1
Serba-serbi Ramadhan

Ternyata Ini Keutamaan Puasa Nisfu Sya’ban

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr
Advertisements
webinar umroh.com

Umroh.com – Bulan Sya’ban menjadi penanda bahwa kita akan segera kedatangan tamu istimewa yakni bulan Ramadhan. Sebagai bekal untuk meningkatkan amal ibadah di bulan Sya’ban, mari kita mengkaji seputar Sya’ban ini.

Bulan Sya’ban memiliki keistimewaan dari bulan lainnya yaitu waktu dinaikkan berbagai amalan manusia ke langit. Ada hadits dari Usamah bin Zaid yang menanyakan alasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat melakukan puasa di bulan Sya’ban.

Baca juga: Inilah Pengertian Malam Nisfu Sya’ban

“Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, bulan Sya’ban – bulan antara Rajab dan Ramadan – adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An-Nasa’i no. 2359). Al-Hafizh Abu Thahir menyebut hadits ini hasan.

Keutamaan Puasa Nisfu Sya’ban

Syeikh Nawawi Al Bantani dalam Nihayatuz Zain menjelaskan sebagai berikut.

“Bulan paling utama adalah Ramadan, kemudian Muharram, lalu Rajab, selanjutnya Zulhijah, kemudian Zulqa’dah, lalu Sya’ban. Ucapan mereka dilihat secara zahir mengatakan bahwa pada bulan selain yang disebutkan kesunahannya sama.”

1. Diampuni dosanya

Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki dalam Ma Dza fi Sya’ban menjelaskan pada malam-malam Nisfu Sya’ban, Allah mengampuni dosa setiap hamba yang memohon ampunan, mengasihi mereka yang memohon kasih, menjawab setiap doa, meringankan penderitaan orang susah, dan membebaskan orang dari neraka.

2. Dianjurkan berpuasa dan banyak bedoa

Karena itulah sangat dianjurkan untuk menjalankan amalan ibadah sunah sebagai bekal merayakan malam Nisfu Sya’ban. Adapun amalan yang paling lazim dikerjakan adalah puasa sunah di siang hari. Untuk menghidupkan malamnya, dapat dengan memperbanyak ibadah dan doa, baik sendiri maupun berjamaah.

webinar umroh.com

Hanya di Umroh.com, Anda akan mendapatkan tabungan umroh hingga jutaan rupiah! Yuk download aplikasinya sekarang juga!

Untuk diketahui, bulan Sya’ban adalah bulan saat Nabi Muhammad SAW melakukan puasa sunnah yang terbanyak. Di bulan-bulan lain, Nabi tidak melakukan puasa (sunnah) sebanyak di bulan Sya’ban. Meski demikian tak ada kejelasan tepatnya berapa hari yang disunnahkan berpuasa.

Perbedaan Pendapat Mengenai Puasa Nisfu Sya’ban

Ada perbedaan pendapat dari para ulama. Adapun diantaranya ada yang memakruhkan puasa pada paruh kedua (setelah tanggal 15) Sya’ban dan ada yang tidak. Perbedaan ini terjadi dikarenakan adanya 2 hadits yang berbeda. Kelompok yang memakruhkan menggunakan hadis: “Tiada puasa setelah separuh dari Sya’ban hingga masuk Ramadan.”

Sementara yang tidak memakruhkan mendasarkan pada beberapa hadis di antaranya yang diriwayatkan dari Umi Salmah: “Saya tak pernah melihat Rasulullah puasa dua bulan berturut-turut kecuali di bulan Sya’ban dan Ramadan.”

Dalam redaksi lain: “Tidak pernah Rasulullah melakukan puasa sunnah sebulan penuh kecuali di bulan Sya’ban.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah). Dan dalam redaksinya Ibnu Majah: “Nabi pernah puasa (penuh) di bulan Sya’ban dan Ramadan.”

Ada ulama yang menganggap dhaif hadis yang memakruhkan puasa di paruh kedua Sya’ban. Karena ada hadits lain yang melarang puasa sehari-dua hari sebelum Ramadan. Tujuannya untuk menghindari hari “syak” (hari yang mendekati Ramadan, belum diketahui dengan jelas kapan akhir Sya’ban dan awal Ramadan).

Hikmah Puasa Sya’ban

Tentang hikmah dianjurkannya puasa di bulan Sya’ban, terdapat kalangan ulama yang berselisih pendapat mengingat adanya banyak riwayat tentang puasa ini.

Pendapat yang paling kuat adalah keterangan yang sesuai dengan hadis dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya: “Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana Anda berpuasa di bulan Sya’ban?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.” (HR. An Nasa’i, Ahmad, dan sanadnya dihasankan Syaikh Al Albani)

Tak hanya menjadi tamu Allah, umroh juga melancarkan rezeki Anda. Yuk temukan paketnya cuma di Umroh.com!

[xyz-ihs snippet="Iframe-Package"] 

Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban

Tentang status keutamaan malam nishfu Sya’ban, ada dua pendapat yang saling bertolak belakang dalam masalah ini. Berikut keterangannya:

Pendapat pertama, tidak ada keuatamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban. Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya.

Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadis lemah. Al Hafidz Abu Syamah mengatakan: Al Hafidz Abul Khithab bin Dihyah –dalam kitabnya tentang bulan Sya’ban– mengatakan, “Para ulama ahli hadis dan kritik perawi mengatakan, ‘Tidak terdapat satupun hadis shahih yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban’.” (Al Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, Hal. 33).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga mengingkari adanya keutamaan bulan Sya’ban dan nishfu Sya’ban. Beliau mengatakan, “Terdapat beberapa hadis dhaif tentang keutamaan malam nishfu Sya’ban, yang tidak boleh dijadikan landasan. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat di malam nishfu Sya’ban, semuanya statusnya palsu, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadis).” (At Tahdzir min Al Bida’, Hal. 11)

Pendapat Malam Nisfu Sya’ban

Pendapat kedua, terdapat keutamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban. Pendapat ini berdasarkan hadis shahih dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibn Majah, At Thabrani, dan dishahihkan Al Albani).

Ibn Rajab mengatakan, “Terkait malam nishfu Sya’ban, dulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya, mereka memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu…” (Lathaiful Ma’arif, Hal. 247)

Punya rencana untuk berangkat umroh bersama keluarga? Yuk wujudkan rencana Anda cuma di Umroh.com!

Itulah beberapa penjelasan terkait nifsu sya’ban termasuk keutamaan puasa nisfu sya’ban. Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa memberikan banyak kebaikan. Aamiin!