play-store

Download GRATIS Mobile App

Bisa UMROH GRATIS, Cek Jadwal Sholat dan Al Quran Digital

Unduh
 
1
Doa

Jarang yang Tahu, Inilah Pengertian Syahadat

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Syahadat dikenal sebagai kalimat pembeda identitas antara orang beriman dengan orang tidak beriman. Kalimat ini menjadi ‘pintu masuk’ bagi seseorang yang ingin memeluk Islam. Dua kalimat syahadat bukan kalimat yang rumit. Hanya dua kalimat, namun memiliki makna filosofis dan konsekuensi yang tidak sederhana. Ada kewajiban sebagai seorang muslim bagi mereka yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengaku meyakini dalam hati. Dengan kandungan yang begitu dalam, sebenarnya apakah pengertian syahadat? 

Baca juga: Makna Dua Kalimat Syahadat yang Perlu Diketahui

Pengertian Syahadat 

Secara Bahasa, syahadat adalah pengakuan kesaksian. Pengakuan atas kesaksian iman Islam sebagai rukun Islam yang pertama.

Baca juga: Dengan Aplikasi Ini, Anda Bisa Menerapkan One Day One Juz dengan Mudah

Syahadat berasal dari bahasa Arab, masdar dari ‘syahida’ yang artinya ia telah memberi persaksian. Secara harfiah, syahadat artinya memberikan persaksian, memberikan ikrar setia, atau memberikan pengakuan. Sedangkan pengertian syahadat secara terminologi adalah pernyataan diri segenap jiwa dan raga atas persaksian bahwa Tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. 

pengertian syahadat
source: shutterstock

Pengertian syahadat secara syariat adalah pengakuan, pembenaran, dan keyakinan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah SWT, yang tiada sekutu bagiNya. Syahadat juga merupakan pondasi yang menjadi penentu diterima atau ditolaknya amalan seorang muslim.  

Terdiri dari Dua kalimat 

Syahadat terdiri dari dua kalimat, yaitu: 

  1. Asyhadu an-laa ilaaha illallaah, yang artinya “saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah”. 
  2. Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah, yang artinya “dan saya bersaksi bahwa Nabi muhammad adalah utusan Allah”. 

Syahadat adalah Rukun Islam Pertama 

Syahadat sebagai salah satu dari lima rukun Islam dijelaskan Rasulullah dalam salah satu sabda beliau. Rasulullah berkata, “Islam itu dibangun di atas lima (tiang ataupun rukun): syahadat Laa ilaaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allah ta‘ala) dan Muhammad adalah hamba serta rasulNya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadhan.” 

Baca juga: Apa Manfaat Menjalankan Rukun Syahadat? Ini Penjelasannya

Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz menyatakan bahwa syahadat merupakan rukun Islam yang pertama dan terbesar. Dalam bukunya, juga dijelaskan bahwa ada tujuh syarat syahadat yang harus dipenuhi oleh seorang mukmin. Ketujuh syarat tersebut adalah ilmu, keyakinan, ikhlas, jujur, kecintaan, ketaatan, penerimaan, dan mengingkari sesembahan selain Allah yang Maha Esa (ikhlas).

  1. Ilmu : pengetahuan tentang kalimat syahadat, di mana seseorang mengetahui (dengan hati mereka) bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. 
  2. Yakin : Tidak ada keraguan tentang makna yang terkandung dalam kalimat syahadat, bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. 
  3. Menerima : Bersedia menerima (tidak menentang)bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. 
  4. Taat : Mematuhi perintah Allah dan tuntunan Rasulullah sebagai perwujudan dari tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. 
  5. Jujur : Tidak ada keterpaksaan, keyakinan yang murni datang dari hati bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. 
  6. Ikhlas : Berharap hanya kepada Allah untuk memurnikan amal, dan meninggalkan perilaku syirik sebagai cerminan bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. 
  7. Cinta : Memberikan rasa cinta terhadap apa yang dituntut dan terkandung dalam kalimat syahadat. Selain itu, timbul rasa cinta terhadap orng-orang yang mengamalkan syahadat. 
pengertian syahadat
source: shutterstock

Syahadat adalah Pernyataan yang Penting bagi Orang Mukmin 

Mengucapkan syahadat bukanlah pernyataan yang sepele. Seiring dengan diucapkannya syahadat, ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh seorang muslim. Minimal, ia harus memenuhi kewajiban sebagai seorang muslim. Melaksanakan apa yang Allah perintahkan, dan menjauhi laranganNya. 

