1
Sejarah Islam

Ini Potret Hubungan Mekah-Madinah dengan Nusantara Sejak Dulu

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr
Advertisements
webinar umroh.com

Makkah dan Madinah merupakan dua kota suci, yang menjadi tempat umat muslim seluruh dunia menunaikan ibadah haji dan umroh. Umat muslim yang beribadah di sana juga termasuk umat muslim dari Indonesia. 

Kini, kita memandang keduanya sebagai dua kota suci yang menjadi impian setiap muslim Indonesia untuk menunaikan ibadah haji dan umroh. Namun di masa lalu, Mekah dan Madinah memiliki hubungan yang cukup kompleks dengan orang-orang di Nusantara, ketika negara Indonesia belum terbentuk.

Seorang antropolog Belanda yang bernama Martin Van Bruinessen pernah menulis sebuah artikel yang berjudul Mencari Ilmu dan Pahala di Tanah Suci : Orang Nusantara Naik Haji. Dalam artikel tersebut, disebutkan bahwa sejak tahun 1860, bahasa Melayu sudah menjadi bahasa kedua di Mekah.

Mekah dan Madinah Dianggap Penting Sejak Dulu

Banyaknya jamaah haji Nusantara di tahun itu membuat Bruinessen melihat pentingnya peran Mekah dan Madinah untuk orang Nusantara. Keterikatan tersebut disebabkan karena orang Jawa percaya dengan adanya pusat kosmis yang menjadi titik temu, antara dunia nyata dan alam gaib. Ini mirip dengan budaya dan kosmologi masyarakat Asia Tenggara pada umumnya. 

Titik temu inilah yang kemudian menjadi tempat untuk mencari ilmu (ngelmu) dan mendapatkan legitimasi politik, yang pada zaman kerajaan Mataram disebut dengan ‘Wahyu’. Tradisi tersebut berlangsung sejak abad ke-17, ketika raja-raja Jawa mulai mencari ‘wahyu’ dan legitimasi politik di Mekah.

Kerajaan Islam Berlomba Mendapat Pengakuan dari Mekah

Saat itu, Raja Banten dan Mataram mulai berkompetisi untuk mengirim utusan ke Mekah. Mereka mencari pengakuan dan meminta gelar Sultan dari para petinggi di Mekah. Gelar yang diperoleh dari Mekah tersebut dianggap bisa memberikan dukungan supranatural terhadap kekuasaan mereka. Utusan Banten dan Mataram yang dikirim ke sana kemudian pulang dan membawa hadiah dari Syarif Besar, penguasa Haramain atau Mekah dan Madinah saat itu. Hadiah tersebut adalah potongan kiswah.

Di tahun 1674, seorang pangeran dari kerajaan di Nusantara pertama kali menunaikan ibadah haji. Ia adalah putra dari Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten, yang bernama Abdul Qahhar. Sepulangnya dari ibadah haji, ia dapat gelar Sultan, sehingga dipanggil Sultan Haji. Keberangkatan Pangeran ke Tanah Suci kemudian disusul oleh penasehat dari Sultan Ageng Tirtayasa yang bernama Syekh Yusuf Makassar. Ia melakukan perjalanan di tahun 1644 dan kembali di tahun 1670.

Perjalanan Panjang Ibadah Haji Kala Itu

Beberapa abad yang lalu, orang-orang Nusantara harus berjuang untuk bisa menunaikan ibadah haji. Sekitar tahun 1853 sampai 1858, ada 12.985 orang Nusantara yang berangkat haji. Namun yang kembali pulang hanya berjumlah 5.600 orang. 

webinar umroh.com

Perjalanan berangkat ke Mekah dan Madinah membutuhkan waktu yang lama, serta perjalanan yang berbahaya. Mereka menuju Mekah dan Madinah menggunakan kapal yang pelayarannya masih sangat tergantung dengan musim. Calon jamaah haji kala itu biasanya berangkat menuju Mekah dan Madinah lewat Pelabuhan Aceh. Inilah yang menyebabkan Aceh disebut dengan Serambi Mekah. 

Di pelabuhan Aceh, para calon jamaah haji itu menunggu kapal yang akan berangkat ke India. Dengan menaiki kapal itu, mereka menuju India dan sesampainya di India, jamaah calon haji melakukan perjalanan ke Hadramaut, Yaman atau langsung menuju ke Jeddah, Arab Saudi.

Selain perjalanan yang panjang, para jamaah calon haji itu juga harus berhadapan dengan perompak dan penyakit. Tidak jarang kapal yang mereka naiki tenggelam atau terdampar di pulau yang tidak dikenal. Namun para jamaah calon haji dari Nusantara dikenal sangat gigih untuk bisa mencapai Tanah Suci.

Menjadi Tempat Berdiskusi Mengatasi Penjajahan

Bahasa Melayu yang banyak digunakan di Mekah juga menjadi ikatan pemersatu orang-orang Nusantara saat berada di Mekah. Di sana bukan hanya ada orang Jawa, tapi juga ada orang dari Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan, Kalimantan, Maluku, Minangkabau, Aceh, dan Semenanjung Malaya. 

Di Tanah Suci, mereka bertemu dan berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahan Nusantara yang sedang dijajah oleh Belanda. Inilah yang membuat Bruinessen menyimpulkan bahwa perjalanan haji orang-orang Nusantara kala itu bukan hanya ibadah, namun juga sebagai ajang untuk mempersatukan Nusantara dan mencari cara mengusir penjajah.

Tommy Maulana

Alumni BUMN perbankan yang tertarik berkolaboraksi dalam bidang SEO, Umroh, Marketing Communication, Public Relations, dan Manajemen Bisnis Ritel.