umroh.com

Wajib Tahu! Ini Cara Rasulullah Bersikap Santun kepada Para Sahabat

Tommy Maulana3 menit baca

Wajib Tahu! Ini Cara Rasulullah Bersikap Santun kepada Para Sahabat

Dituliskan oleh Prof. Dr. Hamka, Rasulullah SAW tidak pernah berkata kasar kepada orang yang melayaninya, Anas bin Malik. Beliau tidak pernah memukul, kecuali dalam perang. Anas bin Malik bercerita bahwa selama dirinya melayani Rasulullah, tidak pernah sekalipun Rasulullah menghardiknya. Anas juga bercerita bahwa jika ada pekerjaan yang dikerjakannya, tidak pernah Rasulullah mempertanyakannya. Jika ada pekerjaan yang tidak dikerjakan oleh Anas, tidak pernah Rasulullah bertanya mengapa tidak mengerjakannya.

Saat berinteraksi di rumah, Rasulullah juga merupakan seseorang yang sangat lemah lembut. ‘Aisyah bertutur bahwa Rasulullah apabila tinggal di rumah, beliau adalah orang yang sangat lemah lembut, suka tersenyum, dan tertawa. Kepada cucu-cucunya, beliau adalah orang yang sangat lembut sikapnya.

Menyayangi Para Sahabat

Rasulullah juga merupakan seseorang yang selalu berkasih sayang kepada para Sahabat. Tidak pernah beliau berkata hal yang tidak baik. Majelis yang digelar Rasulullah adalah majelis petunjuk dan ilmu. Demikian juga rumahnya, merupakan rumah kebaikan, malu dan budi. Tidak ada orang yang membicarakan keburukan orang lain di majelis atau rumah beliau. Bagi para Sahabat, Rasulullah merupakan orang yang sangat mulia.

Beliau akan memuliakan seseorang yang patut dimuliakan, sesuai dengan sikap, perangai dan agamanya. Mereka yang dimuliakan di sisi Nabi adalah yang luas pemahamannya dan lebih banyak membicarakan nasihat.

Pergaulan dengan Sahabat

Jika ada orang yang berbicara tentang akhirat, Rasulullah akan ikut membicarakannya juga. Kalau ada orang yang berbincang tentang makanan atau minuman, Nabi Muhammad juga akan ikut membicarakannya. Ketika seseorang membicarakan dunia, Rasulullah juga akan ikut membicarakannya, namun dikaitkan dengan Islam dan kepentingan agama.

Namun kepada orang-orang baru yang berkata kasar, Rasulullah senantiasa menerima mereka dengan sabar. Jika ada seorang Sahabat yang mengatakan sesuatu yang tidak beliau setujui, Rasulullah akan mengalihkan pembicaraan kepada orang lain.

Lembut dan Santun

Pernah suatu hari, Rasulullah sedang membagi-bagikan harta rampasan perang dari perang Khaibar. Ada seorang lelaki berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah SAW, hendaklah engkau adil dalam membagi-bagi”.

Mendengar perkataan orang tersebut, Rasulullah berkata, “Wahai (Fulan), kalau sekiranya aku tidak membagikan dengan adil, siapakah lagi yang akan berbuat adil? Kalau aku tidak adil, aku mesti celaka dan rugi”.

Umar, yang juga mendengar percakapan tersebut, merasa sakit hati mendengar perkataan orang tersebut kepada Rasulullah. Umar kemudian berkata kepada Rasul, “Biarkanlah saya memancung leher orang munafik itu”. Rasulullah menjawab Umar, “Berlindunglah kepada Allah. Jangan sampai kelak orang mengatakan bahwa Muhammad SAW membunuh sahabatnya”.

Santun kepada Musuh

Pernah suatu hari, ketika Rasulullah tengah beristirahat di bawah pohon kayu ketika peperangan, seorang kafir datang dan mengacungkan pedang ke kepala Rasulullah. Orang tersebut berkata, “Siapakah yang akan menghambat pedangku ini darimu”. Saat itu, Rasulullah benar-benar sendiri dan para Sahabat sedang berada jauh dari beliau.

Dengan tenang, Rasulullah menjawab, “Allah”. Mendengar jawaban Rasulullah yang menyebut nama Allah, pedang yang digenggam orang tersebut langsung jatuh. Rasulullah kemudian mengambil pedang itu.

Diacungkannya pedang tersebut ke kepala orang kafir itu. Rasulullah balik bertanya, “Siapakah yang akan menghalangiku dari engkau?”. Lelaki itu kemudian menjawab dengan takut, “Tidak seorangpun”. Semakin ketakutan, lelaki itu berkata lagi, “Berbuat baiklah kepadaku, Yaa Muhammad”.

Nabi Muhammad kemudian berkata, “Ucapkanlah tidak ada Tuhan selain Allah (Laa ilaha illallah), dan aku adalah Rasulullah”. Lelaki itu kemudian menjawab, “Tidak. Aku tidak akan mengucapkan kalimat syahadat itu. Aku hanya berjanji kepadamu untuk tidak ikut campur tangan lagi di manapun”.

Rasulullah kemudian berujar, “Baiklah”. Lelaki itu kemudian pergi ke kampungnya. Sesampainya di tempat asalnya, ia berkata kepada orang-orang di sana. “Demi Tuhan, aku kembali dari semulia-mulianya orang”.

Sejarah Islam

Lockdown di Zaman Nabi: Wabah dan Pesan Rasulullah

Umroh.com – Bersamaan dengan semakin meningkatnya jumlah korban virus Corona (baik meninggal maupun positif terinfeksi), muncullah istilah ‘lockdown’. Ternyata kebijakan lockdown sudah pernah diterapkan oleh Rasulullah, walaupun saat itu tidak ada istilah ‘lockdown‘. Lockdown di zaman Nabi Muhammad…

Tommy Maulana

Sejarah Islam

Sejarah Bulan Safar dan Peristiwa Penting yang Terjadi

Umroh.com- Bulan Safar merupakan bulan kedua di penanggalan Islam (kalender hijriyah) setelah bulan Muharram. Bulan ini memiliki sejarah penting bagi masyarakat Arab. Sesuai dengan namanya safar, artinya kosong menjadi bukti sejarah bagi masyrakat arab dahulu yang sering meninggalkan rumahnya…

Annisa Aprinia

Sejarah Islam

Wajib Tahu! Inilah Sejarah Bulan Dzulhijjah

Umroh.com – Rasulullah menyebutkan bahwa salah satu bulan Haram adalah bulan Dzulhijjah. Di balik keistimewaannya sebagai bulan haram, bulan Dzulhijjah menyimpan sejarah tersendiri. Pada artikel kali ini, umroh.com akan mengulas sejarah bulan Dzulhijjah. Selain merupakan bulan Haram, salah satu…

Tommy Maulana