Imam An Nawawi menjelaskan bahwa seseorang tidak dianggap mukmin (beriman kepada Allah) kecuali orang yang hatinya meyakini kebenaran Islam dengan seyakin-yakinnya, bersih dari segala keraguan, dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Jika salah satunya tidak ada, maka dia tidak termasuk seorang mukmin, kecuali yang tidak mampu mengucapkan kalimat syahadat karena ada keterbatasan (misalnya tuna wicara atau dalam kondisi sekarat). 

Baca juga: Paket Lengkap Umroh dan Sesuai Budget Ada di Sini

Dalam ajaran Islam, syarat sempurna atau sahnya keimanan seseorang adalah diikrarkan dengan lisan, dibenarkan dalam hati, dan diamalkan dengan perbuatan seluruh anggota tubuh. Sebagaimana penjelasan Imam Hasan Al Bashri, “Sesungguhnya iman bukanlah angan-angan atau pengakuan semata, namun iman adalah keyakinan yang tertancap dalam hati dan dibuktikan dengan amalan-amalan”. Di sinilah pentingnya syahadat agar jangan hanya sebatas ucapan di lisan, namun hati dan seluruh tubuh juga harus mengikutinya dengan keyakinan dan perbuatan. 

pengertian syahadat
source: shutterstock

Syahadat menjadi penentu sah dan tidaknya amal sholeh yang dilakukan oleh seorang hamba. Amal ibadah akan sah dan diterima oleh Allah jika dilakukan hanya karena Allah dan dikerjakan sesuai petunjuk atau sunnah Rasulullah.

Rukun Syahadat

Meyakini Dzat Allah SWT 

Rukun syahadat ini berisi tentang keyakinan bahwa Allah SWT ada. Alam semesta ini ada karena ada Dzat yang menciptakannya, yaitu Allah. Kita bisa melihat keberadaan Allah dari tanda-tanda yang tampak di alam semesta. Seperti keberadaan langit dan bumi, bergantinya siang dan malam, serta air yang mengalir. 

Baca juga: Cari Paket Umroh Anda yang Sesuai Budget di Sini

Tanda-tanda keberadaan Allah ini digambarkan dalam surat Al Baqarah ayat 164. Allah berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih berganti malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sesungguhnya itu adalah tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. 

Baca juga: Sudah Sholat Hari Ini? Yuk Lihat Jadwal Sholatnya di Sini

Allah juga mengajak manusia untuk berpikir tentang keberadaan segala sesuatu yang dilihatnya. Apakah tercipta dengan sendirinya, atau ada Dzat yang menciptakannya. Di surat At Thur ayat 35 dan 36, Allah berfirman, “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri?). Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)”. 

rukun syahadat
source: shutterstock

Allah telah menciptakan langit dan bumi, begitu juga surga dan neraka. Karena itu, kita hendaknya senantiasa merasakan kehadiranNya dan memohon hanya kepadaNya. Orang yang selalu mengingat Allah sambil duduk dan berbaring, atau diam adalah orang yang menggunakan akalnya. Di surat Ali Imran ayat 190-191, Allah berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. 

Meyakini Sifat Allah  

Allah adalah zat yang maha sempurna. Dia memiliki sifat yang sempurna, dan mustahil memiliki sifat kebalikannya. Orang yang sudah mengucapkan syahadat, hendaknya meyakini sifat-sifat sempurna yang melekat padaNya. Ada 20 sifat wajib Allah yang digolongkan menjadi 4, yaitu: 

  • Sifat Nafsiyah, yang berhubungan dengan Dzat Allah. Hanya ada satu, yaitu wujud. 
  • Sifat Salbiyah, yang meniadakan sifat sebaliknya (tidak sesuai atau tidak layak dengan kesempurnaan Dzat Allah). Ada lima sifat Salbiyah, yaitu qidâm, baqâ’, mukhâlafatu lil hawâditsi, qiyâmuhu binafsihi, dan wahdâniyat.
  • Sifat Ma’ani, sifat-sifat abstrak yang wajib ada pada Allah. Ada tujuh sifat Ma’ani, yaitu qudrat, irâdat, ‘ilmu, hayât, sama’, bashar, kalam. 
  • Sifat Ma’nawiyah, yang merupakan kelaziman dari sifat ma’ani. Sifat ma’nawiyah ini tidak bisa berdiri sendiri, karena setiap sifat ma’ani selalu ada sifat ma’nawiyah. Misalnya sifat ‘Ilm, dimana Dzat pemilik sifat tersebut mempunyai kondisi kaunuhu ‘âliman (keberadaannya sebagai Dzat yang berilmu). Sama seperti sifat ma’ani, sifat ma’nawiyah juga ada tujuh. 

