Kesehatan

Kenali Hipertensi Sedini Mungkin

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Resiko Hipertensi di Indonesia termasuk tinggi, perubahan gaya hidup menyebabkan peningkatan prevalensi Hipertensi, pola diet dan kebiasaan berolahraga dapat menenstabilkan tekanan darah. Karena tidak menghindari dan tidak mengetahui faktor risiko Hipertensi, sehingga mereka cenderung untuk menjadi hipertensi berat, sebanyak 50% di antara orang dewasa.

 

Penderita hipertensi tidak menyadari sebagai penderita hipertensi. Penyakit hipertensi telah menjadi masalah utama dalam kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia maupun dibeberapa negara yang ada di dunia, Insiden hipertensi di Arnerika tahun 1999-2000 pada orang dewasa sekitar 29-31% dan diperkirakan sekitar 80 % kenaikan kasus hipertensi terutama di negara berkembang.

 

Penyakit hipertensi adalah peningkatan abnormal tekanan darah, baik tekanan darah sistolik maupun tekanan darah diastolik, secara umum seseorang dikatakan menderita hipertensi jika tekanan darah sistolik/diastolik > 140/90 mmHg (normalnya 120/80 mmHg). Penyakit hipertensi di Indonesia akan terus mengalami kenaikan insiden dan prevalensi, berkaitan erat dengan perubahan gaya hidup, mengkonsumsi makanan tinggi lernak, kolesterol, penurunan aktivitas fisik, kenaikan kejadianstres dan lain-lain.

 

Penyakit hipertensi menimbulkan kecacatan permanen, kematian mendadak dan yang berakibat sangat fatal. Untuk meningkatkan kualitas hidup agar tidak menimbulkan masalah di masyarakat perlu upaya pencegahan dan penanggulangan hipertensi dimulai dengan meningkatkan kesadaran masyarakat dan perubahan pola hidup ke arah yang lebih sehat. Kesadaran di masyarakat dapat dimulai dari diri kita sendiri, kemudian pada lingkungan terdekat, hingga akhirnya pada masyarkat.

 

Pola makan akan mempengaruhi kesehatan terutama pembuluh darah dan jantung, kebiasaan masyarakat Sumatra Barat mengkonsumsi makanan kolesterol lebih tinggi, budaya makan masyarakat dengan masakan yang enak-enak, sering mengkonsumsi daging sapi berupa rendang, lemak jenuh tinggi (otak, paru, minyak) sehingga masyarakat Suku Minangjauh lebih banyak punya potensi menderita penyakit hipertensi, jantung koroner, penyakit stroke dari pada suku-suku lain di Indonesia, dan pola diet yang berpotensi penyakit hipertensi berupa kebiasaan makan yang bertentangan dengan program gizi, misalnya dalam menu jarang ditemui sayuran.

 

Beberapa penelitian yang mempunyai faktor yang berhubungan dengan hipertensi menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi buah dan sayur dengan kejadian hipertensi. Terdapat hubungan peningkatan konsumsi sayur dan buah, dengan penurunan konsumsi lemak pangan, disertai dengan penurunan konsumsi lemak total dan lemak jenuh, dapat menurunkan tekanan darah.

 

Para ahli umumnya bersepakat bahwa faktor resiko yang utama meningkatnya hipertensi adalah perilaku atau gaya hidup (life style), prilaku di Indonesia pada umumnya kurang makan buah dan sayur 93,6 % dan 24,5 % yang berusia di atas 10 tahun mengkonsumsi makanan asin setiap hari, ini merupakan salah satu penyebab dan faktor resiko meningkatnya penderita hipertensi.

 

Gaya hidup modern membuat berkurangnya aktivitas fisik (olahraga), gaya hidup serba cepat menuntut segala sesuatunya serba instan, kebiasaan menyantap makanan instan, cendrung menggunakan zat pengawet seperti natrium benzoate dan penyedap rasa seperti Monosodium Glutamate (MSG) yang telah menggantikan bahan makanan segar, apabila asupan natrium, kalium berlebihan, perilaku tersebut merupakan pemicu naiknya tekanan darah.

 

Tidak terkontrolnya tekanan darah disebabkan tidak melakukan pola diet yang baik, kebanyakan dari mereka yang tidak bisa menghindari kebiasaan mengkonsuinsi lemak jenuh, karena mereka sudah terbiasa dengan makanan yang mengandung lemak jenuh. Kebiasaan konsumsi gorengan, santan yang pekat, daging sapi, otak, jeroan mempunyai faktor resiko terbukti berhubungan dengan kejadian hipertensi. Kebiasaan sering mengkonsumsi lemak jenuh erat kaitannya dengan peningkatan berat badan yang berisiko terjadinya hipertensi. Selain itu mereka tidak menyadari bahwa kebiasaan mengkonsumsi garam atau mengkonsumsi asin merupakan faktor risiko terjadinya hipertensi. Kebanyakan dari mereka juga tidak bisa menghindari kebiasaan mengkonsumsi garam karena mereka sudah terbiasa masak dengan menggunakan garam dan MSG.

 

Maka dari itu perlu untuk mulai membiasaka diri dengan pola hidup sehat. Pola hidup sehat dapat kita mulai dari konsumsi makanan harian kita. Kita berusaha untuk mengubah perilaku meskipun mungkin sulit, tapi tenang hal ini pasti bisa. Perubahan akan dapat terjadi bila ada niat yang kuat serta upaya bentuk nyata dari tindakan yang dilakukan.