Muslim Lifestyle Travel

Mengenal Beirut, Lebanon: Paris-nya Timur Tengah

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Dari koloni ke couture, tidak ada kota Timur Tengah lain yang membuktikan diri sebagai pusat seni dan fashion seperti Beirut. Perpaduan Timur dan Barat, tradisi dan modernitas, menjadikan ibu kota Lebanon sebagai julukan: Paris di Timur Tengah. Karena dilanda perang, rakyat Beirut menunjukkan bahwa mereka dapat mengubah tragedi menjadi inovasi budaya.

Sejarah

Nama Paris bergema di dalam kota Beirut tidak hanya karena getaran budayanya, tetapi juga untuk sisa-sisa statusnya sebagai koloni Perancis selama Perang Dunia Kedua. Pada saat itu, Beirut berada di pusat wacana politik dan usaha intelektual. Berakhirnya perang menyaksikan kemerdekaan Lebanon, tetapi momen kebangkitan kebudayaan di dalam masyarakat tidak hilang

Pengaruh

Di sebuah negara yang didefinisikan oleh penjajahan setelah penjajahan, orang Lebanon terus-menerus memerangi masalah identitas dan bentrokan peradaban – sebuah fenomena yang melahirkan perdebatan terus-menerus dan adopsi ideologi dan nilai-nilai baru. Dalam hal itu, pengaruh Prancis jelas terlihat dalam setiap aspek kebudayaan Lebanon.

Mode

Ketika membicarakan dunia mode, tidak ada kota Timur Tengah lainnya yang dapat mendekati  Perancis seperti Beirut. Ibukota Lebanon ini adalah rumah bagi para desainer terkenal dunia seperti Elie Saab, Zuhair Murad, dan Reem Acra. Ini adalah pelopor yang tidak hanya menempatkan Beirut pada peta gaya, tetapi juga terus mendominasi Paris Fashion Week tahun demi tahun.

Gaya hidup

Beirut dipenuhi dengan kafe-kafe bergaya Paris, dan tidak ada kekurangan diskusi intelektual untuk dibicarakan, karena kota ini terus hidup dengan pertunjukan seni, drama, dan malam-malam puisi. Bahkan jalanan dan arsitektur tetap sesuai dengan julukan yang diperolehnya selama bertahun-tahun, dengan beberapa bagian Beirut yang kaya akan pengaruh Prancis.

Ibukota Lebanon adalah bukti keunikan rakyatnya.

Kota ini terus membuktikan diri sebagai pusat inovasi budaya Timur Tengah. Karena dilanda perang dan lelah, rakyat Beirut menunjukkan bahwa mereka dapat mengubah setiap tragedi menjadi seni.