play-store

Download GRATIS Mobile App

Bisa UMROH GRATIS, Cek Jadwal Sholat dan Al Quran Digital

Unduh
 
1
Haji Umroh & Haji

Haji Mabrur: Pengertian, Doa, Hadist, Ucapan, Ciri-ciri, dan Larangan

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Para jamaah yang telah melaksanakan ibadah haji, tentu ingin menjadi haji mabrur. Tentunya setelah berbagai rukun, wajib, dan sunnah haji dilakukan di tanah suci ketika beribadah haji. Untuk mengetahui mengenai mabrurnya haji, simak uraiannya berikut ini.

Pengertian Haji Mabrur

Dr. Asrorun Ni’am (Sekretaris Komisi Fatwa MUI) menjelaskan arti haji mabrur. Menurut bahasa, “Al Mabrur” adalah isim maf’ul dari akar kata “Al Birru”. Sementara arti dari “Al Birru” adalah kebaikan. Jadi “Al Hajjul Mabruru” artinya haji yang diberi kebajikan atau kebaikan.

Menurut istilah, pengertiannya adalah haji yang diterima Allah dan memiliki dampak yang baik. Dampak baik tersebut tampak pada diri sendiri serta bagi orang lain atau bermanfaat bagi orang lain.

Syaratnya

Menjadi haji mabrur merupakan impian setiap muslim. Namun, untuk mencapainya tidak mudah. Ada syaratnya yang harus diperhatikan. Di antaranya:

  1. Menjaga niat
  2. Mendalami agama Islam
  3. Memastikan berangkat dengan rezeki yang halal
  4. Meningkatkan ibadah

Baca Juga: Setelah Berhaji, Kerinduan Anda ke Tanah Suci Bisa Terwujud Melalui Umroh.com

Haji Mabrur

Doa Haji Mabrur

Ada sebuah memohon dengan doa haji mabrur yang berasal dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Umar.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَ سَعْيًا مَشْكُوْرًا وَ ذَنْبًا مَغْفُوْرًا

Allahummaj’al hajjan mabruuro, wa sa’yan masykuura, wa dzanban maghfuuro

Artinya: “Ya Allah, jadikan haji ini sebagai haji yang mabrur, sa’i yang penuh berkah, dan pengampun bagi dosa”.

Doa ini dibaca ketika jamaah haji telah selesai melakukan semua amalan dalam haji. Ucapkan doa setelah bertahalul, ketika selesai melempar jumrah ‘Aqabah di tanggal 10 Dzulhijjah (Hari Nahr).

Bukan hanya untuk diri sendiri, namun jamaah juga dianjurkan saling mendoakan satu sama lain dengan doa haji mabrur ini.

Baca Juga: Doa Haji Mabrur yang Harus Dilafalkan dan Dihayati

Ucapan untuk Para Jamaah

Ketika menjumpai seseorang yang baru pulang haji, dianjurkan memberi ucapan berisi doa agar menjadi haji mabrur. Kita bisa menyampaikan ucapan haji mabrur ini dengan melafalkan doa yang diriwayatkan Ibnu ‘Umar dan Ibnu Mas’ud:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَ سَعْيًا مَشْكُوْرًا وَ ذَنْبًا مَغْفُوْرًا

Allahummaj’al hajjan mabruuro, wa sa’yan masykuura, wa dzanban maghfuuro.

Artinya: “Ya Allah, jadikan haji ini sebagai haji yang mabrur, sa’i yang penuh berkah, dan pengampun bagi dosa”.

Selain memberikan doa sebagai ucapan haji mabrur, kita juga bisa mencontoh kalimat yang diucapkan Abu Qilabah kepada Khlaid bin Al Hazza’ yang baru kembali dari berhaji. Untuk menyambut Kholid bin Al Hazza’, Abu Qilabah mengucapkan:

بَرَّ العَمَلُ

Barral ‘amalu

Artinya: “Semoga Allah menjadikan amalmu mabrur”.

