play-store

Download GRATIS Mobile App

Bisa UMROH GRATIS, Cek Jadwal Sholat dan Al Quran Digital

Unduh
 
1
Sejarah Islam

Mengenal Sosok Muhammad Al Fatih, Idola Para Remaja

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Runtuhnya kekaisaran Romawi ditandai dengan takluknya Konstantinopel, yang sekarang dikenal sebagai Istanbul. Penaklukan ini tidak lepas dari peran Muhammad Al Fatih, sultan ketujuh dari kekhalifahan Utsmaniyah. Rasulullah pernah berkata,”Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan”. 

Muhammad Al Fatih memiliki gelar Mehmet II. Dan gelar ‘Al Fatih’ yang berarti “Sang Pembebas” juga disematkan kepada namanya. 

Baca juga: Kisah Romantis Shafiyyah binti Abdul Muthalib, Bikin Baper Banget!

Umroh.com merangkum, sejak kecil, Muhammad Al Fatih telah dibentuk untuk menjadi pemimpin yang tangguh. Sultan Murad II percaya bahwa anaknya yang akan menaklukan Konstantinopel. Selain menerima didikan dari ayahnya, beliau juga mendapat bimbingan dari ulama-ulama besar. Tak heran beliau menguasai berbagai ilmu dan bahasa, hingga strategi perang. 

Kesholehan Al Fatih Membuatnya Mencapai Kesuksesan Besar 

Ilmu dari para ulama membuat Muhammad Al Fatih tumbuh dengan kedekatan kepada Allah. Walaupun lahir di kalangan penguasa, Muhammad Al Fatih tetap giat beribadah. Bahkan di saat genting, ia tetap menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim.  

Mau punya kesempatan umroh gratis? Yuk download aplikasinya di sini, mekkah ada di depan mata Anda!

Dengan bekal ilmu dari guru-gurunya, Al Fatih selalu diingatkan bahwa sikap tawakal dan pasrah kepada Allah merupakan modal utama sebagai pemimpin. Dari guru-gurunya, Al Fatih belajar bahwa segala bentuk kemenangan berasal dari Allah. 

Muhammad Al Fatih adalah pemuda taat yang tidak pernah meninggalkan shalat wajib, tahajud, dan rawatib sejak baligh hingga wafat. Kesholehan ini juga ditularkan kepada para pasukannya. Mereka disebut tidak pernah melalaikan shalat wajib. Bahkan separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan shalat tahajud. Al Fatih sering berkeliling di malam hari untuk memeriksa pasukan dan rakyatnya. Ia ingin memastikan bahwa mereka melaksanakan shalat malam.

Populer sebagai pemuda cemerlang dengan beragam pencapaian, ternyata rahasia Muhammad Al Fatih adalah shalat tahajud. Ia dikenal sebagai pemuda yang sangat rajin dan kuat melaksanakan shalat tahajud sepanjang malam, dan bahkan ibadah itu dilakukannya setiap hari. Lewat shalat tahajud, Muhammad Al Fatih menjadi dekat dengan Allah, Dzat Maha Kuasa yang memberikannya kekuatan untuk menaklukan tantangan yang ada di hadapannya.  

Al Fatih juga pengagum sosok Rasulullah SAW, Umar bin Khattab, Khalid bin Walid, dan para Sahabat Nabi lainnya. Kisah-kisah mereka menjadi ilmu yang membekalinya dengan segala kebaikan pemimpin-pemimpin hebat. Al Fatih mampu menyerap hikmah dari setiap kisah, mendalami pemikiran para pemimpin tersebut, sampai melanjutkan perjuangan mereka, sehingga tidak kembali ke titik nol.

Memiliki Kecerdasan yang Memukau 

Di usia belia, Muhammad Al Fatih sudah mempelajari Al Quran, Hadist, Fiqih, serta ilmu-ilmu modern lain seperti ilmu falak, sejarah, pendidikan militer, astronomi, dan sebagainya.  

Beliau juga belajar beragam bahasa. Mulai dari bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani dipelajarinya. Hingga usia 21 tahun, beliau sudah menguasai dan lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani.

Punya rencana untuk pergi umroh bersama keluarga? Yuk pilih paket umrohnya di sini, dijamin harganya pas di kantong

Segala ilmu yang dimilikinya membentuk Al Fatih menjadi seorang yang cerdas. Ia mampu menghasilkan strategi perang yang cemerlang, bahkan sering membuat musuh-musuhnya terkejut. Taktiknya juga seringkali menjadi jalan kemenangan. Tak heran, di usia 21 tahun ia berhasil memimpin pasukan untuk merebut Konstantinopel.

Kala itu, Konstantinopel dikenal sebagai kota dengan benteng pertahanan yang kokoh, sehingga sulit ditembus. Penaklukan yang dilakukan bersama pasukannya menjadi bukti dari hadist Rasulullah.  

Tidak Gentar Melawan Musuh 

Muhammad Al Fatih memiliki keberanian yang luar biasa. Salah satu cerita tentang keberanian Sultan Al Fatih adalah saat ia dan pasukannya sedang bertempur di wilayah Balkan. Ia dan pasukannya saat itu berhadapan dengan pasukan Bughanda yang dipimpin Steven. Pasukan musuh dibekali dengan meriam yang siap ditembakkan ke arah musuh. 

Ketika melihat moncong meriam yang diarahkan kepadanya dan pasukannya, A Fatih memberi semangat dengan berteriak lantang, “Wahai pasukan mujahidin, jadilah kalian tentara Allah, dan hendaklah ada dalam dada kalian semangat Islam yang membara”. Semangat yang membara membuatnya berani memacu kuda dan menghunus pedangnya ke arah musuh. 

Pemimpin yang Bijaksana 

Saat menjadi pemimpin, Al Fatih memperlakukan rakyatnya dengan baik, tanpa kecuali. Kepada para ahli kitab, ia juga memperlakukan mereka dengan baik sesuai syariat. Tidak pernah Al Fatih berbuat jahat kepada orang dari kalangan Nasrani. Kepada para pemimpin agama lain, Al Fatih selalu menunjukkan sikap yang baik. Dalam memimpin, ia memiliki keyakinan, ‘Keadilan sebagai pondasi kekuasaan”. 

Dengan segala keistimewaan yang dimilikinya, Al Fatih selalu menjaga diri dari sikap sombong. Sikap ini dipelajari dari guru-gurunya, yang mengingatkan agar ia tidak menjadi orang yang terlalu berbangga diri. Gurunya senantiasa mengajarkan sikap rendah hati, sehingga setiap pencapaian tidak membuatnya takabur. Jika mengalami kekalahan, ia juga menyikapinya sebagai jalan untuk mencari yang lebih baik. 

Muhammad Al Fatih dikenal dengan sifatnya yang tegas namun lembut. Ia tegas terhadap musuh-musuhnya, namun lembut terhadap rakyat yang dipimpinnya.  

Baca juga: Tak Ada yang Menyangka, Ternyata Ini Isi Segelas Air yang Diberikan Aisyah ke Rasulullah

Beliau wafat di usia 52 tahun karena sakit keras ketika dalam perjalanan jihad di Istanbul. Sebelum wafat, ia berpesan kepada anak-anak dan Sultan Bayazid II yang dijadikan penerus tahta. Isi wasiatnya adalah agar mereka selalu dekat dengan para ulama, selalu berbuat adil, tidak silau dengan harta, serta menjaga agama Islam, baik untuk pribadi, masyarakat, dan kerajaan.

Facebook Comments