Sementara itu, meyakini sifat Allah berarti memiliki keyakinan sebagai berikut: 

  1. Meyakini secara mantap (tanpa ragu) bahwa Allah memiliki sifat kesempurnaan yang layak bagi keagunganNya. 
  2. Meyakini secara mantap (tanpa ragu) bahwa Allah mustahil memiliki segala sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagunganNya. 
  3. Meyakini secara mantap (tanpa ragu) bahwa Allah boleh melakukan atau meninggalkan segala hal yang bersifat jaiz (mimkin), misalnya menghidupkan manusia atau membinasakannya. 
  4. Meyakini Perbuatan Allah SWT 
rukun syahadat
source: shutterstock

Allah memiliki sifat berbeda dengan makhluknya. Karena itu, perbuatan Allah juga berbeda dengan makhlukNya. Para ulama mengajarkan bahwa Allah SWT adalah Dzat Maha Kuasa yang mampu melakukan segala sesuatu tanpa perantara. Tidak seperti manusia yang membutuhkan alat bantu atau perantara, atau bantuan orang lain.  

Allah adalah Dzat yang jika berkata “jadi”, maka jadilah. Sebagaimana firman Allah dalam surat Yasin ayat 82, “Sesungguhnya urusanNya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu”. 

Selain tidak membutuhkan perantara atau bantuan apapun, Allah juga tidak melakukan sesuatu karena adanya kebutuhan. Tidak seperti manusia yang melakukan suatu pekerjaan karena terdorong kebutuhan di baliknya. Misal memasak karena lapar dan harus makan. 

Walaupun tidak didasarkan pada kebutuhan, segala sesuatu yang dilakukan Allah tidak ada yang sia-sia. Semua yang dilakukan Allah pasti ada manfaatnya. Sebagaimana dijelaskan surat Al Mukminun ayat 115, “Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” 

rukun syahadat
source: shutterstock

Meyakini Kebenaran Rasulullah Muhammad SAW 

Orang yang mengucapkan syahadat harus yakin dan mengakui bahwa Nabi Muhammad merupakan utusan Allah. Nabi Muhammad diutus bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Mereka yang mengucapkan syahadat dan mengaku beriman hendaknya senantiasa melaksanakan anjurannya, menaati perintah beliau, dan membenarkan setiap ucapan beliau. 

Mengakui keberadaan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah bukan berarti menyembahnya selayaknya Tuhan yang Maha Kuasa. Mengucapkan syahadat juga berarti mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah manusia, sehingga bukan untuk disembah atau diibadahi.

10 Pembatal Syahadat

Menyekutukan Allah 

Syahadat seseorang akan batal jika seseorang melakukan ibadah kepada selain Allah. Misalnya memohon sesuatu, melakukan ritual ibadah kepada selain Allah. Misalnya menyembelih hewan yang ditujukan untuk jin atau penghuni kubur. Perilaku tersebut disertai dengan keyakinan bahwa objek yang mereka sembah atau ibadahi itu dapat memberikan manfaat, misalnya menolak bala atau memberikan keuntungan tertentu. 

Baca juga: Awali Hari Anda dengan Membaca Al Quran Praktis di Sini

Syirik adalah dosa yang tidak diampuni oleh Allah. Dalam surat An Nisa’ ayat 48, Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. 

Baca juga: Ada Banyak Pilihan Paket Umroh Menarik di Sini

Perbuatan syirik juga bisa menyebabkan seseorang diharamkan masuk surga. Sebagaimana dijelaskan surat Al Maidah ayat 72, “…Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. 

10 pembatal syahadat
source: shutterstock

Menjadikan Sesuatu (Benda atau Makhluk) sebagai Perantara 

Menjadikan benda atau makhluk sebagai perantara antara dirinya dan Allah juga bisa menjadi pembatal syahadat. Biasanya, orang-orang yang melakukan hal itu menganggap bahwa benda atau makhluk tertentu bisa mengabulkan keinginannya dan memberikan syafaat. Misalnya yakin bahwa sebuah jimat bisa memberi keselamatan, cincin bisa memberikan keberuntungan, dan sebagainya.  

Sesungguhnya, tidak ada kekuasaan di alam semesta ini selain dari Allah SWT. Allah berfirman dalam surat Al Isra ayat 56-57, “Katakanlah: “Panggilah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti”. 

