play-store

Download GRATIS Mobile App

Bisa UMROH GRATIS, Cek Jadwal Sholat dan Al Quran Digital

Unduh
 
1
Sejarah Islam

Inilah Sosok 4 Ulama Mekkah yang Berasal dari Indonesia

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Umroh.com – Bagi seorang muslim, tentu sudah tidak asing mendengar kata ulama, ulama menurut masyarakat Indonesia adalah dimana seseorang tersebut telah mengajarkan ilmu agama islam dan menyebarkannya melalui dakwah yang dia lakukan. Ada 4 sosok ulama di Mekkah yang berasal dari Indonesia, siapa saja?

Pengertian Ulama

Umroh.com merangkum, istilah ulama itu sendiri adalah merujuk kepada seseorang yang mumpuni dalam bidang ilmu agama, serta memiliki akhlak yang baik dan dapat menjadi teladan hidup bagi masyarakat. Para ulama tentu memiliki sifat-sifat yang mulia lainnya. Ulama juga senantiasa mengisi sendi-sendi kehidupan dengan melakukan segala hal yang positif sehingga berdampak kebaikan juga bagi kalangan masyarakat secara luas. Keberadaan ulama juga dapat mendatangkan rahmat, karena dengan adanya ulama maka para ulama akan merangkul dan memberikan ilmu pengetahuan agama islam lebih luas lagi melalui dakwah yang dibawakannya. 

Baca juga: Potret Keindahan Jabal Rahmah, Primadona Kota Mekkah

Untuk menjadi seorang ulama tentu tidaklah mudah, orang tersebut harus memperdalam ilmu agamanya serta mengabdikan diri kepada masyarakat dan meninggalkan segala keburukan yang ada di bumi, seperti 4 ulama yang berasal dari Indonesia ini yang berhasil menjadi ulama di negara Mekkah.

Empat ulama yang berasal dari Indonesia

1. Syekh Abdus Samad Al-Palimbani (Sumatera)

Abdus Samad Al-Palimbani dilahirkan pada 1116 H/1704 M di Palembang. Beliau mendapatakan pendidikan dasar dari ayahnya sendiri. Nama ayahnya adalah Syeikh Abdul Jalil. Kemudian ayahnya tersebut mengantarkan semua anaknya untuk mondok di Negeri Patani. Pada zaman itu negeri Patanilah yang dijadikan tempat untuk menimpa ilmu-ilmu keislaman sistem pondok yang lebih mendalam lagi. 

Mau dapat tabungan umroh hingga jutaan rupiah? Yuk download aplikasinya di sini sekarang juga!

Sistem pengajian di pondok Patani pada saat itu sangat terikat dengan hafalan matan ilmu-ilmu Arabiyah yang terkenal dengan ‘ilmu alat dua belas’. Sewaktu masih di Patani lagi, Syeikh Abdus Shamad telah dipandang alim, kerana dia adalah sebagai kepala thalaah (tutor), menurut istilah pengajian pondok. Namun ayahnya berusaha mengantar anak-anaknya melanjutkan pelajarannya ke Mekkah. Memang merupakan satu tradisi pada zaman itu walau bagaimana banyak ilmu pengetahuan seseorang belumlah di pandang memadai, jika tak sempat mengambil barakah di Mekkah dan Madinah kepada para ulama yang dipandang Wali Allah di tempat pertama lahirnya agama Islam itu.

Dia selalu mengingatkan akan bahaya kesesatan yang diakibatkan oleh aliran-aliran tarekat tersebut, khususnya tarekat Wujudiyah Mulhid yang terbukti telah membawa banyak kesesatan di Aceh. 

Untuk mencegah apa yang diperingatkannya itu, Syeikh Al-Palembani menulis intisari dua kitab karangan ulama dan ahli falsafah agung abad pertengahan, Imam Al-Ghazali, yaitu 

  • kitab Lubab Ihya´ Ulumud Diin (Intisari Ihya´ Ulumud Diin)
  • Bidayah Al-Hidayah (Awal Bagi Suatu Hidayah).

2. Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Kalimantan)

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812) merupakan seorang dai yang termasyhur dari daerah tersebut. Dia lahir pada awal abad ke-18 di wilayah yang sekarang bernama Martapura. Gelar di belakang namanya menunjukkan daerah asal sang syekh, yakni Kesultanan Banjar. Arsyad juga mengabdikan dirinya disebuah istana, pada usia 7 tahun. Kala berusia 30 tahun, Arsyad menikah dengan Bajut, seorang perempuan lokal. Pasangan muda ini dikaruniai seorang anak perempuan. Sementara itu, keinginan Arsyad kian besar untuk belajar ke Tanah Suci. Sang istri pun mendukungnya. Pihak istana kemudian membiayai Arsyad untuk naik haji pada tahun 1739. Pada saat itu dia banyak belajar dari para syekh di Mekkah. 

