1
Muslim Lifestyle

Bukan Masehi, Ini Kalender Tahun Baru Umat Islam

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr
Advertisements
webinar umroh.com

Kalender Hijriyah milik umat islam. Dengan melihatnya, kita akan tahu waktu-waktu ibadah dan peristiwa penting. Pedoman untuk mengetahui waktu pelaksanaan puasa wajib di bulan Ramadhan, musim haji di bulan Dzulhijjah, peringatan Isra Mi’raj, dan sebagainya.

Baca juga: Jangan Lupa, Hal Ini yang Harus Dilakukan saat Muharram

Di penutup bulan Agustus tahun 2019, kita akan memasuki tahun 1441 Hijriyah. Lalu, siapakah yang memulai penggunaan kalender hijriyah? Mengapa bulan Muharram dipilih sebagai bulan pertama? 

Masyarakat Arab Kuno Terbiasa Menggunakan Peristiwa Penting sebagai Penanda Waktu 

Umroh.com merangkum, sebelum kalender Hijriyah dikenal, masyarakat Arab kuno menggunakan peristiwa-peristiwa besar sebagai penanda waktu. Misalnya tahun Fiil (Gajah) ketika Ka’bah diserang tentara gajah Raja Abrahah, atau menandai waktu dengan tahun renovasi Ka’bah. 

Selain peristiwa besar, mereka juga menandai waktu dengan wafatnya seorang tokoh berpengaruh. Misalnya dengan mengatakan delapan tahun sepeninggal Fulan bin Fulan.

tahun baru islam

Pergerakan bulan menjadi penanda waktu-waktu tersebut. Karena itu, tahun yang digunakan masyarakat Arab disebut dengan tahun Qomariyah. 

Kalender Hijriyah Disusun Sejak Masa Khalifah Umar bin Khattab 

Penanggalan tahun Qomariyah digunakan masyarakat Arab sampai dengan masa pemerintahan Abu Bakar As Siddiq. Saat Abu Bakar memimpin, seorang gubernur Yaman mengusulkan dibentuknya penanggalan waktu khusus bagi kaum muslimin. Namun, sistem penanggalan yang teratur mulai direalisasikan sejak pemerintahan Umar bin Khattab.  

Saat itu, umat muslim merasa perlu dibuat sistem penanggalan tersendiri. Tujuannya agar berbagai urusan pemerintahan bisa berjalan dengan baik. 

webinar umroh.com

Baca juga: Jadwal Sholat Terlengkap Ada di Sini

Berawal dari Surat Gubernur Basrah 

Semua bermula ketika Gubernur Basrah, Abu Musa Al Asy’ari, merasa kesulitan untuk mengambil tindakan atas surat perintah dari Umar. Karena tidak ada tanggal pasti yang tercantum. Abu Musa pun tidak mengetahui kapan surat dikirim, dan kapan tindakan tepat harus dilakukan.

Abu Musa kemudian mengirim surat kepada Umar bin Khattab, sang Amirul Mukminin. Melalui surat, Abu Musa mengisyaratkan bahwa surat-surat yang dikirim Umar sebelumnya tidak memiliki tanggal pasti. Abu Musa mencontohkan dengan menceritakan sebuah surat yang dikirim bulan Sya’ban. Namun ia tidak mengetahui Sya’ban yang dimaksud adalah Sya’ban tahun ini atau tahun depan. 

Paragraf dalam surat berbunyi, “Kami telah banyak menerima surat dari Amirul Mukminin, namun kami tidak tahu mana yang harus dilaksanakan. Kami sudah membaca satu perbuatan bertanggal Sya’ban, namun kami tidak tahu Sya’ban mana yang dimaksud. Sya’ban sekarang atau Sya’ban di tahun mendatang?” 

Baca juga: Menabung Pahala di Bulan Muharram Juga Bisa dengan Cara Ini

Umar bin Khattab Berunding dengan Para Sahabat 

Menanggapi surat Abu Musa, Umar bin Khattab juga merasakan perlunya perbaikan masalah penanggalan. Meski tampak sederhana, ternyata masalah penanggalan berdampak besar.  

Umar bin Khattab lalu mengumpulkan para Sahabat untuk berunding. Kepada para Sahabat, ia berujar, “Buatlah sebuah penanggalan tahun agar mereka (orang-orang) mudah mengetahui”. 

Salah seorang Sahabat mengusulkan agar membuat penanggalan Romawi. Usul ini langsung disanggah Sahabat lainnya. Menurut mereka, penanggalan Romawi terlalu panjang, karena telah dimulai sejak zaman Dzulqarnain. 

tahun baru islam

Lalu seorang Sahabat mengusulkan untuk menggunakan penanggalan Persia. Tetapi Sahabat yang lain menunjukkan keengganan. Karena setiap kali Raja Persia berganti, mereka membuang penanggalan Raja sebelumnya. Jadi penanggalan Persia tidak bisa dipakai sebagai patokan waktu yang jelas. 

