1
Muslim Lifestyle

Inilah Ciri Orang Suudzon, Apakah Anda Memilikinya?

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr
Advertisements
webinar umroh.com

Umroh.com – Suudzon berarti memiliki prasangka buruk. Bisa jadi orang yang suudzon salah memahami atau menerima tindakan orang lain. Siapapun pernah suudzon, terutama ketika seseorang menganggap orang lain melakukan hal yang tidak dilakukannya. Misalnya, suudzon bahwa seseorang yang tengah mengaji dengan bersuara adalah riya, atau berburuk sangka bahwa seseorang memiliki niat buruk ketika berbuat baik kepada kita. Lalu bagaimana ciri orang suudzon itu sendiri? Berikut penjelasannya.

Bahaya Suudzon

Bahaya suudzon bisa menimpa diri sendiri dan orang lain. Orang yang suudzon atau memelihara kebiasaan berburuk sangka akan terbiasa dengan perilaku tersebut, sehingga hatinya menjadi keruh. Ia tidak bisa menerima kebaikan dari orang lain, atau memandang positif kebaikan yang ada pada orang lain.

Baca juga: Harus Tahu! 8 Jalan Rezeki dalam Islam

Ketika ia tidak bisa menerima kebaikan dari orang lain yang ada di sekelilingnya, tentu saja hal itu berpengaruh terhadap hubungan dengan sesama manusia. Orang yang terbiasa suudzon akan mudah berselisih dengan orang lain. Hingga kemudian ia memiliki banyak musuh dalam kehidupannya.

Rasulullah bersabda, “Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah seduta-dustanya ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” (HR.Bukhari & Muslim).

Allah Melarang Buruk Sangka dan Perbuatan Buruk Lain yang Diakibatkannya

Buruk sangka kepada orang lain adalah hal yang dilarang oleh Allah. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS.Al Hujurat: 12)

Hanya di Umroh.com, Anda akan mendapatkan tabungan umroh hingga jutaan rupiah! Yuk download aplikasinya sekarang juga!

Dari ayat tersebut, tampak bahwa suudzon biasanya diikuti oleh dua dosa lainnya, yaitu mencari keburukan orang lain, dan membicarakan keburukan orang lain. Orang yang suka berburuk sangka biasanya akan terdorong untuk mencari keburukan orang lain demi membuktikan dugaannya. Jika tidak bisa mengendalikan diri, dia kemudian akan tergoda untuk membicarakan keburukan orang lain.

Ciri Orang Suudzon

Umroh.com merangkum, ada beberapa tanda dalam diri seseorang yang sedang dihinggapi buruk sangka. Tentu saja ciri orang suudzon ini hendaknya kita gunakan untuk mengoreksi diri sendiri. Jangan sampai kita jatuh pada perangkap suudzon lain, yaitu berprasangka bahwa orang lain tengah suudzon.

webinar umroh.com

1. Mengabaikan Kebenaran

Orang yang sedang suudzon biasanya lebih senang terhanyut dengan prasangkanya sendiri. Ia meyakini apa yang disangkakannya, tanpa ada niat untuk mencari kebenaran. Bahkan jika suudzon semakin dalam, seseorang akan menolak kebenaran. Walaupun kebenaran sudah ada di depan matanya.

2. Melontarkan Tuduhan

Suudzon merupakan prasangka buruk, yang biasanya ditampakkan dengan tuduhan-tuduhan kepada orang lain. Entah tuduhan yang disampaikan secara lisan, atau disimpan sendiri di dalam hatinya. Contohnya, ketika ada seorang kawan yang berjalan dan tidak menyapa, kita mudah menuduh mereka sombong. Padahal bisa jadi ia tengah banyak pikiran, atau ia benar-benar tidak mengetahui keberadaan kita.

Jadilah tamu istimewa Allah di Tanah Suci dengan temukan paketnya cuma di Umroh.com!

[xyz-ihs snippet="Iframe-Package"]

3. Mengingat Keburukan Orang Lain

Prasangka buruk biasanya muncul karena seseorang pernah menerima pengalaman buruk dengan orang yang menjadi sasaran suudzon. Misalnya ketika ia menduga seseorang akan menipu dan membawa lari uangnya karena ia pernah mendengar berita bahwa orang tersebut pernah menipu.