Baca Juga: Ucapan Haji Mabrur untuk Mereka sepulang Berhaji

Haji Mabrur

Ciri-ciri Haji Mabrur

Tanda atau ciri haji mabrur bisa dilihat setelah seorang jamaah kembali dari Tanah Suci. Berikut cirinya:

1. Semakin Meningkat Ibadahnya

Pertama bisa dilihat dari banyaknya ibadah yang dilakukan sepulang dari Tanah Suci. Jamaah haji akan mengalami peningkatan dalam hal ibadah pribadi. Ibadahnya semakin banyak, atau semakin berkualitas. Misalnya, shalat sunnah bertambah, semakin sering bersedekah, atau semakin giat berusaha shalat dengan khusyuk.

2. Semakin Taat kepada Allah

Sepulang dari Tanah Suci, seseorang akan merasa semakin dekat dengan Allah. Kedekatan itu ditunjukkan dengan ketaatan yang semakin meningkat. Ciri-cirinya ditunjukkan dengan semakin bertambahnya semangat untuk mematuhi segala perintah Allah. Jamaah haji yang telah pulang juga akan berusaha menjauhi hal-hal yang dilarang Allah.

3. Memiliki Hubungan yang Semakin Baik dengan Sesama

Saat melaksanakan ibadah haji selama berhari-hari, jamaah haji terbiasa untuk tidak melakukan rafats, fusuq, dan jidal. Ketiganya merupakan larangan dalam ibadah haji. Jika berhasil melakukan hal tersebut, maka seseorang sudah terlatih untuk menjaga anggota tubuh agar berbuat santun, sesuai tuntunan Allah.

Baca Juga: Tentang Niat Haji

Setibanya di Tanah Air, jamaah haji yang memperoleh haji mabrur akan menunjukkan sikap baik. Kepada orang-orang di sekelilingnya, ia akan tampak menunjukkan perilaku:

– Menebarkan Kedamaian

Pertama mereka setelah berhaji akan menebar kedamaian. Ia selalu berusaha menjadi penjaga kedamaian, sehingga tidak mudah terpancing emosi yang merusak suasana di sekelilingnya. Ia tidak akan mudah ghibah dan menebarkan fitnah, apalagi mencaci maki dengan perkataan yang tidak patut.

– Gemar Memberi

Jika seseorang memperoleh haji mabrur, ia akan menunjukkan tanda-tanda gemar memberi makan kepada orang lain. Ia memiliki solidaritas sosial yang tinggi, sehingga tidak tinggal diam saat mengetahui ada yang kelaparan. Hatinya semakin lembut, dan tangannya semakin ringan untuk mengulurkan tangan kepada orang yang membutuhkan.

– Gemar Menyambung Silaturahim

Menyambung berarti mengusahakan yang telah putus bisa terhubung kembali. Tindakan ini tidak mudah, karena seseorang harus menurunkan ego agar bisa menyambung kembali silaturahim yang telah putus. Seorang haji mabrur melakukannya sebagai wujud menebar kasih sayang karena Allah Ta’ala, dan menjalin hubungan baik dengan sesama manusia.

Baca Juga: Ciri-ciri yang Perlu Diketahui agar Mabrur Ibadah Hajinya

Haji Mabrur

Hadist-hadist yang Berkaitan

Hadist Haji Mabrur yang Pertama Mengenai Orang yang Berhaji adalah Tamu Allah, sehingga Akan Dikabulkan Permintaannya

Melakukan ibadah haji berarti mengunjungi rumah Allah di Tanah Suci. Karena itulah jamaah haji disebut juga tamu Allah. Tamu-tamu Allah itu akan mendapat perlakukan istimewa, dimana seluruh permintaannya akan dikabulkan.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Tamu Allah itu ada tiga, yaitu orang yang berperang, orang yang melakukan haji, dan orang yang melakukan umroh” (HR.An Nasa’i)

Ibnu ‘Umar menuturkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumroh adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilanNya. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah, pasti akan Allah beri” (HR.Ibnu Majah).

