1
Muslim Lifestyle

Inilah Alasan Wanita Disebut sebagai Tiang Negara

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr
Advertisements
webinar umroh.com

Umroh.com – Ada istilah yang menyebut bahwa wanita adalah tiang negara. “Wanita adalah tiang negara. Jika ingin menegakkan negara, lindungilah wanita; dan jika ingin menghancurkan negara, hinakanlah wanita”. Kalimat itu menyimpan pesan tentang betapa pentingnya peran wanita. 

Baca juga: Terungkap, Ini Alasan Islam Menyuruh Wanita Berkerudung

Wanita dalam Islam 

Umroh.com merangkum, wanita mendapat perhatian penting di dalam Islam. Misalnya saja, kehadiran surat An Nisa dalam Al Quran yang artinya “Wanita”. Selain itu, Rasulullah juga mengajarkan untuk menghormati “ibu” sebanyak tiga kali sebelum “ayah”.  

Wanita diberi perhatian khusus dalam Islam, karena wanita memang memegang peranan penting. Menurut para ulama, bila suatu kaum memiliki wanita-wanita yang baik atau sholihah, maka negara akan berkembang menjadi semakin baik. Sebaliknya, jika wanita-wanita di dalam suatu kaum atau negara memiliki karakter yang buruk, maka sebuah negara bisa hancur.

Peran wanita bagi negara berawal dari rumah atau keluarga. Wanita di dalam keluarga, baik dalam perannya sebagai ibu maupun istri, memiliki peran penting dalam menciptakan insan bermartabat. Selain melahirkan dan membesarkan, seorang ibu juga berperan sebagai madrasah utama bagi anak. Sebagai seorang istri, seorang wanita berperan dalam memberi dukungan kepada suami agar semakin baik dalam berkarya. 

Mau dapat tabungan umroh hingga jutaan rupiah? Yuk download aplikasinya di sini sekarang juga!

Wanita Sebagai Istri: Mendukung Suami  

Peran wanita sebagai seorang istri adalah memberikan dukungan kepada suami. Istri yang baik akan memberikan ketenangan bagi suami setelah ia kembali dari aktivitasnya dalam bekerja. Ketenangan yang diberikan seorang istri saat menyambut suami bisa membuat kepenatan yang dirasakannya seharian penuh menghilang. Dalam hal ini, istri berperan menciptakan suasana keluarga yang kondusif dan nyaman sebagai tempat kembali. 

Seperti Khadijah yang senantiasa menghadirkan ketenangan kepada Rasulullah yang pulang dalam keadaan lelah setelah berdakwah, atau Khadijah yang selalu mendukung dakwah Rasulullah, baik lewat hartanya maupun kemampuan negosiasinya. Karena kehadiran Khadijah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menemukan oase yang membuatnya lebih tenang, sehingga beliau lebih kuat saat menghadapi tantangan dalam berdakwah.  

Untuk itulah seorang wanita perlu menyesuaikan diri dalam perannya sebagai seorang istri. Istri yang baik hendaknya mampu mengendalikan diri dalam melampiaskan emosi. Jangan sampai hasrat atau keinginan untuk mengadu kepada suami menimbulkan pertengkaran dalam rumah tangga, hanya karena masing-masing tidak mampu membaca situasi.  

webinar umroh.com

Tim Umroh.com memaparkan, seorang istri hendaknya menunggu hingga lelah sang suami hilang sebelum mencurahkan isi hati. Sementara sang suami juga hendaknya mengerti bahwa istrinya hanya ingin didengar setelah seharian penuh mengurus rumah tangga. Tindakan saling mendukung antara suami dan istri inilah yang akan mampu mengoptimalkan peran istri sebagai tiang keluarga.  

Karena peran suami dan istri sama-sama diperlukan, maka pendidikan istri juga harus diperhatikan. Pendidikan yang baik bukan hanya harus dimiliki oleh pria atau suami yang harus mencari nafkah. Sang istri juga sebaiknya menerima pendidikan yang baik sebagai bekal untuk menghadapi situasi rumah tangga dan mendidik anak.  

Wanita Sebagai Ibu: Madrasah Pertama bagi Anak 

Biasanya, ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak. Semenjak lahir, hampir setiap waktu ibu selalu ada bersama anak. Merawat, memenuhi kebutuhannya, sampai mengajaknya berkomunikasi dan mengajari berbicara. Tidak heran bila ibu disebut sebagai madrasah pertama bagi seorang anak manusia.  