Tidak Mengkafirkan Orang Musyrik 

Menolak untuk mengkafirkan orang musyrik, serta membenarkan madzhab mereka, bisa menjadi pembatal syahadat. Sikap seorang muslim hendaknya jelas, yaitu mengakui bahwa orang musyrik adalah kafir. Orang mukmin dilarang meragukan kekufuran mereka, atau berpikir bahwa apa yang mereka yakini adalah benar. Sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…” (QS.Ali Imran: 19). 

10 pembatal syahadat
source: shutterstock

Mengutamakan Hukum Taghut

Dibanding Hukum Allah dan Petunjuk Rasulullah, seseorang tidak lagi dianggap beriman jika meyakini ada petunjuk lain yang lebih sempurna dibanding petunjuk dari Allah dan RasulNya. Misalnya memilih untuk mengikuti hukum taghut. Taghut adalah sesuatu yang disembah selain Allah. Umar bin Khattab mengatakan bahwa taghut merupakan setan. Sementara menurut Ibnu Qayyim, taghut adalah sesuatu yang disembah berlebihan, hingga mengikuti dan menaatinya, bukannya mematuhi hukum yang telah ditetapkan dalam Al Quran dan Sunah. Mematuhi hukum atau aturan dari taghut bisa menjadi pembatal syahadat seseorang. 

Baca juga: Manfaat Jalani Rukun Syahadat

Mereka yang menolak untuk mengikuti petunjuk Allah bisa dibilang sebagai orang yang kafir. Di surat Al Maidah ayat 44, Allah berfirman, “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir”. Di ayat 47, Allah juga berfirman, “Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”. 

Membenci Ajaran Rasulullah 

Orang yang tidak menyukai ajaran Rasulullah, bahkan membencinya, bisa digolongkan sebagai orang kafir. Sesungguhnya, ajaran yang dibawa Rasulullah adalah kebaikan yang akan mendatangkan cinta dan ridha Allah. Orang yang membenci ajaran Rasulullah biasanya lebih memilih untuk melakukan hal yang bisa membuat Allah murka. Inilah yang bisa menjadi penyebab Allah menghapus amal baiknya.  

Baca juga: Wujudkan Impian Anda untuk Umroh Bersama Keluarga, Ini Caranya

Di surat Muhammad ayat 8-9, Allah berfirman, “Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Quran), lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka”. 

10 pembatal syahadat
source: shutterstock

Menghina Agama Islam 

Menggunakan Islam sebagai candaan yang berbau hinaan, atau olok-olok, bisa menjadi pembatal syahadat. Termasuk menghina Allah, Rasulullah, Malaikat, dan para ulama. Selain itu, mengolok-olok ajaran Islam (misalnya ibadah-ibadahnya), serta sunnah-sunnah Rasulullah juga bisa membuat seseorang digolongkan sebagai orang kafir. 

Allah berfirman, “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa” (QS.At Taubah: 65-66). 

Baca juga: Wajib Tahu, Ini Makna Dua Kalimat Syahadat

Melakukan Sihir 

Bermain atau melakukan sihir adalah salah satu pembatal syahadat. Sihir biasa digunakan untuk merubah keadaan hingga merubah perasaan seseorang dengan cara-cara syetan.  

Membantu Kaum Musyrik untuk Memusuhi Orang Islam 

Jika seseorang mengulurkan tangan untuk membantu kaum musyrik memerangi kaum muslim, maka syahadatnya bisa dikatakan telah batal. Orang yang melakukan hal tersebut biasanya lebih suka mencela kaum muslim, dan sering membela kedzaliman orang musyrik. 

Memiliki Keyakinan bahwa Seseorang Boleh Tidak Mengikuti Ajaran Rasulullah 

Berkeyakinan bahwa ajaran Nabi Muhammad boleh ditinggalkan, karena lebih mengutamakan logika, juga bisa menjadi pembatal syahadat. Orang-orang seperti itu biasanya suka merusak sunnah Nabi Muhammad, dengan dalih bahwa Rasulullah adalah manusia biasa yang bisa salah. 

Selain itu, ada juga orang yang melakukan hal tersebut karena tidak semua manusia wajib mengikuti ajaran Nabi. Keyakinan tersebut tidak seharusnya dimiliki oleh seorang muslim, karena Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia. Siapa yang mengingkarinya, berarti telah keluar dari syariat. 

10 pembatal syahadat
source: shutterstock

Di surat Saba’ ayat 28, Allah berfirman yang artinya, “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. 

Berpaling dalam Agama Allah 

Berpaling dari agama Allah berarti tidak mengamalkan perintah Allah, dan tidak berkeinginan mempelajarinya. Tindakan tersebut jelas bisa menjadi pembatal syahadat.


Facebook Comments