News Sejarah Islam

Inilah Sosok yang Raja yang Ingin Menghancurkan Ka’bah

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Kita semua pasti telah sering mendengar kisah penyerbuan ka’bah oleh pasukan bergajah yang dipimpin oleh Raja Abrahah, Namun lebih jauh dari itu, mungkin masih banyak yang belum tau siapa sebenarnya sosok Raja Abrahah. Raja Abrahah memiliki nama asli Abrahah Al Arsyam. Pada awalnya dia merupakan seorang kepala tentara di daerah Yaman. Kala itu, Yaman sendiri dipimpin seorang Gubernur Kerajaan Habasyah yang bernama Aryath.

Aryath adalah gubernur pertama di negeri itu yang memimpin mulai tahun 535 Masehi, setelah Yaman menaklukkan Himyariyah, dimana Himyariyah merupakan sebuah kerajaan yang menguasai Yaman selama beratus-ratus tahun lamanya. Kerajaan Habsyah sendiri terletak di Abissinia, Ethiopia dan kala itu dipimpin oleh seorang raja yang bernama Negus atau lebih dikenal dengan nama Najasyi, dan berada di bawah kekuasaan kekaisaran Romawi yang kala itu dipimpin oleh Justin I.

Tetapi beberapa saat setelah ditunjuknya Aryath oleh Raja Negus sebagai gubernur di daerah Yaman, timbullah perselisihan. Hal itu menyebabkan Abrahah membunuh Aryath hingga akhirnya menguasai semua bala tentara negeri Yaman. Raja Negus pada awalnya tidak membenarkan perbuatan Abrahah, serta memberi Abrahah peringatan keras. Akan tetapi, Abrahah mampu membujuk Raja Negus hingga membuat sang raja dapat memaafkannya. Karena itu lah akhirnya Negus pun mengangkat Abrahah sebagai gubernur kerajaan Habasyah di Yaman

Ketika itu, ka’bah sendiri sudah dibangun Nabi Ibrahin dan juga sudah banyak didatangi bangsa Arab dari segala penjuru pada saat bulan-bulan tertentu untuk melaksanakan haji, juga untuk membesarkan Ka’bah yang didirikan oleh Nabi Ibrahim. Melihat fenomena itu, timbul rasa iri di dalam hati Raja Abrahah. Oleh karena itulah, terbesit di dalam pikiran Abrahah untuk dapat menyaingi Mekkah, karena ia menghendaki agar banyak orang yang berasal dari berbagai penjuru jazirah Arab tak lagi mengunjungi Ka’bah yang berada di Mekkah, melainkan mengunjungi Yaman.

Agar dapat mewujudkan keinginannya itu, Abrahah awalnya terbesit untuk memohon bantuan kepada kekaisaran Romawi, agar mengirimkan tenaga kerja terampil yang ahli dalam bidang pembuatan mozaik untuk sebuah bangunan. Darisana, Abrahah mendirikan sebuah gereja besar dan sangat tinggi di Kota San’a, yang bernama Gereka Al Qullais yang memiliki arti menjulang tinggi. Gereja itu pun menjadi ikon San’a dan menjadi satu-satunya gereja yang paling megah kala itu.

Setelah selesai, Abrahah juga menginfokan keberadaan Al Qullais di San’a kepada banyak masyarakat di banyak penjuru jazirah Arab. Ia mengajak orang-orang Arab melakukan ibadah haji di Yaman dan tidak lagi mengunjungi Ka’bah. Kabar itu juga cepat tersebar dan menjadi bahan pembicaraan di kalangan bangsa Arab.

Kabar itu pun sampai ke telinga para keturunan Bani Kinanah, sebuah kabilah besar bangsa Arab yang menempati Mekkah. Bani Kinanah ini menurunkan banyak suku, seperti Bani Quraisy yang merupakan suku asal Nabi Muhammad SAW. Pada akhirnya salah seorang dari Bani Kinanah itu menngunjungi Kota San’a di Yaman. Dengan sembunyi-sembunyi, orang Bani Kinanah tersebut menyelinap ke Al Qullais dan melakukan pengerusakan.

Abrahah pun akhirnya mengetahui hal tersebut dan ia menjadi begitu marah. Selain itu, Abrahah juga menerima kabar jika yang membuat kerusakan pada Al Qullais adalah orang Arab yang kediamannya dekat dengan Ka’bah. Kejadian tersebut menjadikan kebencian Abrahah terhadap Ka’bah semakin menjadi-jadi hingga berkeinginan untuk menghancurkannya.

Akan tetapi, terdapat sejumlah perdebatan mengenai penyebab utama penyerangan Ka’bah ini. Dan seperti telah kita ketahui semua, penyerangan oleh pasukan bergajah gagal total atas pertolongan Allah, dimana seperti dijelaskan dalam surat Al-Fiil, pasukan-pasukan serta gajah-gajah itu pun berguguran ketika tiba burung yang berbondong-bondong, yang melemparkan batu dari api neraka.

Abrahah sendiri berhasil kembali ke San’a Yaman. Namun begitu, ia juga mati dengan kondisinya yang lebih mengenaskan dibanding pasukan-pasukannya. Abrahah meninggalkan dua orang anak bernama Yaksum dan Marsuq.