1
Serba-serbi Ramadhan

Tempat – Tempat Ziarah di Madinah yang Bersejarah bagi Umat Islam

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Umroh.com – Kota Madinah Adalah nama yang digunakan Rasulullah untuk mengganti nama kota Yatsrib, yaitu salah satu dari dua kota suci umat Islam yang terletak di Saudi Arabia. Madinah  Al-Munawwarh  merupakan  kota  suci  kedua  Islam  selepas  Mekah Al-Mukarramah. Terletak di sebelah utara kota Mekah. Ia berada di atas ketinggian 625 meter dari paras laut. Tidak lengkap rasanya jika sedang berada disana tidak mengunjngi tempat – tempat ziarah di Madinah.

Tak hanya pesona kota nya yang indah dan menentramkan hati, Madinah pun menjadi salah satu kota favorit jamaah haji maupun umroh sebagai salah satu destinasi tempat ziarah yang wajib dikunjungi selepas ibadah haji maupun umroh. Banyak tempat tempat ziarah di Madinah yang memiliki nilai sejarah serta keindahan yang menakjubkan dan sayang jika dilewatkan begitu saja.

Baca juga : Inilah Adab Komunikasi Pria dan Wanita dalam Islam

8 Tempat – Tempat Ziarah Di Madinah

Berikut daftar nama tempat ziarah di Madinah yang wajib Anda kunjungi.

1. Masjid Nabawi

Wajib kita ketahui bahwa sholat di Masjid Nabawi nilainya sangat tinggi sebagaimana sabda Nabi SAW :

“ Sholat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama 1000 kali dibanding sholat di masjid lainnya kecuali di Masjidil Haram dan sholat di Masjidil Haram lebih utama 100.000 kali sholat daripada masjid lainnya.” (HR. Ahmad Ibnu Huzaimah dan Hakim).

Nabi mendirikan masjid di atas sebidang tanah yang sebagian milik As’ad bin Zurrah diserahkan sebagai wakaf. Sebagian lagi milik anak yatim Sahal dan Suhail anak Amir Bin Amarah dibawah asuhan Mu’adz bin Atrah, waktu membangun masjid Nabi meletakkan batu pertama selanjutnya kedua, ketiga, keempat dan kelima masing-masing oleh sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Kemudian dikerjakan dengan gotong royong sampai selesai.

Masjid tersebut dibuat tahun ke 1 Hijriyah. Di sisi timur masjid dibangun tempat kediaman Nabi dan keluarganya yang kemudian jadi tempat pemakamannya.   Waktu Ziarah ke makam Rasul dan Raudhah Masjid Nabawi berbeda dengan Masjidil Haram Mekah yang terbuka untuk jamaah selama 24 jam, karena Masjid Nabawi hanya dibuka pada jam 03.00 – 22.00 waktu Saudi Arabia, dan waktu untuk ziarah diatur sebagai berikut :

Jamaah haji wanita dapat mengunjungi Raudhah dan ziarah ke makam Rasulullah pada pukul 07.00 s/d 10.00 dan pukul 13.30 s/d 15.00 waktu Saudi Arabia, tempatnya terpisah dengan laki-laki yang dibatasi dengan sekat yang dipasang khusus ketika wanita berziarah.

2. Makam Rasulullah SAW

Makam Nabi Muhammad SAW dahulu dinamakan Masqurah. Setelah masjid itu diperluas, makam ini termasuk di dalam bangunan masjid. Pada bangunan ini terdapat empat buah pintu : Pintu sebelah kiblat dinamai pintu At Taubah. Pintu sebelah timur dinamai pintu Fatimah. Pintu sebelah utara dinamai pintu Tahajjud. Pintu sebelah barat ke Raudhah (sudah ditutup). Dalam ruangan ini terdapat 3 buah makam, yaitu makam Rasulullah SAW, Abu Bakar Assiddiq dan Umar Ibnul Khattab r.a.

Hanya di Umroh.com, Anda akan mendapatkan tabungan umroh hingga jutaan rupiah! Yuk download sekarang juga!

3. Raudhah

Raudhah adalah suatu tempat di dalam Masjid Nabawi yang letaknya ditandai tiang-tiang putih, berada di antara rumah Nabi (sekarang makam Rasulullah SAW) sampai mimbar. Luas Raudhah dari arah timur ke barat sepanjang 22 m dan dari utara ke selatan 15 m. Raudhah adalah tempat yang makbul untuk berdo’a. Sabda Rasulullah SAW : “Antara rumahku dengan mimbarku adalah Raudhah (taman) di antara taman-taman surga.”  (Diriwayatkan 5 orang ahli hadits).

