Muslim Lifestyle News

Kamu Harus Memperhatikan Hal-Hal Berikut Ketika Ingin Ta’aruf

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Sebagai anak muda masa kini, mungkin sudah biasa dengan pacaran. Namun, sebagai umat Muslim tentunya kamu tahu bahwa dalam Islam nggak ada yang namanya pacaran karena pacaran hanya bersifat senang-senang dan belum tentu berakhir dengan pernikahan. Jika seseorang ingin menikah, maka dianjurkan melalui ta’aruf atau perkenalan antara si pria dan wanitanya. Tapi, tahukah kamu bagaimana proses ta’aruf yang sebenarnya dalam Islam?

Tidak Sekedar Mendatangi Calon Pasangan, Tapi Datangi Orang Tuanya Langsung

Kamu pasti sering menjumpai di mana cowok akan pedekate langsung ke cewek yang ia sukai. Nah, kalau dalam Islam hal seperti ini tidak diperbolehkan. Jika ada cowok yang suka padamu dan berniat untuk menikah, katakan padanya untuk menemui orangtua atau wali-mu langsung. Jangan biarkan ia mendekatimu secara langsung karena bisa saja ia hanya ingin bersenang-senang dan belum serius denganmu. Justru pertemuan langsung kepada orang tua itu juga merupakan bukti yang lebih nyata jika sang calon betul-betul mencintai wanita yang ingin dia jadikan pasangan, dan memang sudah terpikir serius untuk dapat menikah dengannya. Sangat berbeda dengan jika hanya berani pedekate dan mendekati sosok yang dia sukai tanpa mau dan terpikir untuk menemui orang tuanya langsung.

Seorang inspirator pernikahan syar’i, Sarah Hanifah, mengatakan proses ta’aruf  harus dimulai dari bagaimana cara si cowok itu mendekati calonnya. “Yang paling tepat itu mendatangi walinya, melalui perantara. Kalau mau serius jangan datangi calon perempuannya, tapi datangi walinya. Karena laki-laki dilihat keseriusannya kalau dia berani ngomong langsung ke wali. Artinya memang niatnya untuk menikah bukan cuma pacaran atau senang-senang sama si ceweknya doang.”

Batasi Interaksi Antara Cewek dan Cowok

Setelah berhasil mendekati orangtuamu dan sudah direstui untuk melakukan ta’aruf, bukan berarti kamu dan si dia bebas untuk berinteraksi. Batasi komunikasi antara kalian berdua, seperti chatting atau telepon, agar nggak menimbulkan baper-baper yang belum waktunya. Proses ta’aruf ini berarti masih saling mengenal antara satu sama lain dan belum ada hak untuk saling cemburu atau merasa sudah menjadi ‘hak milik’.

Kalau kamu dan dia terlalu sering berkomunikasi, dikhawatirkan kamu jadi terbawa perasaan hingga akhirnya jadi sedih kalau sampai ta’aruf ini nggak berjalan sesuai keinginanmu. Jadi harus lebih bisa menahan diri, ya. Ingat, Ta’aruf hanya sekedar proses pembuka agar kedua belah pihak bisa saling mengenal lebih jauh. Darisini sudah sangat jelas jika seseorang yang sudah melakukan ta’aruf tetap saja keduanya merupakan orang lain yang bukan muhrim dan belum diikat dengan status pernikahan. Sehingga tampaklah jelas sekali jika orang yang sudah melakukan ta’aruf belum halal untuk melakukan segala macam hal yang sudah boleh dilakukan antara sepasang suami istri.

Dua insan yang sudah melakukan ta’aruf pun harus sebisa mungkin membatasi interaksi mereka hanya pada hal-hal yang memang dibolehkan untuk berinteraksi terhadap lawan jenis secara umumnya. Oleh karena itulah jangan sampai terjebak dengan berpikir apabila sudah ta’aruf maka segalanya sudah halal, sehingga kita bisa terjebak melakukan banyak hal yang pada dasarnya jelas belum diperbolehkan. Karena itu ingatlah selalu jika kamu sudah melakukan ta’aruf, untuk tidak terjebak melakukan hal-hal lebih jauh yang memang dilarang dan tidak diperbolehkan antara pria dan wanita dalam agama. Sehingga ketika ingin berinteraksi pun harus benar-benar dipikir apakah interaksi tersebut diperbolehkan dalam Islam bagi yang belum menikah terhadap lawan jenis.