Di Masjid al-Haram, dia belajar pada sejumlah guru besar. Mereka antara lain, Syekh Ahmad bin Abdul Mun’im ad-Damanhuri, Syekh Muhammad Murtadha bin Muhammad az-Zabidi, dan Syekh Hasan bin Ahmad al-Yamani. Syekh Muhammad Arsyad juga giat menulis. Beberapa karyanya membicarakan masalah-masalah fiqih mazhab Syafii dan tasawuf. Karya-karyanya yang kerap diulas mendalam adalah 

  • Sabi al-Muhtadin li at-Tafaqquh fi Amriddin
  • Kitab Kanz al-Makrifah
  • Kitab Ushuluddin, Kitab Nuqtatul Ajlan
  • Tuhfat al-Raghibin, Luqtat al-’Ijlan fi Bayan al-Haid wa Istihada wa Nifas al-Niswan, dan masih banyak lainnya. 

Jadilah tamu Allah dengan memilih paket umroh cuma di umroh.com!

3. Syekh Abdul Wahab Bugis (Sulawesi)

Abdul Wahab dilahirkan antara tahun 1725-1735 M, mengingat usianya yang lebih muda dibandingkan dengan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang dilahirkan pada tahun 1710 M. Abdul Wahab dikenal sebagai salah seorang dari tokoh “empat serangkai”, yakni Syekh Abdurrahman al-Misri, Syekh Abdus Samad al-Palimbani, dan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, yang memiliki akhlak dan kepribadian sebagaimana akhlak dan kepribadian yang dimiliki oleh tokoh empat serangkai lainnya.

Punya keinginan untuk bisa berangkat umroh tanpa biaya? Yuk download aplikasinya di sini sekarang juga!

Menurut riwayat, selama di kota Madinah, “empat serangkai” juga belajar Ilmu Tasawuf kepada Syekh Muhammad bin Abdul Karim Samman al-Madani, seorang ulama besar dan Wali Quthub di Madinah, sehingga akhirnya mereka berempat mendapat gelar dan ijazah khalifah dalam tarekat Sammaniyah Khalwatiyah.  Syekh Abdul Wahab dianggap sebagai tokoh penting dalam jaringan ulama Nusantara pada abad ke-18 dan ke-19 karena keterlibatannya secara sosial maupun intelektual dalam jaringan ulama tersebut. Ketokohannya diakui dan dapat dilihat dari gelar syekh yang beliau sandang.

Di samping Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari sebagai motor penggerak utama kegiatan dakwah Islam di Tanah Banjar, Abdul Wahab juga memiliki peran yang sangat penting dalam mengembangkan Islam di Tanah Banjar, mengingat kedudukan dan figur Abdul Wahab sebagai seorang ulama yang dikenal alim dan sekian lama menuntut ilmu di Mesir dan daerah Timur Tengah.

4. Syekh Abdurrahman Mashri (Tanah Jawa)

Pada abad ke-18 dan 19 sudah banyak orang Betawi yang melakukan ibadah haji ke Mekkah. Jumlah jama’ah haji dari Betawi cukup besar jumlahnya di antara seluruh jama’ah haji yang datang dari Jawa.  Tidak sedikit di antara jama’ah haji itu yang akhirnya bermukim dan belajar bertahun-tahun di Makkah dan bahkan ada yang wafat di sana. Jama’ah haji yang bermukim di Makkah memakai nama famili yang mengacu kepada daerah asalnya, seperti Al-Minangkabawi (Minangkabau), Al-Singkili (Ningkel), Al-Jawi (Jawa), Al-Bantani (Banten) dan Al-Batawi (Betawi). 

Punya rencana untuk berangkat umroh bersama keluarga? Yuk wujudkan rencana Anda cuma di umroh.com!

Sebelum kembali ke Betawi, karena merasa belum mendapat pengetahuan yang memadai, Abdurahman Al-Batawi bersama dengan Muhammad Arsyad dan Abdul Shamad meminta idzin kepada gurunya, ‘Atha’ Allah Al-Mashri untuk menambah pengetahuan di Kairo. Kendati menghargai niat baik mereka, ‘Atha’ Allah menyarankan agar mereka lebih baik kembali ke Nusantara sebab mereka sudah dianggap memiliki pengetahuan yang lebih dari cukup dan dapat mereka manfaatkan untuk mengajar di tanah air mereka.

Mereka tetap memutuskan pergi ke Kairo tetapi hanya untuk berkunjung bukan untuk belajar. Mungkin sebagai tanda hubungan baik mereka dengan ‘Atha’ Allah dan kunjungan mereka ke Kairo sehingga Abdurahman Al- Batawi menambahkan laqab “Al-Mashri” pada namanya. Hingga akhirnya syekh Abdurrahman pun mengabdikan dirinya di tanah jawa untuk mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat.

Facebook Comments