4. Makam Baqi’

Baqi’ adalah tanah kuburan untuk penduduk sejak zaman Jahiliyah sampai sekarang. Jamaah haji yang meninggal di Madinah dimakamkan di Baqi’ letaknya di sebelah timur dari Masjid Nabawi. Di situ dimakamkan Utsman bi Affan r.a, (khalifah III) dan para istri Nabi, yaitu Siti Aisyah r.a, Ummi Salamah, Juwairiyah, Zainab, Hafsah binti Umar bin Khattab dan Mariyah Al Qibtiyah r.a. Putera dan puteri Rasulullah diantaranya Ibrahim, Siti Fatimah, Zainab binti Ummu Kulsum.

Demikian pula Ruqayya Halimatus Sa’diyah ibu susu Rasulullah SAW. Sahabat yang mula-mula dimakamkan di Baqi’ ialah Abu Umamah, Hasan bin Maz’un dari golongan muhajirin. Dikenal dengan nama Baqi’ Al Gorqod karena di sini dahulu kala tumbuh pohon-pohon Gorqod (gerumbul-gerumbul pohon, Gorqod = sejenis pohon-pohon yang berdaun kecil).

Di Baqi’ ini Rasulullah membaca salam / do’a sebagai berikut : “Mudah-mudahan sejahtera atas kamu sekalian wahai (penghuni) tempat kaum yang beriman! Apa yang dijanjikan kepadamu yang masih ditangguhkan besok itu, pasti akan datang kepadamu, dan kami Insya Allah akan menyusulmu. Ya Tuhan! Ampunilah ahli Baqi’ Al-Gorqod. (H.R. Muslim)

5. Masjid Quba

Masjid Quba adalah lokasi peribadatan Umat Islam yang pertama dibangun Rasulullah SAW, saat hijrah ke Madinah. Tepatnya pada tahun 1 Hijriyah atau 622 Masehi. Masjid Quba berlokasi sekitar 5 kilometer (km) di sebelah tenggara Kota Madinah. Berada di kawasan perkampungan bernama Quba. Nama masjid diambil dari nama telaga di masjid tersebut. Masjid ini telah beberapa kali mengalami renovasi sebelum akhirnya seperti kondisi saat ini. 

Di masjid ini pula pertama kali diadakan sholat berjamaah secara terang-terangan. Letak Masjid Quba saat ini berada di sudut perempatan jalan tidak jauh dari jalan baru yang menghubungkan Madinah-Mekah-Jeddah.

Umroh hemat bersama Umroh.com. Kunjungi sekarang juga!

[xyz-ihs snippet="Iframe-Package"]

6. Jabal Uhud (Bukit Uhud)

Jabal Uhud adalah nama sebuah bukit terbesar di Madinah. Letaknya +/- 5 km dari pusat kota Madinah, berada di pinggir jalan lama Madinah-Mekah. Mulai tahun 1984 perjalanan haji dari Mekah ke Madinah atau dari Madinah ke Jeddah tidak melalui jalan lama tersebut, melainkan melalui jalan baru yang tidak melewati pinggir Jabal Uhud.

Di lembah bukit ini pernah terjadi perang dahsyat antara kaum muslimin sebanyak 700 orang melawan kaum musyrikin Mekah sebanyak 3000 orang. Dalam pertempuran tersebut yang gugur sampai 70 orang syuhada, antara lain Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW. Perang Uhud terjadi pada tahun ke-3 H.

Waktu kaum musyrikin Mekah sampai di perbatasan Madinah, umat Islam mengadakan musyawarah bersama para sahabat yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW. Banyak para sahabat mengusulkan agar umat Islam menyongsong kedatangan musuh di luar kota Madinah. Usul ini akhirnya disetujui oleh Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW menempatkan beberapa orang pemanah di atas gunung Uhud, di bawah pimpinan Mash’ab bin Umair untuk mengadakan serangan-serangan bilamana kaum musyrikin mulai menggempur kedudukan umat Islam. Dalam perang yang dahsyat tersebut umat Islam mendapat kemenangan yang gemilang sehingga kaum musyrikin lari pontang-panting.