Sementara riwayat lain menceritakan bahwa saat itu Sahabat mengusulkan untuk menjadikan tahun kelahiran Rasulullah, tahun wafatnya Rasulullah, serta tahun turunnya wahyu pertama di Gua Hira sebagai penanda awal risalah kenabian.

Namun tahun kelahiran nabi atau tahun awal risalah kenabian tidak dapat diambil sebagai patokan. Masih ada perdebatan kapan tanggal pastinya. Sementara mengambil tahun wafatnya Nabi Muhammad sebagai patokan dianggap hanya akan membangkitkan kenangan sedih. Dikhawatirkan akan timbul kesedihan yang berkepanjangan dan nuansa muram di dalam hati setiap umat muslim.

Madinah sebagai Patokan Waktu 

Di tengah perdebatan, Ali bin Abi Thalib mengajukan usul. Ia menyarankan agar kaum Muslimin menggunakan peristiwa hijrahnya Rasulullah ke Madinah sebagai patokan waktu. Akhirnya Umar bin Khattab lebih condong kepada saran Ali bin Abi Thalib dibandingkan saran Sahabat yang lain. Menurutnya, menggunakan tahun hijrahnya Rasulullah sebagai patokan waktu memiliki makna yang baik. Makna tentang terpisahnya kebenaran dan kebathilan.

Baca juga: Keutamaan dalam Bulan Muharram

Mendengar alasan tersebut, para Sahabat pun setuju. Dan terciptalah penanggalan Hijriyah yang digunakan umat Islam.

Penetapan Muharram sebagai Bulan Pertama 

Setelah menetapkan patokan waktu, para Sahabat kemudian berunding untuk menentukan bulan pertama yang akan digunakan sebagai pembuka Tahun Hijriyah. Sebagaimana saat penentuan patokan waktu, ada beragam usulan dari para Sahabat tentang bulan pertama yang akan digunakan.

Ada usul untuk menggunakan Rabiulawal sebagai bulan pertama. Ada juga usul untuk menggunakan bulan Ramadhan. Setelah perundingan panjang, Umar bin Khattab dan para Sahabat sepakat menggunakan bulan Muharram sebagai bulan pertama dalam penanggalan Hijriyah. Alasannya, di bulan ini Rasulullah telah membulatkan keputusan untuk hijrah menuju Madinah.

tahun baru islam

Bulatnya keputusan Rasulullah terjadi setelah peristiwa Bai’at Aqabah. Peristiwa berikrarnya 75 orang Madinah. Mereka berjanji untuk melindungi Rasulullah jika datang ke Madinah. Setelah peristiwa itu, Rasulullah mulai bersiap hijrah. Peristiwa hijrah ke Madinah terjadi di bulan Safar. Kemudian Rasulullah tiba di Madinah pada awal bulan Rabiulawal. 

Baca juga: Puasa Asyura saat Muharram

Perjalanan panjang dalam berhijrah ini mencerminkan perjuangan Rasulullah saat menyebarkan Islam. Inilah momentum yang digunakan untuk menandai kalender hijriyah yang digunakan umat Islam hingga sekarang.

Dengan menggunakan tahun Hijriyah sebagai penanda waktu, seluruh umat Islam akan teringat perjuangan Rasulullah. Sebagaimana ucapan Umar bin Khattab, “Hijrah memisahkan antara yang hak dan yang batil, karena itu jadikanlah catatan sejarah”. 

Sejarah Tahun Baru Islam 

Dirayakannya Tahun Baru Islam merupakan cara untuk mengenang peristiwa hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Dari peristiwa tersebut, umat muslim bisa mengetahui beratnya perjuangan Rasulullah di Mekah yang penuh tantangan dan penolakan. Hingga kemudian Rasulullah hijrah ke Madinah, dimana penduduknya mengenali kebenaran ajaran Rasulullah. 

Sejak Rasulullah hijrah ke Madinah, Islam semakin berkembang pesat, dan kaum muslimin semakin kuat. Seiring berjalannya waktu, mereka yang membenci Islam mulai mendapat hidayah dan berbalik mencintai Islam.

Memperingati Tahun Baru Islam diharapkan bisa membuat setiap muslim mengetahui perjuangan Nabi Muhammad. Selain itu, kita bisa meneladani kekuatan iman beliau yang tetap pantang menyerah dalam menaati perintah Allah dan menyebarkan ajaran tauhid.

Tommy Maulana

Alumni BUMN perbankan yang tertarik berkolaboraksi dalam bidang SEO, Umroh, Marketing Communication, Public Relations, dan Manajemen Bisnis Ritel.