News Sejarah Islam

Inilah Sosok Raja yang Ingin Menghancurkan Ka’bah

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Abrahah al Asyram, seorang gubernur raja An-Najasyi di Yaman. An-Najasyi adalah julukan bagi raja Habasyah. An-Najasyi di sini bukan yang pernah dikirimi surat oleh Nabi Muhammad SAW dan pelindung bagi gerakan umat Islam.

Raja Abrahah adalah raja negeri Habasyah di Yaman

Baca juga: 10 Fakta Menarik tentang Ka’bah

Pada saat itu Ka’bah telah dibangun oleh Nabi Ibrahim dan sudah banyak didatangi oleh banyak orang. Mulai dari orang-orang Arab hingga orang dari berbagai penjuru dunia. Mereka datang ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji atau umrah. Melihat hal tersebut membuat hati Abrahah iri. Oleh karena itu, terlintas dalam pikirannya untuk menyaingi Mekkah, agar tidak ada lagi orang-orang yang dapat mengunjungi Ka’bah.

Baca juga: Ingin Melihat Ka’bah Secara Langsung? Cara Mudahnya di Sini

Ketika itu Abrahah membangun katedral yang besar di San’a, Yaman bernama Gereja Al Qullais yang artinya menjulang tinggi. Setelah pembangunan selesai, Abrahah memberikan informasi dan mengajak orang-orang Arab untuk melakukan ibadah haji di Yaman dan tidak mengunjungi Ka’bah lagi. Kejadian itu sampai menjadi pembicaraan orang-orang Arab dan keturunan Bani Kinanah, lalu menurunkan beberapa suku lagi seperti Bani Quraisy. Seorang laki-laki dari Bani Kinanah mengunjungi kota San’a di Yaman. Dia melakukan perjalanan menuju Gereja Al Qullais dan memasukinya malam hari.

raja penghancur ka'bah
source: shutterstock

Abrahah menerima kabar mengenai peristiwa tersebut dan adanya kerusakan di Al Qullais yang disebabkan oleh orang Arab. Hal tersebut membuat Abrahah sangat marah dan memutuskan untuk menghancurkan Ka’bah. Abrahah langsung memimpin sebuah pasukan tentara yang berjumlah 60.000. Penyerbuan Mekkah ini menggunakan gajah sebagai alat kendaraan mereka, sehingga tahun itu disebut oleh sejarawan sebagai tahun gajah.

Ketika orang-orang Arab mendengar kabar bahwa Ka’bah akan dihancurkan, mereka sangat ketakutan. Tidak ada yang bisa mengalahkan pasukan Abrahah. Sesampainya di tempat Al-Maghmas, mereka merampas harta milik orang-orang Quraisy yang diantaranya 200 ekor unta milik Abdul Muttalib, kakek Nabi Muhammad SAW. Abrahah memberikan perintah kepada Hanathah Al-Himyari agar menangkap orang Quraisy yang paling terhormat untuk menghadap kepadanya. Datanglah Hanathah Al-Himyari bersama Abdul Muttalib, Abrahah langsung memberikan penghormatan.

Adanya perbincangan antara Abdul Muttalib dengan Abrahah, lalu dikembalikannya unta-unta milik Abdul Muttalib. Saat kembali, Abdul Muttalib memerintahkan semua penduduk Mekkah untuk bersembunyi di wilayah-wilayah pegunungan. Sementara, Ka’bah tetap berdiri dan tidak ada yang bisa melindungi Ka’bah. Abdul Muttalib berdoa pada Allah SWT di depan Ka’bah sebelum meninggalkan kota, “Ya Allah, kami menyelamatkan diri kami maka lindungilah rumah-Mu ini,”

source: shutterstock

Gubernur Yaman yang Menyerang Ka’bah Bernama Abrahah

Saat itu Abrahah benar-benar ingin menghancurkan Ka’bah. Abrahah mempersiapkan pasukannya untuk melanjutkan perjalannya menuju Mekkah, namun pasukan gajah tersebut tidak mau jalan. Mereka memaksakan gajah-gajah tersebut untuk berjalan dengan memukulinya. Ketika mereka mengarahkan ke arah selain Mekkah, ternyata gajah itu mau berjalan. Tak lama kemudian, datanglah pasukan burung Ababil yang membawa batu-batu dan melemparkan kepada pasukan gajah. Setiap yang terkena batu itu, ia langsung binasa. Allah berfirman “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka sepertin daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS : Al-fil 1-5).

Penyerangan pasukan gajah untuk menghancurkan Ka’bah, gagal total karena atas perlindungan Allah SWT. Seperti yang sudah dijelaskan dalam surat Al-Fil, pasukan-pasukan serta gajah-gajah itu pun berguguran karena dilemparkan batu-batuan. Batu-batuan tersebut terbuat dari lumpur yang dibentuk jadi batu, ada juga yang menafsirkan bahwa batu tersebut adalah batu yang dibakar. Melihat kejadian tersebut, membuat para pasukan dan gajah-gajah menjadi bubar mencari tempat perlindungan. Tidak ada yang selamat dari peristiwa itu, bahkan sebelum menyentuhkan sedikit pun jemari ke Baitullah.

raja penghancur ka'bah
source: shutterstock

Peristiwa pasukan gajah ini terjadi pada bulan Muharram bertepatan dengan akhir Februari atau awal bulan Maret tahun 571 Miladiyah atau sekitar 1,5 bulan sebelum kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Tulis Komentar Anda
Download GRATIS Jadwal Sholat, Al Quran Digital & Voucher Umroh
Klik Disini