persia. Ayah dan pamannya pernah bekerja pada Raja Persia, dan mereka tinggal di Ninawa. Ketika Ninawa ditaklukan orang Arab, kehidupan Shuhaib berubah drastis. Ada riwayat yang mengatakan bahwa ia menjadi tawanan dan budak seorang saudagar Mekah, Abdullah bin Jud’an al-Quraisy. Tetapi ada juga yang mengisahkan Shuhaib masuk ke Mekah sebagai orang merdeka, lalu bersumpah setia kepada Abdullah bin Jud’an. Memperoleh Kehidupan yang Baik di Mekah Di Mekah, Shuhaib berhasil mengembalikan kehidupan normalnya. Bahkan ia menjadi seseorang dengan kedudukan terhormat, dan tinggal lama di Romawi sebagai saudagar. Inilah yang membuatnya mendapat gelar ‘Ar Rumi’, karena ia sangat mengenal seluk beluk Romawi. Baca juga: Ini Sosok Abu Musa, Sahabat Rasulullah yang Penuh Talenta Umroh.com merangkum, Shuhaib menjadi bagian kalangan mapan di Mekah. Ia berteman akrab dengan Umar bin Khattab. Shuhaib juga termasuk orang Mekah yang mendapat hidayah dari ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sebelum Nabi…
Al Mu’tashim Billah merupakan gelar milik Muhammad bin Harun Ar-Rasyid. Salah seorang khalifah dari Bani Abbasiyah yang menjabat setelah menggantikan saudaranya, Al Makmun. Julukan Al Mu’tashim Billah berarti ‘Yang berlindung kepada Allah’. Gelar yang disematkan pada namanya ini menjadikan Muhammad bin Harun Ar Rasyid sebagai khalifah pertama dari Bani Abbasiyah yang menggunakan kata ‘Allah’ pada namanya. Ia menjabat dari tahun 833 hingga 842 Masehi. Baca juga: Ini Sosok Abu Musa, Sahabat Rasulullah yang Penuh Talenta Mengenal Sosok Al Mu’tashim Umroh.com merangkum, Al Mu’tashim adalah seorang yang dikenal memiliki tubuh yang kuat. Badannya kekar, dan ia memiliki sikap militer dengan kedisiplinan yang tinggi. Karakter tersebut menjadi alasan Al Makmun memberikan tampuk kepemimpinan kepada Al Mu’tashim, agar bisa menghadapi pemimpin kerajaan Byzantium yang sangat kuat. Selain dikenal dengan kekuatannya, ia juga dikenal sebagai khalifah yang sangat memperhatikan kaum muslimah. Ia menjadi teladan bagi para pemimpin untuk segera bertindak cepat saat mengetahui ada…
Abu Musa Al Asy’ari adalah nama kunyah dari Abdullah bin Qays. Setelah mendengar kabar keberadaan utusan Allah penyebar tauhid di Mekah, ia segera meninggalkan kampung halamannya di Yaman. Umroh.com merangkum, selama di Mekah, beliau banyak menghadiri majelis Rasulullah. Di situlah pengetahuan sekaligus keimanannya meningkat. Ilmu-ilmu dari Rasulullah dibawanya ke Yaman, untuk diajarkan pada orang-orang di kampung halamannya. Ia pun berhasil mendakwahkan Islam kepada beberapa orang. Baca juga: Inilah Al-Khazani, Ilmuwan Islam Penemu Teori Gravitasi Mengenal Sosok Abu Musa Ketika kaum muslimin Mekah hijrah ke Habasyah, dirinya ikut menyertai. Saat berada di Yaman, beliau mendengar kabar bahwa Rasulullah meninggalkan kota Mekah untuk berhijrah. Dia memutuskan untuk ikut dengan mereka bersama dua orang kakaknya, Abu Burdah dan Abu Ruhm, serta sekitar 50 orang dari Yaman. Mereka menuju Habasyah berkendara perahu. Di Habasyah, dia beserta rombongan tinggal bersama kaum muslimin. Setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hijrah ke Madinah, rombongan Abu Musa juga…
Islam memberi pedoman hidup bagi seluruh manusia. Segala aspek diatur agar hidup kita berkualitas. Salah satunya adalah hubungan orang tua dan anak. Al Quran dan Hadis sering memaparkan pentingnya berbakti kepada orang tua. Islam sangat memperhatikan posisi orang tua. Pentingnya Berbakti kepada Orang Tua 1. Berlaku Santun kepada Orang Tua Umroh.com merangkum, islam mengajarkan kita agar senantiasa berperilaku santun kepada orang tua. Kita dilarang berkata kasar, bahkan mengatakan ‘Ah’ tidak dibolehkan. Perintah ini tercantum dalam Surat Al Isra ayat 23-24. Allah berfirman, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. Baca juga: Perhatikan Baik-baik! Ini Adab Orang Tua kepada Anaknya 2. Berbuat Baik kepada…
Kelahiran peradaban modern tak lepas dari peran Ibnu Tufail. Nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad bin Abdul Malik bin Muhammad bin Ibnu Thufail Al-Qaysi. Karya-karya filsuf sekaligus dokter itu memberikan sumbangan besar bagi perkembangan peradaban manusia hingga kini. Terutama di bidang filsafat, sastra, kedokteran, dan psikologi. Di bidang sastra dan filsafat, beliau sangat dikenal lewat karyanya yang berjudul Hayy ibn Yaqdhan. Novel filosofis yang juga dikenal oleh dunia barat dengan judul Philosophus Autodidactus. Mengenal Sosok Ibnu Tufail Ibnu Tufail adalah keturunan suku Arab Kays. Suku yang terkemuka, sehingga dirinya mendapat kemudahan untuk mengakses fasilitas belajar. Beliau juga sering disebut Al Andalusi atau Al Kurtubi Al Isybili. Orang-orang Eropa biasa memanggilnya Abubacer. Baca juga: Bisa Jadi Solusi, Ini Jaminan Kesehatan Menurut Islam Beliau dikenal sebagai seseorang yang memiliki semangat besar untuk menuntut ilmu. Semangat itu menuntunnya menjadi ilmuwan muslim penguasa berbagai bidang ilmu, seperti filsafat, kedokteran, matematika, astronomi, dan psikologi. Novel Filosofis…
Nama Persia berubah menjadi Negara Iran akibat adanya harapan untuk menyatukan penduduk di wilayah tersebut. Pemimpin Persia kala itu, Shah Reza Pahlevi, menginginkan sebuah nama yang tidak membuat warga Persia terkotak-kotak. Berbagai etnis penduduk Persia dapat hidup damai tanpa perseteruan. Namun etnis Kurdi dan Turds masih belum memiliki rasa kebersamaan, sehingga sulit disatukan. Sementara itu, nama Persia cenderung memiliki konotasi negatif. Persia diartikan sebagai sesuatu yang lemah, sehingga dikhawatirkan akan menghambat perkembangan dinasti di tengah dominasi imperialisme Eropa. Baca juga: Terungkap, Ini Sejarah dan Pentingnya 5 Kota Suci di Irak Umroh.com merangkum, pada tanggal 21 Maret 1935, Iran resmi menggantikan Persia. Wilayah Persia di peta Asia berganti nama menjadi Iran, dan negara-negara lain tidak diperkenankan memanggil wilayah itu dengan nama ‘Persia’. Asal Nama ‘Iran’ ‘Iran’ diambil dari kata ‘Aryan’ yang berarti ‘tanah bangsa Arya’. Nama ini diajukan oleh Menteri Ekonomi, Nazi Hjalmar Schacht, kepada Shah Pahlevi. Dia menekankan pada makna…