Berikut adalah beberapa hal yang wajib kamu perhatikan tatkala kamu ingin melaksanakan ta’aruf:

Jika Bertemu Tidak Hanya Berdua, Tapi Ada Pihak Lain yang Menemani

Setelah menemui orangtua dari wanita yang ingin dijadikan pasangan, tentunya dari pihak wanita juga harus menemui cowok yang akan menjadi calon suaminya nanti kan. Tetapi harus diingat satu hal, jika sang wanita memang ingin memenui lelaki yang menjadi calon suaminya itu, mereka juga harus ditemani oleh orang lain saat bertemu dengannya, dan orang lain tersebut tentunya tidak boleh seorang laki-laki yang bukan muhrimnya ya. Sosok yang dapat menemani si cewek kalo menemui cowok yang merupakan calon suaminya misalnya saja bisa berupa teman terdekat atau guru ngajinya. Dan bila si wanita ingin mengatahui lebih lanjut mengenai info cowok yang menjadi calon suaminya itu, mereka bisa mengulik seperti apa sosok cowok yang sedang mendekatinya ini lewat sahabat dekatnya. Dalam pertemuan yang terjadi ini, pihak wanita juga bisa menanyakan apa yang diharapkan dari sang laki-laki di masa depan setelah mereka menikah kelak. Darisini, si wanita sudah bisa mendapat gambaran seperti apa calon suaminya sebelum memutuskan untuk melanjutkan ke proses lamaran.

Jarak Anta Ta’aruf dan Lamaran Hingga Menikah Tidak Boleh Terlalu Lama

Banyak yang menyalahgunakan ta’aruf untuk mengikat si cewek supaya nggak nikah sama yang lain, padahal si cowok ini belum siap untuk menikah dalam waktu dekat. Tentunya hal ini sangat merugikan bagi si cewek karena ia jadi ‘digantungin’ tanpa ada kejelasan status mengenai pernikahannya. Makanya, Islam juga mengatur jarak antara proses ta’aruf dengan khitbah atau lamaran ini nggak boleh terlalu lama. Pada umumnya, sekitar satu sampai tiga minggu saja dari mulai perkenalan hingga akhirnya lamaran secara resmi.

Persiapkan Pernikahan Secapat Untuk Mengantisipasi Fitnah dan Menghindarkan Diri Dari Potensi Kemaksiatan

Kita semua harus mengetahui jika konsep pernikahan dalam Islam adalah membuat segalanya menjadi secepat mungkin. Jarak antara ta’aruf dan menikah juga tidak boleh terlalu lama, dalam hitungan bulan saja. Bahkan ada juga yang jarak keduanya tidak genap sebulan alias barusan sebatas hitungan minggu. Kita semua menyadari jika tentunya mempersiapkan pernikahan dalam waktu sesingkat itu nggak mudah.

Namun, Namun kita pun harus juga menyadari apabila pernikahannya diperlama maka bisa jadi menimbulkan fitnah bagi pihak lelaki dan juga wanitanya. Apalagi jika antara pihak laki-laki dan perempuan sebelumnya sudah saling mengenal dan juga sudah sering berkomunikasi. Sekali pun belum saling mengenal sebelumnya, tetap tidak ada alasan untuk melama-lamakan waktu antara ta’aruf dan menikah, apalagi sampai sudah mencapai hitungan tahun. Idealnya memang paling lama 4 bulan saja.

Apabila sebelumnya antara kedua belah pihak belum saling mengenal, tetap banyak cara agar keduanya bisa saling mengenal lebih jauh. Misalnya saja dengan menanyakan banyak info terhadap orang-orang terdekatnya seperti kerabat dan teman. Disamping itu pula jangan lupa untuk terus meminta petunjuk kepada Allah agar sekiranya memberi petunjuk apakah dia betul-betul baik buat kita.

Ingat ta’aruf bahkan khitbah hanya proses pendekatan ya, dan proses pendekatan ini juga boleh lanjut dan boleh tidak. Apabila setelah melakukan proses ini ke depannya sebelum menikah menemui ketidakcocokan dari kedua belah pihak, maka proses ini boleh saja dibatalkan dan tidak dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Namun tetap saja harus sebisa mungkin dapat benar-benar lanjut sampai proses pernikahan dan berakhir di pelaminan. Karena kita pun harus serius dalam melakukan dan menyikapi proses itu dan tidak boleh sampai menganggap ta’aruf dan khitbah merupakan proses yang main-main. Dan kalau pun tidak beranjak sampai ke pernikahan haruslah karena alasan yang memang serius dan tidak main-main, dan jangan sampai gagal menikah hanya karena alasan sepele yang sebenarnya juga bisa diatasi.

Bisa dibilang, pernikahan dalam Islam itu mudah dan simpel. Hanya saja dibutuhkan kesabaran hingga akhirnya mendapat sosok pendamping yang terbaik sesuai syari’at Allah. Jadi, kamu sudah siap belum untuk diajak ta’aruf?

(Sumber: Popbela)