“Aku bodoh”, “aku payah”, “aku tidak bisa apa-apa”. Ada anak-anak yang kerap melampiaskan emosi dengan mengucapkan kalimat negatif untuk dirinya. Ketika mereka berkata demikian, sebagai orang tua tentunya refleks untuk menghentikan kalimat itu. Kita akan sibuk berkata bahwa hal tersebut tidak benar.
Anak yang kerap berkata negatif tentang diri sendiri biasanya mengalami kesulitan yang dipendam. Selain menghentikan kalimat negatifnya, lakukan 5 langkah ini untuk memahami kesulitan di dalam diri yang dialami mereka.
Berempati
Ketika anak mulai berkata negatif tentang dirinya, cobalah untuk memahami apa yang ia rasakan. Dengan berempati, orang tua jadi lebih mudah berkomunikasi dengan anak. Anak akan merasa bahwa orang tuanya tidak akan menghakiminya, sehingga ia lebih mudah percaya untuk bercerita.
Sampaikan kalimat yang menunjukkan bahwa kita memahami apa yang dialaminya. Misalnya ketika ia mulai berkata dirinya bodoh saat mengerjakan matematika, sampaikan padanya “pelajaran matematika-nya sulit sekali, ya, Nak?”. Atau ketika anak merasa frustasi dan menjelek-jelekkan diri sendiri karena gagal dalam sebuah perlombaan, utarakan “Kamu sedih, ya? Mau Bunda peluk?”
Kalimat-kalimat yang menunjukkan empati akan membuat anak sedikit tenang.
Cari Tahu
Setelah menunjukkan empati dan menyampaikan kalimat untuk menunjukkan pemahaman pada emosi anak, cobalah cari tahu mengapa masalah yang dihadapi membuatnya frustasi. Anak-anak mungkin merasa kesulitan untuk menjelaskan situasi yang dihadapinya. Karena itu ia memilih untuk menjelek-jelekkan diri sendiri.
Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang membantu kita dan anak memahami apa yang dihadapinya. Misalnya dengan bertanya, “Apa yang sulit dari pelajaran matematika?”, atau “Coba cerita bagaimana tadi pertandingannya?”.
Bantu Anak untuk Menyusun Kalimat yang Baik
Kalimat negatif yang diutarakan anak sebenarnya merupakan pelampiasan dari apa yang dirasakannya. Hanya saja ia kesulitan untuk memahami situasi, dan menemukan kalimat yang tepat untuk melampiaskannya. Setelah orang tua memahami permasalahan yang dihadapi anak, berikan koreksi pada kalimatnya.
Misalnya ketika ia mengatakan “aku bodoh” saat kesulitan mengerjakan matematika, coba minta anak menggantinya dengan “Pelajaran matematika ini tidak mudah buatku, tapi aku akan terus berusaha belajar”. Atau saat ia mengatakan “aku payah” saat gagal di perlombaan, minta ia untuk menggantinya dengan “kali ini aku belum berhasil. Tapi aku tahu letak kesalahanku. Lain kali aku pasti bisa lebih baik”.
Dengan mengutarakan kalimat yang lebih positif, anak jadi lebih mudah mengendalikan emosinya. Selain itu, ia akan belajar untuk bersikap lebih optimis.
Pandu Anak untuk Menemukan Solusi
Ketika mereka telah memahami permasalahan, mengendalikan diri agar lebih optimis, bantu mereka untuk menemukan solusi menjadi lebih baik. Hindari langsung memberikan solusi. Peran orang tua adalah memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk menstimulasi anak menemukan solusi yang tepat bagi dirinya.
Misalnya orang tua bisa bertanya, “supaya adek lebih paham dengan pelajaran ini, apa ya yang sebaiknya dilakukan?”, atau “supaya lain kali kamu bisa juara, apa yang harus kamu perbaiki dari caramu berlatih?”. Ajukan pertanyaan sampai anak menemukan solusi konkrit untuk dilaksanakan.
Bangkitkan Kepercayaan Diri Anak
Saat telah memahami apa yang dilakukan, bangkitkan kembali semangat dan kepercayaan dalam dirinya. Jelaskan bahwa kegagalan adalah hal yang wajar dialami oleh setiap orang. Dengan kesalahan dan kegagalan yang dialami, mereka jadi belajar untuk menemukan cara menjadi lebih baik.
Orang tua juga bisa mengingatkan mereka saat menghadapi kegagalan. Misalnya mengingatkan bahwa dulu anak tidak menguasai bahasa Inggris, namun lambat laun kemampuannya meningkat. Ingatkan juga agar tidak mudah menjelek-jelekkan diri sendiri dengan kata-kata yang negatif jika menemui kegagalan.
Pendampingan dari orang tua ini akan membuat anak lebih memahami dirinya dan menumbuhkan kepercayaan dirinya.