umroh.com

Inilah Cara Agar Lisan Kita Senantiasa Mulia

Redaksi Umroh.com3 menit baca

Lisan Mulia

Salah satu nikmat terbesar bagi setiap manusia adalah lisannya. Tanpa lisan, manusia tak bisa berkata-kata. Sayang, tidak semua manusia memanfaatkan lisannya untuk hal-hal yang berguna. Tak sedikit mereka menggunakan lisannya untuk hal-hal yang sia-sia bahkan mengandung unsur dosa; berkata-kata kotor, keji, berdusta, menggunjing, memfitnah, bersumpah palsu, merayu wanita asing, dsb.

Padahal setiap orang yang dianugerahi nikmat, termasuk nikmat memiliki lisan, pasti akan dimintai pertanggung jawaban. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Kemudian pasti kalian akn ditanya pada hari itu (Hari Kiamat) tentang nikmat (QS at-Takatstsur [102]: 8).

Karena itu sudah selayaknya setiap Muslim memperhatikan, menjaga dan memelihara lisannya. Hendaklah setiap Muslim hanya menggunakan lisannya untuk hal-hal yang bermanfaat dan mendatangkan pahala. Jika tidak sanggup, maka Baginda Rasulullah ﷺ telah memberikan pedoman, “Man kâna yu’minu bilLâh wa al-yawm al-akhir, qul khayran aw liyashmuth (Siapa saja yang mengimani Allah dan Hari Akhir, katakanlah yang baik atau diamlah).” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, Ibn Abbas, sebagaimana dituturkan oleh Said bin Zubair, pernah suatu kali memegang lisannya seraya berkata, “Qul khayran taghnam aw ushmuth taslam qabla an tandam (Hai lisan! Katakanlah yang baik, niscaya kamu beruntung; atau diamlah, niscaya kamu selamat, sebelum kamu menyesal).” (Ahmad bin Hanbal, Fadhâ’il ash-Shahâbah, II,952).

Dalam riwayat lain, sebagaimana disebutkan oleh Said al-Jurairi, bahwa Ibn Abbas pernah berkata sambil memegang lisannya, “Celakalah kamu! Katakanlah yang baik, niscaya kamu beruntung. Diamlah dari berkata-kata buruk, niscaya kamu selamat.” Seseorang lalu berkomentar, “Mengapa Anda berkata demikian?” Ibn Abbas menjawab, “Karena saya pernah mendengar bahwa pada Hari Kiamat nanti, seorang hamba sangat membenci lisannya (karena keburukan lisannya saat di dunia, pen.).” (Al-Asbahani, Hilyah al-Awliyâ’, I/327, Al-Bayhaqi, Syu’ab al-Imân, 7/16).

Kata-kata Iabn Abbas ini selaras dengan sabda Baginda Rasulullah SAW, “Inna aktsara khathâyâ ibn âdam fî lisânihi (Sesungguhnya kesalahan manusia yang paling banyak bersumber dari lisannya).” (Ath-Thabrani, Mu’jam al-Kabîr, X/197)

Karena itulah, agar lisan kita mulia dan jauh dari kehinaan di dunia maupun di akhirat, setidaknya ada tiga hal yang perlu dilakukan:

/Pertama/, Lisan kita banyak digunakan untuk berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Saat Muadz bin Jabbal bertanya kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Lisanmu senantiasa basah karena selalu berzikir kepada Allah.” (Ibn al-Mubarak, Az-Zuhd wa ar-Raqa’iq, I/328).

Seorang Arab pedalaman juga pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Sesungguhnya bagi saya syariah Islam itu banyak jumlahnya. Adakah satu saja yang bisa menghimpun semuanya?” Beliau menjawab, “Lisanmu selalu basah karena senantiasa banyak berzikir kepada Allah.” (HR ath-Thabrani).

/Kedua/, lisan kita digunakan untuk banyak memberikan nasihat kepada sesama. Sebab, sabda Nabi ﷺ, “Ad-Dîn an-Nashîhah (Agama adalah nasihat).” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Nabi ﷺ juga bersabda, “Afdhal ash-Shadaqah shadaqah al-lisân (Sedekah yang paling utama adalah sedekah lisan).” (Asy-Suyuthi, Al-Jâmi’ ash-Shaghîr, I/91). Yang dimaksud di antaranya adalah lisan yang mengandung hidayah yang bisa menyelamatkan penuturnya dan orang lain di akhirat (Al-Munawi, Faydh al-Qadîr, 8/102).

/Ketiga/, Lisan kita digunakan untuk dakwah dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Lisan yang mengandung unsur dakwah adalah lisan terbaik dalam pandangan Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): Siapakah yang lebih baik ucapan (lisan)-nya dibandingkan dengan orang yang berdakwah (menyeru manusia) kepada Allah, beramal shalih dan berkata, “Sesungguhnya aku adalah bagian dari kaum Muslim.” (TQS Fushilat [41] 33).

Demikian pula lisan yang digunakan untuk melakukan amar makruf nahi mungkar, apalagi terhadap para penguasa zalim. Rasulullah ﷺ bersabda, “Afdhal al-jihâd kalimatu haqq[in] ‘inda sulthân jâ’ir[in] (Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kata-kata kebenaran di hadapan penguasa zalim).” (HR ath-Thabrani, al-Baihaqi dan al-Hakim).

Dengan itulah, di antaranya, lisan kita akan menjadi mulia, di dunia maupun di akhirat.

Semua hal yang berkaitan dengan lisan ini berlaku pula untuk tulisan (seperti yang banyak dilakukan oleh banyak orang di media sosial (facebook, BBM, WA, Telegram, dll) akhir-akhir ini. Sebab, sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, “Al-Kitâbah fî mahal al-maqâlah (Tulisan itu sama kedudukannya dengan ucapan [lisan]).”

Karena itu tulisan kita pun, sebagaimana lisan kita, bisa menjadikan kita mulia atau hina, di dunia maupun di akhirat. Semua itu bergantung pada apakah dalam lisan dan tulisan kita terkandung usur zikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala, nasihat, dakwah dan amar makruf nahi mungkar ataukah tidak.

Wa mâ tawfîqi illâ bilLâh. []

Motivasi

Inilah Manfaat Menjadi Orang yang Sabar

Umroh.com – Al Quran, sebagai kitab suci yang Allah turunkan, banyak menyampaikan pesan tentang kesabaran. Misalnya dalam kisah para nabi Allah. Kita banyak memetik pelajaran tentang pentingnya sabar. Seperti kesabaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam menghadapi kaum kafir yang…

Tommy Maulana

Motivasi

Hikmah Investasi Akhirat dengan Pembangunan Masjid

Umroh.com – Bagi setiap muslim, tentu sudah tidak asing lagi mendengar kata masjid, masjid adalah bentuk dari sebuah bangunan yang dibangun untuk dijadikan tempat beribadah bagi para umat muslim di dunia ini, masjid juga menjadi tempat yang suci. Kehidupan di dunia ini hanyalah sementara, oleh…

Redaksi Umroh.com

Motivasi

4 Kriteria Memilih Jodoh yang Baik, Nomor 1 Paling Utama

Memilih seseorang untuk menjadi pendamping yang sesuai dengan kriteria pribadi masing-masing memang tidak mudah. Banyak hal yang dipertimbangkan untuk menentukan siapa orang yang tepat menemani sepanjang hidupnya kelak. Namun Memang, memilih pasangan merupakan urusan perasaan, sehingga ketika…

Redaksi Umroh.com