Ciri Mabrurnya Haji Menurut Rasulullah

Mabrurnya haji seseorang adalah hak istimewa Allah. Hanya Allah yang tahu dan berhak menentukan apakah haji yang telah ditunaikan diterima dan memperoleh haji mabrur atau tidak. Walaupun predikat haji mabrur hanya diketahui oleh Allah, namun Rasulullah juga pernah menjelaskan tentang cirinya pada seseorang. 

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah pernah ditanya para Sahabat tentang ciri mabrurnya haji, “Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur?”. Rasulullah menjawab, “Memberikan makanan dan menebarkan kedamaian”. Sementara hadist lain menunjukkan bahwa Rasulullah menjawab, “Memberikan makanan dan santun dalam berkata”.

Dari kedua hadist ini, para ulama kemudian menyimpulkan bahwa tanda-tanda haji mabrur, sesuai hadist Rasulullah ada tiga, yaitu : menjadi santun dalam tutur katanya, selalu menebarkan kedamaian, serta lebih peduli terhadap kondisi orang-orang di sekitarnya (gemar memberi makan).

Haji Merupakan Jihad bagi Orang yang Lemah

Orang yang lemah dan tidak mampu berjihad bisa mendapatkan pahalanya dengan melaksanakan haji. Dituturkan Ummu Salamah, Rasulullah pernah bersabda, “Haji adalah jihad bagi setiap orang yang lemah” (HR.Ibnu Majah).

Selain itu, haji juga sebenarnya merupakan jihad bagi siapapun. Bedanya, jihad dengan berhaji tidak menggunakan senjata. Diriwayatkan Imam At Thabrani, suatu hari ada Sahabat yang mendatangi Rasulullah. Sahabat lelaki itu bertanya, “Sungguh, aku ini penakut. Sungguh, aku ini orang lemah”. Rasulullah kemudian bersabda, “Marilah menuju jihad yang tiada senjata padanya, yaitu haji”.

Baca Juga: Hadist Haji Mabrur Perlu Kamu Ketahui

Larangannya

Ada tiga larangan dalam haji, yaitu rafats, fusuq, dan jidal. Ketiganya tidak boleh dilakukan selama melaksanakan ibadah haji.

Dalam surat Al Baqarah ayat 197, Allah berfirman yang artinya “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang diketahui. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, fusuq, dan jidal”.

Ibnu Abbas menjelaskan: rafats adalah berhubungan seksual, fusuq artinya perbuatan maksiat, dan jidal berarti melakukan tindakan berbantah-bantahan.

Baca Juga: Larangan Haji Perlu Anda Ketahui

Haji Mabrur

Siapa yang Menentukan Mabrurnya Haji?

Jamaah bisa mengusahakan pelaksanaan haji yang sebaik-baiknya. Mulai dari terpenuhinya syarat, rukun, dan wajib haji. Semua itu akan berpengaruh pada sah atau tidaknya ibadah haji.

Akan tetapi, manusia biasa tidak memiliki pengetahuan untuk mengetahui apakah ibadah haji diterima atau tidak. Apakah kita memperoleh haji yang mabrur atau tidak. Diterimanya ibadah haji berkaitan erat dengan ibadah haji yang mabrur. Akan tetapi, diterima atau tidaknya ibadah haji merupakan kewenangan Allah.

Para ulama menekankan bahwa mabrurnya haji bisa dilihat dari perilaku jamaah haji setelah kembali dari Tanah Suci. Jika ia menjadi pribadi yang lebih baik, bisa jadi itu merupakan tanda diterimanya ibadah haji. Karena itu agar memperoleh haji yang mabrur, kita hendaknya selalu berdoa agar Allah berkenan menerima ibadah kita, serta menjaga ibadah dan perilaku, baik selama di Tanah Suci maupun di Tanah Air.

Baca Juga: Pengertian Haji Mabrur dan Syaratnya

Facebook Comments