Dari ibu-lah seseorang belajar untuk memenuhi kebutuhannya, hingga memahami perilaku manusia dari teladan yang diberikan ibu (yang menghabiskan banyak waktu dengan sang anak). Karena itu, seorang wanita atau seorang ibu juga dituntut untuk memiliki ilmu. Baik itu ilmu agama, maupun ilmu-ilmu lain yang mendukung tumbuh kembang anak. 

Lewat sang ibu, anak akan belajar tentang aqidah dan akhlaq. Anak akan belajar mengenal Allah, Sang Maha Pencipta dari lisan atau perilaku sang ibu. Anak yang sering melihat ibunya beribadah, atau sering mendengar ibunya melantunkan kalimat thoyyibah atau Al Quran, akan tumbuh sebagai manusia yang akrab dengan ibadah-ibadah yang mendekatkan diri dengan Allah.  

Sebaliknya, jika sang ibu sering menunjukkan perilaku yang kurang terpuji, dan tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya sangat berpengaruh bagi pertumbuhan anak, maka anak akan tumbuh menjadi manusia yang jauh dari RabbNya.  

Seorang anak yang memiliki kedekatan yang baik dengan orang tua, terutama ibu yang baik, akan lebih mudah diarahkan untuk hidup sesuai dengan tuntunan yang digariskan oleh agama. Anak akan mengetahui hal-hal mana saja yang diridhai Allah, dan mana yang dilarang. Untuk itulah diperlukan pengetahuan, ketegasan, sekaligus kelembutan agar anak bisa menyerap pengetahuan agama dengan baik, dan tumbuh menjadi insan yang bermanfaat. 

Sebaliknya, jika seorang anak belajar tentang Tuhan dengan cara yang kurang tepat (misalnya ditakut-takuti, dibentak, atau perlakuan kasar lainnya), maka anak akan merasa jauh dan tidak nyaman dengan ilmu agama. Atau pada kasus lain, orang tua kurang menanamkan pendidikan agama sehingga anak tidak mengetahui hal-hal mana saja yang diwajibkan, diperbolehkan, atau dilarang dalam agama. Karena sejatinya agama adalah pedoman agar kehidupan manusia semakin berkualitas, maka tidak heran jika anak yang kurang mengenal TuhanNya akan tumbuh menjadi seseorang yang memiliki karakter atau mental yang kurang baik. 

Bukan hanya tentang ilmu agama yang akan menjadi dasar perkembangan karakter seseorang, anak-anak juga akan belajar tentang ilmu-ilmu dan karakter lain dari sang ibu. Misalnya optimisme dalam hidup, semangat untuk belajar, keterampilan hidup, dan juga cara memperlakukan orang lain. 

Yuk temukan paket umroh di umroh.com untuk menjadi tamu istimewa Allah di tanah suci!

[xyz-ihs snippet="Iframe-Package"]

Wanita sebagai Tiang Keluarga  

Jika pria disebut kepala keluarga, wanita bisa juga disebut tiang keluarga. Selayaknya tiang pada bangunan, tiang yang kokoh akan membuat sebuah keluarga lebih tangguh, terutama saat menghadapi badai yang menerpa rumah tangga. Ketangguhan itu berasal dari kesabaran seorang istri dalam menghadapi tantangan, keikhlasan dalam mendukung suami, kelembutan dalam mendidik anak, serta keimanan dalam menghadapi berbagai cobaan keluarga. 

Punya rencana untuk berangkat umroh bersama istri? Yuk wujudkan rencana Anda cuma di umroh.com!

Wanita sebagai Tiang Negara 

Dalam kehidupan bernegara, manusia-manusia yang lahir dari keluarga kuat dan kokoh akan lebih mudah berkarya dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Di sinilah peran penting seorang wanita terlihat. Seorang wanita yang sukses adalah yang berhasil menjalankan perannya di keluarga, bukan hanya meraih kesuksesan dalam karirnya. Dari keluarga yang kuat itu, akan muncul pria-pria yang lebih prima dalam berkarya, atau anak-anak yang tekun belajar untuk meraih cita-cita bagi bangsa dan negara.