play-store

Download GRATIS Mobile App

Bisa UMROH GRATIS, Cek Jadwal Sholat dan Al Quran Digital

Unduh
 
1
Sejarah Islam

Jadi Panutan, Ini Kisah Teladan dari Mush’ab bin Umair

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Siapa tak kenal Mush’ab bin Umair? Dia sahabat Rasulullah yang dikenal kharismatik. Pemuda Quraisy terpandang, gagah, berparas tampan, serta berjiwa muda penuh semangat. Para ulama menjulukinya sebagai ‘Seorang warga Mekah dengan nama paling harum’. 

Umroh.com merangkum, Mush’ab terbilang beruntung. Ia tumbuh besar di lingkungan keluarga yang baik, sehingga masa kecil dan remajanya menyenangkan. Bahkan keluarganya disebut memanjakan Mush’ab ketika kecil. Ia hidup berkecukupan hingga tumbuh mempesona menjadi idaman para gadis Quraisy.

Baca juga: Kisah Penaklukan Khaibar yang Begitu Luar Biasa

Perkenalannya dengan Islam berawal saat Mush’ab mendengar tentang Nabi Muhammad SAW. Seorang Quraisy mengatakan kepadanya bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Mush’ab mendengar bahwa Nabi Muhammad SAW senantiasa mengajak masyarakat untuk menyembah hanya kepada Allah. Ia pun tahu lokasi Nabi Muhammad dan pengikutnya biasa berkumpul di bukit Shafa, tepatnya di rumah Arqam bin Abil Arqam. Lokasi paling aman. Jauh dari gangguan dan ancaman kaum kafir Quraisy. 

Kesungguhan Mush’ab Mengenal Islam dan Menerima Hidayah

Suatu sore, Mush’ab bin Umair melangkah ke rumah Arqam. Ia mengikuti rombongan pengikut Rasulullah dan membaur. Kemudian dia mengambil tempat di dalam pertemuan. Saat itulah ia mendengar Rasulullah melantunkan ayat suci Al Quran secara syahdu, sehingga merasuk ke dalam hatinya. Untaian ayat suci membuat Mush’ab terpesona dan mulai jatuh hati pada Islam.

Mau dapat tabungan umroh hingga jutaan rupiah? Yuk download aplikasi di sini!

Setelah memeluk Islam, Mush’ab merasakan kekhawatiran yang besar. Ia khawatir keputusan ini akan membuat ibunya murka. Ibunda Mus’ab, Khunas binti Malik, merupakan sosok wanita yang dikenal tegas dan memiliki karakter yang kuat. Orang-orang Quraisy segan, bahkan takut kepadanya. Kekhawatiran itu membuat Mush’ab akhirnya memutuskan untuk merahasiakan keislamannya. 

Dan Mush’ab rutin mengikuti majelis Rasulullah di rumah Arqam. Di sana dia menemukan kedamaian dalam Islam, hingga keberaniannya untuk menghadapi sang bunda semakin tumbuh. Akhirnya, kabar keislaman Mush’ab sampai kepada ibunya. Berita ini dibawa oleh Utsman bin Thalhah yang melihat Mush’ab memasuki rumah Arqam secara sembunyi-sembunyi. Ditambah, Utsman bin Thalhah melihat Mush’ab shalat sebagaimana Nabi Muhammad SAW.

Ketenangan Mush’ab saat Berhadapan dengan Ibunya

Kabar tersebut membuat Mush’ab harus berhadapan dengan ibunya dan para pembesar Quraisy dalam suatu pertemuan. Dia berdiri di hadapan mereka dengan tenan. Kemudian melantunkan ayat-ayat suci Al Quran. Ibu Mush’ab pun menghampiri anaknya secepat kilat, dan mengangkat tangan hendak menamparnya. Namun saat melihat wajah Mush’ab yang tenang dan bercahaya, timbul belas kasih di hati ibu Mush’ab. 

Tak jadi menampar, sang bunda justru mengurung Mush’ab di sebuah ruangan tersembunyi di dalam rumah. Mush’ab mendekam cukup lama sampai dia mendengar kabar bahwa kaum muslimin hijrah ke Habasyah. 

Keteguhan Hati Mush’ab untuk Ikut Berjuang Bersama Kaum Muslimin

Mush’ab pun mencari cara untuk menyertai kaum muslimin yang mencari perlindungan ke Habasyah. Dan dia sukses mengelabui para penjaga serta ibunya. Akhirnya Mush’ab tinggal di Habasyah bersama kaum muslimin hingga pulang kembali ke Mekah. Saat kaum muslimin mendapat perintah hijrah, Mush’ab juga ikut dalam rombongan. 

