Ada beragam penyakit hati yang menyerang manusia. Salah satu penyakit hati adalah ujub. Itu karena penderita penyakit ujub biasanya merasa mulia dan besar diri. Ia cenderung meremehkan dan merendahkan orang lain. Bisa dibilang, ujub merupakan penyakit hati yang kronis.
Tanda-Tanda Orang yang Ujub
Menurut Imam Al Ghazali, mereka yang ujub kemudian akan memiliki sikap ke-aku-an. Ia gemar menyebutkan kelebihan-kelebihan dirinya. Sifat ini disebut sama dengan sifat Iblis yang menyebabkannya diusir dari surga. Saat itu, Iblis berkata, “Aku lebih baik dari Adam. Kau ciptakan aku dari api, sementara Kau ciptakan dia dari tanah”, demikian kata Iblis saat itu.
Ketika berada dalam sebuah forum atau majelis, orang yang ujub biasanya ingin agar terlihat menonjol. Ketika diajak bercakap-cakap, umumnya mereka tidak ingin kalah. Ia tidak suka jika perkataannya dibantah.
Orang yang ujub dan takabur (mutakabbir) disebutkan memiliki definisi yang mirip. Mereka yang menganggap diri lebih baik dari hamba Allah yang lain disebut memiliki sifat takabur atau mutakabbir. Mereka akan gusar saat menerima nasihat. Akan tetapi, mereka cenderung kasar saat memberi nasihat.
Sifat yang Tidak Disukai Allah SWT
Sifat ini jelas sangat tidak disukai oleh Allah. Bahkan Iblis sampai diusir dari surga karena memiliki sifat ini. Karena itu, sifat ujub atau takabur jangan sampai menjangkiti hati kita.
Cara Agar Terhindar dari Sifat Ujub
Imam Al Ghazali memberikan cara sederhana agar kita terhindar dari sifat ujub atau takabur. Yaitu dengan mengingat bahwa sesungguhnya nilai baik atau tidak hanya Allah yang tahu. Untuk mengetahui diri kita baik atau tidak, kita harus menunggu peristiwa kematian. Jadi jangan sampai kita merasa lebih baik dari orang lain. Meyakini bahwa diri kita lebih baik dari orang lain disebut Imam Al Ghazali sebagai sebuah kebodohan belaka.
Ketika memandang orang lain, pandanglah bahwa mereka pasti lebih baik dari dirimu
- Bila kamu bertemu anak kecil, ingatlah bahwa ia pasti lebih baik dari kita. Dosa anak-anak kecil tidak sebanyak dirimu. Umurnya yang masih muda memungkinkan ia belum pernah bermaksiat kepada Allah. Sementara diri kita yang sudah lebih berumur, tentu dosa dan maksiat yang dilakukan lebih banyak.
- Bila bertemu orang yang lebih tua, sadarilah bahwa ia pasti lebih baik dari kita. Umurnya yang lebih banyak dibanding kita membuatnya lebih banyak melakukan ibadah dibanding kita.
- Ketika bertemu orang berilmu, pandanglah ia sebagai seseorang yang telah menerima anugerah yang tidak Allah titipkan kepada kita. Ia lebih banyak menjangkau dari apa yang kita capai. Tentu saja ia mengetahui lebih banyak hal dibanding apa yang kita ketahui. Pemikiran ini pastinya tidak akan membuat kita merasa sepadan, apalagi merasa lebih baik dari dirinya.
- Jika bertemu dengan orang yang dianggap bodoh, ingatlah bahwa jika ia berbuat kesalahan atau bermaksiat, ia melakukannya karena ketidaktahuannya. Sementara kita yang lebih tahu, tentu akan bermaksiat dengan keilmuan yang kita ketahui. Inilah yang akan membuat kita menerima penghitungan yang lebih di akhirat kelak.
- Apabila bertemu dengan orang yang kafir, berprasangka baiklah, karena kita tidak tahu akhir hayat seseorang. Orang yang hari ini kafir, bisa jadi suatu hari menerima hidayah dan Islam, menumbuhkan ketaatan yang lebih dalam, lalu meninggal dengan amalan terbaiknya. Jika ini terjadi, ia akan keluar dari dosa-dosa masa lalu sebagaimana keluarnya sehelai rambut dari adonan roti. Sangat mudah. Sementara kita yang dengan ijin Allah telah beriman, bisa jadi akan tersesat di ujung usia, sehingga menjadi kafir. Kemudian meninggal dengan amal terburuk (Su’ul Khotimah).
Muslim dan kafir bukan keadaan yang tetap, suatu hari bisa berubah dan berbalik. Mereka yang hari ini dianggap kafir, bisa saja kelak ALlah berkenan membukakan hati dan memberinya hidayah, kemudian dekat dengan Allah.
Dari langkah-langkah mencegah ujub dan takabur dari Imam Al Ghazali tersebut, kita bisa belajar tentang satu hal. Bahwa sesungguhnya kita lebih baik menghabiskan waktu dan energi untuk melakukan introspeksi terhadap dosa dan kesalahan. Bukannya sibuk merasa lebih baik dari orang lain, dan mencari-cari kesalahan orang lain. Segala penilaian ada di tangan Allah. Semoga kita termasuk hamba yang selalu berada dalam ridhaNya.