Perbuatan ini sebenarnya adalah langkah kewaspadaan. Hanya saja, kita tetap harus menjaga pikiran agar tidak larut dengan suudzon. Bisa saja ia memang pernah menipu, dan kemudian bertaubat. Atau bisa saja berita yang ia dengar bukanlah berita benar. Lakukan saja langkah pencegahan agar tidak tertipu (misalnya meminta data diri selengkap mungkin dan mendokumentasikan transaksi), dengan tetap diiringi usaha agar tidak terperangkap pada suudzon.

4. Merasa Paling Mulia

Ciri orang suudzon selanjutnya adalah ia mulai merasa paling mulia. Orang lain dianggapnya memiliki keburukan. Ciri ini biasa menimpa seseorang yang dalam kesehariannya banyak melakukan ibadah dan amal sholeh. Namun tidak mampu mengendalikan hati dan pikirannya. Perasaan ‘merasa paling mulia’ membuatnya menganggap orang lain mudah melakukan keburukan.

Ada sebuah kisah tentang seorang ulama bernama Ibrahim bin Adham. Ketika tengah berjalan di tepi pantai, ia melihat seorang laki-laki tengah bermesraan dengan seorang wanita, dan di sampingnya tampak botol-botol minuman. Pemandangan ini membuatnya berpikir bahwa mereka adalah dua sejoli yang tengah mabuk dan bermesraan. Sang ulama kemudian menggelengkan kepala dan menyayangkan perbuatan mereka.

Tiba-tiba, ada ombak besar datang di pantai itu. Ombak itu menyeret orang-orang di tepi pantai. Beberapa berhasil menyelamatkan diri, namun tampak ada lima orang yang terseret ke tengah. Sang ulama tampak berdiri mematung karena tercengang dengan pemandangan di depannya.

Lelaki mabuk yang dilihatnya tadi kemudian berlari ke arah lima orang yang terseret. Ia berenang dan mereka yang tenggelam satu persatu berhasil diselamatkan. Namun sayang, ada satu orang yang tidak berhasil diselamatkannya.

Usai menyelamatkan empat orang, lelaki itu berjalan ke arah sang ulama. Ia berkata “Tadi aku hanya bisa menyelamatkan empat nyawa. Sementara engkau seharusnya bisa menyelamatkan satu nyawa yang tidak sempat kuselamatkan”.

Prasangka Sang Ulama Tak Terbukti

Sang ulama tersentak dan bingung. Belum reda kebingungannya, lelaki itu berkata, “wanita yang ada di sampingku tadi adalah ibuku. Tadi kami hanya meminum air biasa”. Lelaki itu seolah bisa membaca pikiran sang ulama.

Perkataan itu seakan memberi teguran keras kepada sang ulama. Sebelumnya, ia dengan mudah menilai lelaki itu adalah pemabuk dan berbuat asusila hanya berdasarkan pemandangan yang dilihatnya. Kemudian, orang yang disangkanya ahli maksiat itu ternyata melakukan hal yang lebih baik (bergegas menolong orang yang tenggelam), dibanding dirinya yang dikenal sebagai ahli ibadah. Kisah hidupnya ini begitu membekas, sehingga ia banyak berpesan agar manusia tidak mudah suudzon.

Punya rencana untuk berangkat umroh bersama keluarga? Yuk wujudkan rencana Anda cuma di Umroh.com!

Dari kisah itu, kita bisa memetik pelajaran bahwa sekelas ulama pun bisa terjebak pada perbuatan suudzon. Apalagi kita, yang masih banyak kekurangan dalam hal ibadah. Suudzon memang sangat mudah menghinggapi hati manusia, karenanya kita harus selalu berlindung pada Allah agar Ia senantiasa melindungi hati kita dari prasangka.

Tommy Maulana

Alumni BUMN perbankan yang tertarik berkolaboraksi dalam bidang SEO, Umroh, Marketing Communication, Public Relations, dan Manajemen Bisnis Ritel.