1
Serba-serbi Ramadhan

Doa I’tikaf Beserta Syarat dan Tempatnya

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr
Advertisements
webinar umroh.com

Umroh.comSalah satu ibadah yang dianjurkan saat bulan Ramadhan adalah memanjatkan doa i’tikaf. I’tikaf sendiri berarti berdiam diri di dalam masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah. Saat i’tikaf, seseorang akan memfokuskan waktunya di dalam masjid untuk melakukan ibadah dan menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan. Dengan melakukan sunnah Rasulullah ini, seseorang juga akan terjaga dari nafsu yang berlebihan, sehingga ia bisa menghindari maksiat.

Rasulullah biasa beri’tikaf di bulan Ramadhan. Namun, beliau juga melakukan i’tikaf di luar bulan Ramadhan. Sebagaimana dituturkan Ubay bin Kaab, “Rasulullah beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Kemudian beliau pernah bersafar selama setahun dan tidak beri’tikaf, akhirnya beliau pun beri’tikaf pada tahun berikutnya selama dua puluh hari” (HR.Ahmad).

Dari hadis tersebut para ulama menyimpulkan bahwa kala itu Rasulullah bukanlah meng-qadha, dan I’tikaf boleh dilakukan setiap waktu. Karena jika qadha, maka beliau akan bersegera melaksanakannya.

Ketika Rasulullah tidak bisa melaksanakan i’tikaf di bulan Ramadhan, beliau juga menggantinya di bulan Syawal. Ini menunjukkan bahwa i’tikaf merupakan ibadah yang sangat penting. I’tikaf dengan mengerjakan ibadah-ibadah tertentu memang bisa menjadi salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah.

I’tikaf juga dilaksanakan oleh nabi terdahulu. Allah berfirman, “Dan telah kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail bersihkanlah rumahku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang i’tikaf, orang yang ruku’, dan orang yang sujud” (QS.Al Baqarah: 125).

Doa I’tikaf

Doa i’tikaf yang bisa dipanjatkan ketika permulaan adalah niat i’tikaf. Niat merupakan bagian paling penting dalam sebuah ibadah. Tanpa niat, berdiam diri di masjid tidak akan bernilai i’tikaf. Niat pada dasarnya terletak di dalam hati. Namun kita bisa melafalkan niat sebagai penguat niat di dalam hati. Lafal doa i’tikaf terkait niat yang bisa diucapkan ialah:

نويت الاعتكاف لله تعالي

Nawaitul I’tikaf Lillahi Ta’ala

webinar umroh.com

Artinya: “Saya niat i’tikaf karena Allah Ta’ala”

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ مَا دُمْتُ فِيهِ

Nawaitu an a‘takifa fii haadzal masjidi maa dumtu fiih

Artinya: “Saya berniat i’tikaf di masjid ini selama saya berada di dalamnya”

نَوَيْتُ الاِعْتِكَافَ فِي هذَا المَسْجِدِ لِلّهِ تَعَالى

Nawaitul i’tikaafa fii haadzal masjidi lillaahi ta‘aalaa

Artinya: “Saya berniat i’tikaf di masjid ini karena Allah SWT”

Baca juga: 5 Keutamaan Bulan Syawal yang Harus Dipahami

Syarat Sah I’tikaf

Umroh.com merangkum, i’tikaf merupakan salah satu bentuk ibadah, sehingga ada hal-hal yang harus dipenuhi agar berdiam di masjid menjadi bernilai ibadah. Syarat sah i’tikaf yang pertama adalah niat. Ketika memasuki masjid, kita harus memiliki niat untuk mengerjakan i’tikaf.

Syarat sah i’tikaf yang kedua adalah berdiam diri di dalam masjid. Para ulama menjelaskan bahwa waktu minimal untuk i’tikaf ialah setengah hari. Sementara itu, tidak ada batasan waktu maksimal dalam beri’tikaf.

Punya rencana untuk berangkat umroh bersama keluarga? Yuk wujudkan rencana Anda cuma di Umroh.com!

I’tikaf juga bisa dilaksanakan di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah. Beliau bersabda, “Sesungguhnya saya beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dalam rangka mencari Lailatul Qadr. Kemudian saya beri’tikaf di sepuluh hari pada pertengahan Ramadhan, dan saya didatangi oleh (Jibril) dan diberitahu bahwa malam tersebut terletak pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Oleh karena itu, siapa diantara kalian yang ingin beri’tikaf, silahkan beri’tikaf. Maka para sahabat pun beritikaf bersama beliau.” (HR.Muslim).

Tempat untuk Melaksanakan I’tikaf

I’tikaf hendaknya dilaksanakan di dalam masjid. Terutama bagi laki-laki, i’tikaf harus dilaksanakan di masjid jami’, atau masjid yang di dalamnya dikumandangkan adzan serta memiliki imam. Walaupun masjid tersebut tidak digunakan untuk melaksanakan shalat lima waktu berjamaah secara penuh, masih boleh dijadikan tempat i’tikaf.

Hanya di Umroh.com, Anda akan mendapatkan tabungan umroh hingga jutaan rupiah! Yuk download aplikasinya sekarang juga!

Sedangkan bagi perempuan, para ulama berpendapat bahwa i’tikaf boleh dilaksanakan di masjid rumahnya. Tempat yang dimaksud ‘masjid di rumahnya’ adalah tempat ibadah yang memang dipersiapkan secara khusus untuk melaksanakan shalat lima waktu. Namun, ada juga ulama yang membolehkan wanita untuk beri’tikaf di masjid. Di tempat yang masih satu atap dengan masjid, atau di bagian luar masjid yang masih berhubungan dengan masjid juga dibolehkan.

Tetapi ulama Hanafiyah berpendapat bahwa wanita hendaknya beri’tikaf di masjid, karena dahulu istri-istri Rasulullah juga mengerjakan i’tikaf di masjid, bukan di rumah-rumah mereka. I’tikaf di masjid di rumah juga tidak dibolehkan, karena masjid di dalam rumah bisa berubah-ubah, dan bisa jadi orang yang sedang junub boleh mendiaminya.

Tommy Maulana

Alumni BUMN perbankan yang tertarik berkolaboraksi dalam bidang SEO, Umroh, Marketing Communication, Public Relations, dan Manajemen Bisnis Ritel.