Kesediaan Menukar Kesenangan Duniawi dengan Keimanan

Keikutsertaan Mush’ab bersama rombongan kaum muslimin membawa perubahan besar pada dirinya. Mush’ab yang dahulu dikenal tampan dan mempesona dengan pakaian indah, kini menjadi pemuda sederhana yang sering terlihat memakai jubah usang. Para Sahabat yang melihatnya bahkan sampai menitikkan air mata.

Punya rencana untuk pergi umroh bersama keluarga? Anda bisa mewujudkannya dengan mudah di sini!

Ali bin Abi Thalib berkata, “Suatu hari, kami duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Lalu muncul Mush’ab bin Umair dengan mengenakan kain burdah yang kasar dan memiliki tambalan. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau pun menangis teringat akan kenikmatan yang ia dapatkan dahulu (sebelum memeluk Islam) dibandingkan dengan keadaannya sekarang”. 

Tetapi Rasulullah juga memiliki pandangan berbeda. Ditatapnya Mush’ab dengan senyum penuh arti sembari berkata, “Dahulu aku melihat Mush’ab tidak ada yang menandingi dalam memperoleh kebahagiaan dari orang tuanya. Namun kemudian semua itu ditinggalkan demi cintanya kepada Allah dan RasulNya”.

Jadi Panutan, Ini Kisah Teladan dari Mush'ab bin Umair (source pixabay)

Sikapnya menginspirasi kita semua. Mush’ab bin Umair, yang sebelumnya adalah putra dari keluarga kaya dan dipuja-puja, akhirnya rela meninggalkan itu semua. Dia meninggalkan kesenangan duniawi untuk membuktikan keimanannya serta mematuhi perintah Allah dan RasulNya. Mush’ab yang dulu hidup nyaman, rela menghadapi ancaman, siksaan, dan gangguan hingga hidupnya menderita. 

Mendakwahkan Islam dengan Baik

Seiring berjalan waktu, Islam makin berkembang. Rasulullah berhasil mengajak orang-orang Anshar untuk beriman dan berbaiat di bukit Aqabah. Mush’ab pun diutus untuk pergi ke Madinah. Dia menjadi utusan yang mengajarkan Islam kepada orang-orang Anshar di sana. Ia juga bertugas mempersiapkan kota Madinah demi menyambut hijrah Rasulullah dan kaum muslimin Mekah.

Baca juga: Hikmah di Balik Kisah Nabi Sulaiman dan Burung Hud-Hud

Mush’ab yang masih belia, sukses membuat penduduk Madinah bersimpati. Dia melakukannya dengan karunia Allah berupa kecerdasan, keluhuran budi pekerti, serta sifat zuhud, jujur, dan tulus. Hasilnya, penduduk Madinah berbondong-bondong memeluk Islam.  

Dakwah Mush’ab yang Mempesona

Mush’ab berhasil melaksanakan tugas yang diamanahkan. Ia menyampaikan kepada penduduk Madinah, bahwa ada seorang utusan Allah yang akan mengajak umat manusia untuk menyembah hanya padaNya. Hal ini menarik perhatian para penduduk Madinah. Hasilnya, setiap rumah di Madinah pun mulai membicarakan Islam.

Islam kemudian tumbuh dan berkembang di Madinah. Keberadaan Mush’ab juga menjadi perbincangan. Al-Barra bin Azib, melukiskan kesan pertamanya saat bertemu Mush’ab sebagai “Seorang laki-laki, yang aku belum pernah melihat orang seperti dirinya. Seolah-olah dia adalah laki-laki dari kalangan penduduk surga”. 

Wafatnya Mush’ab

Mush’ab menjadi bagian dari pasukan kaum muslimin di Perang Uhud. Ia membawa bendera, dan maju ke medan perang dengan gagah berani. 

Di tengah peperangan, Mush’ab pun syahid. Ia terbunuh oleh tebasan pedang dan tombak dari kaum kafir Quraisy. Rasulullah yang melihat jasadnya menitikkan air mata. Beliau mengenang pemuda Qurasiy yang dahulu dikenal menawan dengan pakaian yang indah, kini terbunuh dengan perawakan kusut dan hanya dibalut sehelai burdah.

Mau dapat kesempatan umroh gratis? Cukup dengan download aplikasinya di sini, mekkah menantimu!

Sambil melayangkan pandang ke arah para syuhada, Rasulullah berseru, “Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi di hari kiamat nanti, bahwa kalian semua adalah syuhada di sisi Allah”.

Kepada Sahabat yang masih hidup, Rasulullah berkata, “Hai manusia, berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam! Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslim pun sampai hari kiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya”.

Facebook Comments