Pemanah umat Islam yang berada di atas gunung Uhud, setelah melihat barang-barang yang ditinggalkan oleh musuh, ada beberapa yang meninggalkan pos untuk turut mengambil barang-barang tersebut, padahal Nabi telah menginstruksikan agar tidak meninggalkan pos meski apapun yang terjadi. Adanya pengosongan pos oleh pemanah tersebut digunakan oleh Khalid bin Walid (sebelum masuk Islam) seorang ahli strategi yang memimpin tentara berkuda.

Menggerakkan tentaranya kembali guna menyerang sehingga umat Islam mengalami kekalahan yang tidak sedikit yaitu sampai 70 orang sahabat gugur sebagai syuhada. Dalam perang ini Hindun binti ‘Utbah mengupah Wahsyi Alhabsyi, budak Zubair, untuk membunuh Hamzah, karena ayah Hindun dibunuh oleh Hamzah dalam perang Badar.

Begitu pula Zubair bin Mut’im berjanji kepada Wahsyi akan memerdekakannya setelah ia membunuh paman Zubair dalam perang Badar. Nabi Muhammad SAW sendiri dalam peperangan tersebut mendapat luka-luka. Para sahabat-sahabatnya yang menjadi perisai Nabi Muhammad SAW gugur karena badannya penuh dengan anak panah.

Setelah perang usai kaum musyrikin mengundurkan diri kembali ke Mekah, maka nabi Muhammad SAW memerintahkan agar mereka yang gugur dimakamkan ditempat mereka roboh, sehingga ada satu liang kubur berisi beberapa syuhada, kuburan Uhud waktu sekarang dikelilingi tembok.

7. Masjid Qiblatain

Masjid tersebut mula-mula dikenal dengan nama masjid Bani Salamah, karena masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah. Letaknya di tepi jalan menuju kampus Universitas Madinah di dekat Istana Raja ke jurusan Wadi Aqiq. Pada permulaan Islam, orang melakukan sholat dengan menghadap kiblat ke arah Baitul Maqdis di Yerussalem/Palestina.

Pada tahun ke 2 Hijriyah hari Senin bulan Rajab waktu dhuhur di masjid Salamah ini, tiba-tiba turunlah wahyu surat Al Baqarah ayat 144. Dalam sholat tersebut mula-mula Rasulullah SAW menghadap ke arah masjidil Aqsa tetapi setelah turun ayat tersebut di atas, beliau menghentikan sementara, kemudian meneruskan sholat dengan memindahkan arah kiblat menghadap ke Masjidil Haram. Dengan terjadinya peristiwa tersebut maka akhirnya masjid ini diberi nama Masjid Qiblatain yang berarti masjid berkiblat dua.

8. Khandak/Masjid Khamsah

tempat - tempat ziarah di Madinah

Khandak dari segi bahasa berarti parit. Dalam sejarah Islam yang dimaksud Khandak adalah peristiwa penggalian parit pertahanan sehubungan dengan peristiwa pengepungan kota Madinah oleh kafir Quraisy bersama dengan sekutu-sekutunya dari Yahudi Nadir, Bani Ghathfan dan lain-lainnya.

Di saat itulah Rasulullah SAW mendengar kafir Quraisy bersama sekutu-sekutunya akan menggempur kota Madinah, maka Rasulullah SAW bermusyawarah dengan para sahabat-sahabatnya, bagaimana cara menanggulangi penyerangan tersebut.

Pada waktu itu sahabat Nabi, Salman Al Farisi memberikan saran supaya Rasulullah SAW membuat benteng pertahanan berupa parit. Usul tersebut diterima Rasulullah SAW sendiri. Maka digalilah parit pertahanan tersebut di bawah pimpinan Rasulullah SAW sendiri. Peristiwa pengepungan kota Madinah ini terjadi pada bulan Syawal tahun ke lima Hijriyah.

Punya rencana untuk berangkat umroh bersama keluarga? Yuk wujudkan rencana Anda cuma di umroh.com!

Peninggalan perang Khandak yang ada sampai sekarang hanyalah berupa lima buah pos yang dulunya berjumlah tujuh, yang menurut sebagian riwayat tempat tersebut adalah bekas pos penjagaan pada peristiwa Khandak dan sekarang dikenal dengan nama Masjid Sab’ah atau Masjid Khamsah.